Warga Keluhkan Polusi Bau dan Dugaan Pencemaran Lingkungan Kandang Babi -->

code ads

Warga Keluhkan Polusi Bau dan Dugaan Pencemaran Lingkungan Kandang Babi

Tuesday, March 27, 2018
Kandang Babi di Dusun Dalangan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan yang limbah nya dikeluhkan warga Dusun setempat.


Ungaran, beritaglobal.net – Bermula dari bau yang menyengat setiap harinya dari aliran air sisa – sisa proses pembersihan kandang babi yang langsung mengarah ke sungai, dua komplek kandang babi di Dusun Dalangan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang mendapat komplain dari warga sekitar.

Komplain warga dalam bentuk surat keberatan dengan adanya kandang babi itu, sudah disepakati oleh seluruh warga Dusun Dalangan dengan menandatangani surat keberatan, seperti yang disampaikan oleh Kepala Dusun (Kadus) Dalangan, Sutoyo (43), dikediamannya kepada beritaglobal.net, Selasa (27/3). Sutoyo selaku Kadus Dalangan membenarkan adanya surat keberatan warga dikarenakan salah seorang warganya bernama Tarjudin, awalnya mengeluh sumur gali di dekat rumahnya berair kekuningan dan berbau amis.  “Awalnya salah seorang warga saya bernama Tarjudin mengeluhkan tentang air sumur di dekat rumahnya yang berbau amis dan airnya berwarna kekuningan, semua warga masih bersilang pendapat dengan adanya peternakan babi itu, namun lama kelamaan bau dari limpasan air kandang yang dikatakan oleh para mandor di kandang, bahwa air di selokan itu adalah ceceran dari air minum babi,” ujar Sutoyo.

Kadus Dalangan, saat menunjukkan lokasi pembuangan air limbah dari kandang babi di sungai sekitar Dusun Dalangan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang

Sutoyo menyampaikan lebih lanjut, bahwa bau menyengat timbul pada saat ada proses mengosek/membersihkan kandang babi dengan dua periode di pagi hari dan sore hari.  Kemudian Sutoyo menunjukkan lokasi selokan yang sering menimbulkan bau menyengat dari kandang babi yang tepat berada di atas wilayah dusunnya.  Dari petunjuk Sutoyo, tampak aliran air yang awalnya kecil, semakin lama semakin membesar dengan bau yang sangat tajam.  Selebihnya pada saat ditunjukkan sungai di sekitar Dusun Dalangan yang tercemar dari limbah air kandang babi, tampak berbusa, berwarna keruh dan bau yang tajam menyengat.

“Bau menyengat timbul pada saat ada proses mengosek/membersihkan kandang babi dengan dua periode waktu di pagi hari dan sore hari.  Mari mas, saya tunjukkan selokan yang sering menimbulkan bau menyengat dan kebetulan ini biasa waktu dimana sering tercium bau menyengat dari selokan itu,” imbuh Sutoyo, seraya mengajak beritaglobal.net menyusuri selokan yang mengarah ke sungai.

“Itu Mas, lihat air dari kandang babi mengalir kecil, mari saya tunjukkan sungai tempat pembuangan air tersebut, disana anda bisa lihat limbah air dari kandang babi dari sini dan dari daerah Ngelo, masuk semua ke sungai,” jelas Sutoyo.
Sungai yang dulunya biasa dipergunakan warga sekitar untuk aktifitas mandi, cuci, kakus, sekarang ini sudah tidak bisa lagi dipergunakan untuk warga.  Bahkan, menurut Sutoyo, tidak ada andil dari kandang babi di sekitar dusunnya, untuk bantuan pertanian.  “Sungai disini dulunya untuk aktifitas mandi, cuci, kakus, namun sejak adanya kandang babi yang membuang air limbahnya ke sungai, saat ini sudah tidak bisa digunakan oleh warga, bahkan bisa anda lihat buih busa yang semakin banyak dan bau yang menyengat, air itu ada tambahan dari kandang babi di daerah Ngelo, yang mana limbahnya dibuang ke sungai, dan tidak ada andil dari penglola kandang babi bagi pertanian di sekitar sini,” ungkap Sutoyo lebih rinci.

Hilir selokan menuju sungai yang dijadikan jalur pembuangan limbah dari ceceran air minum dan sisa air pembersihan kandang babi

Saat ditanyakan harapan warga terkait keberlanjutan kandang babi di sekitar dusunnya, dirinya mengatakan, atas kesepakatan warga, meminta untuk kandang babi dipindahkan atau ditutup operasionalnya.  Selain aktifitas harian, pada saat perayaan hari besar keagamaan seperti  Idul Fitri, Natal dan perayaan Waisak, bau menyengat sering kali mengganggu tamu – tamu yang datang di Dusun Dalangan dan merasa tidak nyaman dengan kondisi tersebut.

