Friday, November 17, 2017, 11/17/2017 07:11:00 AM WIB
Last Updated 2017-11-17T00:17:34Z
BERITA DAERAHNEWS

Kesenian Topeng Ireng Dan Brondut, Wujud Luapan Rasa Syukur Atas Nikmat Tuhan Bagi Warga Seputar Lereng Gunung Merbabu

Advertisement
Kesenian Brondut Dalam Acara Saparan Dusun Jamusan

Magelang, beritaglobal.net - Dayakan, adalah seni tari kreasi warga masyarakat diseputar lereng Gunung Merbabu. Akulturasi dari gerakan pencak silat dan iringan musik gamelan serta syair puji - pujian islami, membuat tari Dayakan enak ditonton. 

Konon, dikarenakan pencak silat dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda, budayawan lokal momodifikasi pencak silat menjadi seni tari dengan tambahan kostum seperti pakaian suku Dayak serta iringan musik gamelan dan puji - pujian syair islami. Karena kostum tersebut, maka masyarakat mengistilahkan kesenian itu dengan nama Dayakan. 

Dari data dihimpun beritaglobal.net, di era tahun 1960-an, seni Dayakan berubah nama menjadi seni Topeng Ireng, berasal dari kata Toto Lempeng Irama Kenceng. Toto artinya menata, lempeng berarti lurus, irama berarti nada, dan kenceng berarti keras.

Tradisi ini masih terus dilestarikan hingga sekarang, untuk mewujudkan rasa syukur atas segala nikmat dan karunia Tuhan YME. Sebelum pementasan Topeng Ireng, warga mengadakan ritual doa bersama serta "genduri", ke hadirat Tuhan YME, atas limpahan rahmat dan keselamatan yang telah diberikan.

Seperti dilakukan oleh masyarakat Dusun Jamusan, Desa Pakis, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang, Kamis Kliwon (16/11/2017), kesenian Topeng Ireng Pekajaman memeriahkan tradisi Saparan atau merti dusun Jamusan.

Selain pagelaran seni Topeng Ireng Pekajaman, digelar pula kesenian Brondut (Kubro Dangdut). Brodut sendiri adalah modifikasi dari seni Kubro Siswo dan musik dangdut. Tak beda jauh dengan kesenian Topeng Ireng, Brondut dilatar belakangi nilai - nilai perjuangan melawan penjajah dan penyebaran agama islam.

Brondut biasa diisi oleh 16 hingga 25 orang penari baik putra maupun putri. Sedikit berbeda dengan Topeng Ireng atau Dayakan, kostum penari Brondut seperti baju prajurit keraton dan pemain sepak bola.

Sesuai dengan nilai awal berkembangnya kesenian Kubro yang berarti Kesenian Ubahing Badan utowo Rogo (Kesenian yang menggarakan badan atau raga), gerakan penari Brondut sangat dinamis.

Penuturan tertulis sesepuh Dusun Jamusan yang berhasil dihimpun beritaglobal.net, Sujari Wajib (65 tahun), "Acara saparan oleh warga disini sudah ada dan dilakukan tiap tahun sejak jaman dulu yang hingga kini tetap dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat, ini adalah bentuk rasa syukur kami kepada sang Pencipta yang telah memberikan rezeki dan keselamatan kepada kita semua, sebelum prosesi ini di lakukan segenap warga melakukan ziarah dan bersih kubur terlebih dahulu, guna menjaga nilai - nilai tradisi  yang perlu kita pertahankan," tegas Sujari Wajib. 

Banyak kisah patriotik, kreatifitas tanpa mengurangi esensi kesenian dan nilai - budaya, menjadikan Indonesia kaya akan khasanah untuk lebih mengokohkan Kebhinekaan. (Eko/Irwan)

Editor: Agus Subekti