'Undere' Indonesia, Jawa Tengah Dinilai Mampu Jaga Kondusifitas Menghadapi Proses Pemungutan Suara Serentak -->

code ads


'Undere' Indonesia, Jawa Tengah Dinilai Mampu Jaga Kondusifitas Menghadapi Proses Pemungutan Suara Serentak

Tuesday, June 26, 2018
Pangdam IV Diponegoro Mayjen Wuryanto saat memberikan paparan dalam rapat koordinasi "Menjaga Kondusifitas Wilayah dan Pemantapan NKRI di Jateng", Selasa (26/62018). (Foto: Dok. Humas Setda Prov. Jateng)

Semarang, beritaglobal.net - Proses pelaksanaan pemilihan kepala daerah (Pilkada) kerap menjadi pemicu berbagai persoalan dan konflik di suatu daerah. Namun itu (konflik Pilkada) tidak berlaku di Jawa Tengah yang juga segera menggelar pemilihan gubernur serta bupati dan wali kota di tujuh daerah pada 27 Juni 2018.

"Menurut Deputi Koordinasi Bidang Politik Dalam Negeri Menkopolhukam, Mayjen TNI Andrie TU Sutarno, tingkat kondusifitas wilayah terbaik di Indonesia saat ini adalah Jawa Tengah, menjadi centralnya Tanah Air atau undere (pusat) negara Indonesia,” ujar Sekda Jateng Sri Puryono, K.S., M.P., saat rapat koordinasi lintas sektoral di Gedung Grhadhika Bhakti Praja, Selasa (26/6/2018).

Rakor bertema “Menjaga Kondusifitas Wilayah dan Pemantapan NKRI di Jateng” dengan moderator Sekda Jateng Sri Puryono tersebut dihadiri Gubernur Jateng H Ganjar Pranowo, S.H., M.I.P., tokoh agama, tokoh masyarakat, Forkopimda, serta sejumlah narasumber. Di antaranya Kapolda Jateng Irjen Pol Condro Kirono, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen Wuryanto, serta Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jateng Prof. Mudjahirin Tohir.

Sekda menyebutkan, saat ini ada banyak persoalan yang harus dihadapi, terutama yang berpotensi mengancam persatuan dan kerukunan masyarakat. Antara lain hoax atau berita bohong, ujaran kebencian, kampanye hitam, radikalisme, dan terorisme.

“Karenanya semua yang hadir di sini, baik dari Polri, TNI, tokoh lintas agama, tokoh masyarakat kami undang. Sebab bapak dan ibu ini menjadi palang pintu atau garda terdepan untuk mengatisipasi beragam ancaman kerukunan dan persatuan bangsa Indonesia,” terangnya.

Meskipun Jateng terkondusif secara nasional dibanding wilayah lain di Tanah Air, sekda meminta semua pihak harus terus meningkatkan keamanan, kewaspadaan, serta kerukunan. Terlebih Jateng menjadi salah satu provinsi dengan tujuh kabupaten dan kota yang akan melaksanakan Pilkada serentak tahun 2018.

Senada disampaikan Ketua FKUB Jateng Mudjahirin Tohir. Menurutnya, berdasarkan beberapa survei, konflik akan mudah terjadi jika ada sejumlah pihak atau individu maupun kelompok yang berada dalam suasana kontestasi memperebutkan peluang-peluang terbatas dalam berbagai lapangan kehidupan.

“Di daerah lain konflik terkait Pilkada mungkin bisa terjadi, tetapi tidak untuk Jawa Tengah,” tandasnya.

Mudjahirin menjelaskan, orang yang beragama membutuhkan hidup rukun dalam kebersamaan dibalik berbagai perbedaan. Kerukunan tercipta jika seorang yang mampu menghormati agama maupun keyakinan orang lain, saling bergotong royong dan bekerja sama untuk kebaikan, tidak mencela apalagi menyakiti orang lain.

“Kalau terjadi konflik kita jangan lantas menghindarinya tetapi berupaya memecahkannya. Jika kita bisa menyapa dengan halus kenapa memilih dengan cara kasar. Jika kita masih bisa menghormati kenapa memilih menghinakan. Ketika kita masih bisa hidup dalam kedamaian kenapa memilih jalan konflik,” bebernya.

Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Wuryanto menambahkan, survei yang disampaikan sejumlah tokoh, bahwa Jateng merupakan wilayah paling kondusif di Indonesia itu sangat tepat. Pernyataan tersebut bukan hanya bicara melainkan juga berdasarkan fakta. Semua warga Jateng pun merasakannya.

“Kalau kita bicara tentang Jateng kita harus bersyukur. Jateng merupakan barometer Indonesia, karena apapun yang terjadi di Jateng, baik bidang politik, ekonomi, sosbudhankam maupun lainnya pasti akan berpengaruh terhadap situasi nasional,” ujarnya.

Ditambahkan, jumlah penduduk Jateng yang mencapai sekitar 34 juta jiwa berpotensi untuk berbagai kepentingan baik hal positif maupun negatif. Salah satunya dari sisi politik, bisa menjadi lumbung suara besar dan kekuatan lain untuk mendukung kepentingan tertentu.

Jika jumlah penduduk Jateng yang cukup besar dan terdiri dari berbagai suku, agama, dan ras tidak dikelola dengan baik, sangat berpotensi menimbulkan konflik. Apalagi kelompok-kelompok radikal cukup banyak berkembang dan tersebar di berbagai daerah di Jateng.

“Kita harus terus berupaya mengelola potensi Jateng dengan sebaik-baiknya. Terutama saat menjelang pilkada serentak seperti sekarang, juga pilpres tahun depan. Semua komponen masyarakat, TNI, Polri dan instansi lainnya bersama-sama menjaga kondusifitas daerah agar tetap adem dan ayem,” pinta Pangdam.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo meminta semua pihak dan masyarakat berdoa bersama-sama agar pelaksanaan pilkada serentak berjalan lancar, tidak saling menyakiti, tidak menyebar hoax atau berita bohong. Semua pun diminta ikut merawat kondisi Jateng agar tetap aman, nyaman, dan tentram.

“Nilai - nilai harus dipegang, menjunjung tinggi tepa selira, spirit gotong royong sebagai budaya adiluhung bangsa harus terus dipegang,” katanya.

Para peserta dari lintas agama, kata Ganjar, juga diharapkan terus menyampaikan bagaimana melakukan investasi untuk merawat persatuan dan kerukunan, salah satunya melalui pelajaran sekolah. Itu merupakan masukan yang sangat bagus dari masyarakat untuk merawat nasionalisme sejak dini. (KRS/HMS)

Editor: Fera M