“Warga berharap bahwa dengan adanya permasalahan ini, ada baiknya kandang babi disini dipindahkan saja atau bahkan ditutup, bukan hanya keseharian kami yang terganggu namun pada saat kami merayakan hari besar keagamaan seperti hari raya Idul FItri, hari raya Natal dan hari raya Waisak, banyak tamu – tamu yang datang ke dusun kami mengeluhkan bau tak sedap dan merasa tidak nyaman saat bertamu,” jelas Sutoyo.

Tidak cukup pada dampak bau saja yang menjadi keluhan warga, dugaan banyaknya anak – anak yang terkena penyakit flek paru di duga karena imbas dari polusi udara kandang babi.  Hal ini diungkapkan Sutoyo bahwa di wilayahnya ada dua area RT yang berdekatan dengan kandang, dan dari kedua lingkup RT tersebut banyak anak yang terkena flek paru, sementara satu lingkup RT yang letaknya agak jauh dari kandang babi tidak dijumpai anak yang terkena flek paru.

Pada kesempatan terpisah, beritaglobal.net menemui kepala kandang dari peternakan babi milik Cemara Sewu Farm yang kantornya ada di Desa Padahara, Kecamatan Kramat, Tegal bernama Alwi.  Saat dikonfirmasi beritaglobal.net terkait surat keluhan warga, Alwi menyatakan belum menerima surat tersebut, dan dijelaskan oleh Alwi bahwa kandang babi yang dikelolanya mempunyai penampungan kotoran babi dalam bentuk septic tank.  Permasalahan bau, itu sudah ada sejak dulu dan bila kawasan di daerah kandangnya tidak diperkenankan ada kandang babi seharusnya ada kejelasan untuk kawasan yang diperbolehkan untuk khusus berternak babi.  Dirinya menegaskan bahwa seluruh limbah dari proses pembersihan dan sisa air minum masuk ke penampungan atau septic tank.

Jalur pembuangan air dari kandang babi di kandang Cemara Sewu Farm mengarah ke septic tank yang tidak bisa ditunjukkan

“Di kandang babi yang saya kelola ini, untuk seluruh limbah air sisa pembersihan kandang dan sisa air minum ternak telah ditampung di septic tank, dan untuk jalur yang ke selokan kami buka pada saat hujan, hal ini karena septic tank tidak bisa menampung seluruh air hujan.  Bila permasalahan bau sudah ada sejak dulu, mas, kalau memang bau seharusnya sudah disampaikan daerah mana yang boleh untuk ternak babi dan daerah mana yang tidak boleh untuk ternak babi, dan itu adalah kewenangan dinas terkait di Kabupaten Semarang,” terang Alwi saat donfirmasi beritaglobal.net, Selasa (27/3) sore.

Pada saat beritaglobal.net bermaksud melihat kondisi septic tank, Alwi merasa keberatan dengan alasan lokasi yang jauh di bawah area kandang.  Selebihnya dijelaskan oleh Alwi bahwa, management peternakan telah memberikan kontribusi sebesar seratus ribu rupiah per bulan kepada perkumpulan remaja Dusun Dalangan dan dua ratus ribu per bulan kepada kas dusun, selain itu pada saat proses pembangunan jalan Dusun sekira tahun 2005 lalu, setiap kandang babi dimintai sumbangan sebesar tujuh juta lima ratus ribu rupiah.  Berkenaan dengan keluhan kesehatan dari warga masyarakat dirinya mengungkapkan belum ada laporan dan menyarakan warga untuk memeriksakan ke tenaga medis.

“Kalau untuk melihat septic tank jauh mas, lokasinya di bawah, dan untuk menjawab kontribusi pengusaha ke warga, setiap bulan ada penarikan uang sebesar seratus ribu rupiah untuk kepemudaan, dua ratus ribu rupiah per bulan untuk kas dusun, dan semua ada kwitansinya, selain itu dulu waktu pembangunan jalan Dusun, semua peternakan di tarik iuran sebesar tujuh juta lima ratus ribu per kandang, mas.  Bila keluhan masyarakat terkait gangguan kesehatan belum kami terima, namun sekarang kan ada tenaga medis, mas,” terang Alwi.

