Kota Salatiga Terangkum Dalam Buku, Seperti Apakah?

code ads


Kota Salatiga Terangkum Dalam Buku, Seperti Apakah?

Thursday, May 24, 2018
Pameran buku Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga 2018, dengan tema "Membaca Salatiga", Jumat (25/05/2018). (Foto: Dok. Bidang Pembinaan dan Pengembangan Dinas Persip Kota Salatiga)

Salatiga, beritaglobal.net - Pameran buku konten lokal dengan tema, "Membaca Salatiga" jilid III kembali digelar oleh Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Salatiga.

Sedikit berbeda dengan pameran pameran buku tahun - tahun sebelumnya, pada pameran buku tahun 2018 Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga menampilkan berbagai karya berkonten lokal khususnya buku tentang Kota Salatiga.

Tampak deretan berbagai koleksi buku dari Badan Pusat Statistik Kota Salatiga, UKSW, Penerbit Salatiga, Rumah Literasi Pojok Buku, SDN Kutowinangun 1, IAIN Salatiga, BAPELITBANGDA, Bagian Humas dan Protokol, Setwan, Bagian Hukum Setda, B2P2VRP, LSM Percik, Widya Sari press, Griya Media, Penulis Salatiga diantaranya, Betty Wahyu Nilla Sari, Agus Setiadji, Itmamudin, Suryo Sakti Hadiwijoyo dan juga karya lukis dari para perupa Kota Salatiga, dipamerkan pula beberapa dokumentasi foto - foto Salatiga tempo dulu yang masih tersimpan baik.

Disampaikan tertulis kepada beritaglobal.net, Jumat (25/05/2018), oleh Suryanto, S.H., selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Dinas Persip Kota Salatiga, Pameran Buku Konten Lokal dibuka oleh Kepala Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Kota Salatiga, Slamet Setyo Budi, S.E., M.Acc., mulai hari ini, jumat (25/05/2018) sampai dengan hari Minggu (27/05/2018) di halaman Kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Salatiga.

Dalam sambutannya, Slamet Setyo Budi yang akrab dipanggil Budi mengatakan tujuan pameran buku konten lokal untuk mengenalkan hasil karya penerbit dan penulis salatiga serta tulisan atau karya tentang salatiga baik bentuk buku maupun non buku.

"Kegiatan pameran ini adalah momentun yang penting untuk mengenalkan dan mempromosikan koleksi konten lokal perpustakaan dan terbitan," kata Budi.

Dirinya mengaku gembira, pasalnya kegiatan tahun ini semakin banyak pihak yang ikut berpartisipasi.

"kita semua berharap koleksi konten lokal tentang salatiga khususnya, dapat dikenal masyarakat, diapresiasi, sekaligus dilestarikan secara baik. Dan dapat dimaksimalkan khususnya para penerbit dan penulis, sekaligus dapat sebagai ajang untuk mempromosikan terbitan, penulis yang memiliki pangsa pasar kecil dan terbatas," tutur Budi lebih lanjut.

Dijelaskan Budi, bahwa perpustakaan pada hakekatnya hadir di tengah masyarakat untuk ikut mencerdaskan kehidupan bangsa.

"Perpustakaan daerah salatiga sebagai institusi yang melaksanakan layanan perpustakaan, juga dituntut oleh UU untuk mengembangkan koleksi kekhasan budaya daerah," jelasnya.

Menurut Budi, koleksi koleksi konten lokal ini bagi Kota Salatiga adalah sebuah kekayaan yang tak ternilai harganya.

"untuk itu, kami berharap juga, melalui kegiatan ini, bisa lebih terjalin silahturrohmi dan komunikasi dalam memperkuat koleksi konten lokal di Kota Salatiga, dan Dinas Persip Kota Salatiga bisa menjadi benteng dalam pendokumentasian bibliografi di aras lokal Salatiga untuk kepentingan informasi, pendidikan, penelitian serta rekreasi masyarakat," tandas Budi.

Terpisah, Kepala Bidang Perpustakaan, Drs. Agus Hari Supomo mengatakan jika dalam pameran kali ini juga dimunculkan buku Darmiyanto, "sang pengayuh becak prestasi segudang".

"Kiranya sebutan layak disandang pak Darmiyanto, sebab dengan konsistensi yang ditunjukkan sampai sekarang, bergudang prestasi menjadi bukti, bukan tidak mungkin ukiran prestasi baru masih akan terus bertambah. Prestasi yang diiringi dengan pola dan cara pandang hidup disiplin, serius, sederhana dan penuh rasa syukur," kata Agus.

Ditambahkan Agus, sejarah Kota Salatiga banyak ditandai dengan banyaknya gedung dengan beragam keunikkan karakternya. Hal ini menjadi bukti bahwa salatiga sejak dulu merupakan kawasan multi etnis yang sama - sama mempunyai peran dalam perjalanannya, termasuk salah satunya adalah etnis Tiongkok.

"Dengan latar belakang sejarah panjang, Kota Salatiga adalah kota yang layak ditelusuri secara detail perkembangannya, baik dari segi budaya, seni bangunan dan arsitektur, pemerintahan, perekonomian dan aktifitas masyarakat dari masa ke masa," urainya.

Di sisi lain, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Dinas Persip Kota Salatiga, Suryanto, S.H., menuturkan jika Kota Salatiga memiliki sejarah yang layak ditelusuri, salah satunya adalah tentang kapan Kota Salatiga berdiri.

"Dengan pendekatan kondisi geografis dan analisis sumber sejarah baik yang berdasar legenda maupun yang tertulis," ujar Suryanto.

Menurutnya, jika ingin melihat Indonesia dalam skala kecil dengan kondisi masyarakat yang aman, tentram dan saling menghargai satu sama lain, dirinya meminta masyarakar luar kota maupun luar provinsi untuk datang ke Kota Salatiga, kota dengan predikat sebagai kota paling toleran kedua Se - Indonesia.

"Salatiga sebagai kota multi etnis sejak jaman dulu sudah didiami oleh banyak sekali etnis, salah satunya adalah etnis Tionghoa. Keberadaan mereka ikut andil dalam pengaruh budaya dan aktivitas masyarakat Kota Salatiga," tegas Suryanto. (Ady/Red)