Berbeda dengan Alwi, kepala kandang babi milik Peternakan Babi Kembang Mahkota milik seorang pengusaha bernama SA dari Tingkir Salatiga, Sutomo, merasa senang dengan kedatangan beritaglobal.net untuk mengklarifikasi permasalahan keluhan warga.  Dirinya menunjukkan septic tank milik peternakan yang dikelolanya dan menjelaskan mengenai kontribusi Peternakan Kembang Mahkota kepada warga Dusun Dalangan dengan memberikan pengelolaan lahan di sekitar septic tank kepada warga untuk ditanami apa saja dan hasilnya dapat dipergunakan sebagai pemasukan kas Dusun.  Selain itu, Sutomo juga menunjukkan bukti izin gangguan yang masih aktif masa berlakunya hingga tanggal 20 Juli 2019 mendatang.

“Mari mas, saya tunjukkan lokasi septic tank yang baunya sering dikeluhkan oleh warga, sebetulnya juga ada kontribusi kepada warga sekitar kandang dalam bentuk pengelolaan beberapa area tanah di sekitar septic tank oleh warga, warga bebas untuk menanam apa saja yang menghasilkan, dan hasilnya diberikan ke kas Dusun, untuk izin gangguan milik kami masih berlaku hingga 20 Juli 2019 mendatang,” ungkap Sutomo.

Dalam keterangannya pada saat menunjukkan lokasi septic tank peternakan Kembang Mahkota, dirinya menjelaskan bahwa dasar kerja septic tank adalah untuk menampung limbah dari proses pembersihan kandang dan dibagi menjadi beberapa bagian hingga pada penampungan yang sudah murni air dan air tersebut biasa dipergunakan warga sekitar untuk menyiram tanaman pertanian.

Lokasi penampungan awal limbah kandah babi di Peternakan Kembang Mahkota, Dusun Dalangan, Desa Sumogawe, Kecamatan Getasan

“Ini mas, lokasi septic tank kami ada 12 kotak yang dapat menampung jumlah limbah peternakan kami yang di isi sekira 600 ekor babi. Jadi dari 12 kotak tersebut dibagi dalam penampungan limbah padat, lalu semi cair dan cair. Limbah cair yang sudah berupa air bening, biasa dipergunakan oleh warga sekitar untuk menyiram tanaman di saat kemarau, mas.  Bisa dilihat tanaman disekitar septic tank tidak ada yang jelek, semua subur,” jelas Sutomo disekitar area septic tank.

Lahan septic tank tahap ke dua untuk menampung limbah cair kandang babi dan lahan disekitarnya yang dikelola oleh warga Dusun Dalangan

Atas adanya keluhan warga dan penjelasan singkat dari dua orang kepala kandang peternakan babi, beritaglobal.net lalu mengkonfirmasi kepada dinas Peternakan Kabupaten Semarang.  Salah seorang staff Dinas Peternakan menjawab melalui pesan singkat bahwa pihaknya belum menerima surat keberatan dari warga dan menyatakan bahwa saat ini sedang ada penggantian Kepala Dinas sehingga permasalahan ini masih menunggu kebijakan lebih lanjut.

“Kami belum terima suratnya, Pak, jadi belum bisa mengambil langkah – langkah terkait keluhan warga, Kepala Dinasnya baru dilantik hari ini, coba besok saya matur dulu, dan bila ditanya mungkin juga belum bisa jawab,” terang seorang staff yang enggan disebut namanya.

Menyikapi adanya keluhan warga, Presiden Direktur Lembaga Advokasi Perlindungan Konsumen (LAPK) SIDAK Agus Subekti melalui Sekjen LAPK SIDAK, M. Nur menyatakan bahwa, “permasalahan perusahaan yang telah berdekatan dengan pemukiman warga menjadi komplek manakala tidak disikapi secara bijak.  Dalam hal ini, pemerintah daerah mempunyai tugas dan peran penting dalam memberikan jalan keluar, dimana pengusaha adalah sebagai salah satu penyumbang APBD, sementara warga masyarakat juga tidak bisa di salahkan dalam memberikan pendapatnya.  Untuk itu, pengkajian perizinan harus benar – benar dipertimbangkan bukan untuk menarik investasi sesaat namun juga perlu diperhitungkan pertumbuhan jumlah penduduk dan penyebarannya.  Apabila zonasi yang telah ditetapkan dalam peraturan daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (Perda RTRW) dipatuhi semua pihak, tentunya hal seperti ini tidak akan terjadi.  Selain dari pada itu, kebijakan tentang pengelolaan lingkungan yang tegas menjadikan win – win solution untuk semua pihak, hal ini di dasari oleh pengalaman yang sudah terjadi terkait kerusakan lingkungan di beberapa lokasi akibat dari suatu usaha membutuhkan biaya pembenahan yang tidak sedikit dan berdampak pada ekosistem serta generasi ke depan,” ungkap M. Nur.  (Slamet R/Gun)