Antara Tugas, Hoby dan Melestarikan Budaya Warisan Leluhur -->

code ads


Antara Tugas, Hoby dan Melestarikan Budaya Warisan Leluhur

Friday, July 27, 2018
Sri Mulyadi (Kaos TNI) sedang menjelaskan material keris kepada Serda Warso dan Pelda Kemis di rumahnya, Jumat (27/07/2018)

Ungaran, beritaglobal.net - Kepedulian pada pelestarian budaya warisan leluhur, bukan hanya dikerjakan oleh para seniman dan budayawan. Hal inilah yang mendorong seorang personel TNI, Sri Mulyadi warga Dusun Karang Dawung RT 02 RW 03, Desa Bonomerto, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang, mengkoleksi benda pusaka.

Kepada beritaglobal.net, saat ditemui di rumahnya, Jumat (27/07/2018), disela - sela waktu istirahat selepas ibadah Sholat Jumat dalam menjalankan tugas karya bakti TMMD Reguler ke 102 tahun 2018 di desanya, Sri menjelaskan perihal awal kecintaannya pada benda pusaka, khususnya keris dan batu mustika.

"Saya dulu semasa bertugas di Jakarta, sering dimintai tolong oleh rekan - rekan ataupun para relasi saya diluar dinas, menarikkan benda pusaka dari alam astral untuk mereka koleksi," ucap Sri Mulyadi kepada beritaglobal.net.

Bersama dengan beberapa rekan personel satgas yang kebetulan selesai menjalankan ibadah sholat Jumat di Masjid At Taqwa di samping rumahnya, Sri Mulyadi kemudian menunjukkan beberapa bilah keris yang masih ia koleksi hingga saat ini.

Dihadapan rekan - rekannya, Sri Mulyadi mempraktekkan mendirikan sebilah keris yang tidak bergagang di dalam sebuah kotak kaca. Konon keris tersebut dipercaya dapat menolak energi negatif yang hendak mengganggu si pemegang dan orang - orang disekitarnya.

"Ini saya salah satu koleksi keris luk sembilan saya, yang bisa berdiri tanpa gagang," sebutnya seraya mempraktekkan pendirian bilah keris di dalam kotak kaca.

Saat seorang rekan Sri Mulyadi, Serda Warso, menanyakan perihal tata cara penarikan keris, dirinya menjelaskan bahwa benda - benda pusaka dan mustika dari jaman dahulu, selalu dijaga oleh makhluk lain seperti jin, kodam serta mantra - mantra kuno yang masih melekat hingga sekarang. Oleh karena itu, sewaktu menarik barang - barang tersebut ke dunia nyata, diperlukan waktu dan strategi khusus agar energi tubuh tidak tersedot habis.

"Benda - benda pusaka dan mustika dari jaman dahulu, selalu dijaga oleh makhluk lain seperti jin, kodam serta mantra - mantra kuno yang masih melekat hingga sekarang. Oleh karena itu, sewaktu menarik benda - benda tersebut ke dunia nyata, diperlukan waktu dan strategi khusus agar energi tubuh tidak tersedot habis," terang Sri Mulyadi kepada Serda Warso.

Lebih lanjut Sri Mulyadi menjelaskan bahwa mahkluk astral juga mempunyai kegemaran seperti halnya manusia. Kegemaran tersebut biasanya berwujud minyak tempo dulu atau terkadang berupa buqhur/kemenyan. Disaat hendak menarik benda - benda yang mereka jaga, perhatian mereka dialihkan dengan memancing pemberian minyak ataupun buqhur yang menjadi kegemaran mereka. Saat mereka asik mengejar minyak ataupun buqhur yang biasanya kita larung/hanyutkan di sungai, lalu ditariklah benda yang diinginkan ke alam nyata.

"Mahkluk astral juga mempunyai kegemaran seperti halnya manusia, kegemaran tersebut biasanya berwujud minyak tempo dulu atau terkadang berupa buqhur/kemenyan. Disaat hendak menarik benda - benda yang mereka jaga, perhatian mereka kita alihkan dengan memancing pemberian minyak ataupun buqhur yang menjadi kegemaran mereka. Saat mereka asik mengejar minyak ataupun buqhur yang biasanya kita larung/hanyutkan di sungai, lalu ditariklah benda yang diinginkan ke alam nyata," imbuh Sri Mulyadi kepada beritaglobal.net dan tiga orang personel satgas TMMD yang turut dalam perbincangan budaya, Jumat (27/07/1018) di rumahnya.

Ketika beritaglobal.net bertanya perihal jumlah koleksi benda pusaka yang dimiliki dan apakah bisa di maharkan (jual/beli), Sri Mulyadi menjawab tegas bahwa seluruh benda - benda tersebut adalah koleksinya dan sudah tidak diperjual belikan.

"Saat ini benda - benda yang ada di rumah saya adalah murni benda koleksi pribadi, dan tidak saya maharkan lagi," tegas Sri Mulyadi.

Selepas menunjukkan beberapa bilah keris, Sri Mulyadi secara singkat menjelaskan bahwa keris yang bagus adalah dari era Majapahit, dan era kerajaan - kerajaan sebelumnya. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya masih dilakukan oleh para empu yang benar - benar sakti mandraguna, membuat keris hanya dengan menggunakan jari jemarinya tidak seperti orang kebanyakan membuat bilah senjata dengan ditempa menggunakan palu baja.

"Sepengetahuan saya, bahwa keris yang bagus adalah dari era Majapahit, dan era kerajaan - kerajaan sebelumnya. Hal ini dikarenakan proses pembuatannya masih dilakukan oleh para empu yang benar - benar sakti mandraguna, membuat keris hanya dengan menggunakan jari jemarinya tidak seperti orang kebanyakan membuat bilah senjata dengan ditempa menggunakan palu baja," Sri Mulyadi mengisahkan.

Menutup pembicaraan mengenai benda pusaka, Sri sedikit bercerita bahwa keris yang diketahuinya mempunyai daya kekuatan yang luar biasa adalah keris Nogo Sosro, yang dibuat di dasar laut.

"Menurut pengalaman saya, keris yang mempunyai daya kekuatan besar adalah keris Nogo Sosro, yang dibuat di dasar laut," tandas Sri Mulyadi menutup pembicaraan.

Sementara itu, ditemui ditempat terpisah salah satu anggota Paguyuban Pemerhati Keris Salatiga (Pamerkersa Joko Tingkir), saat ditemui ditemui beritaglobal.net, di Galeri keris miliknya di Pasar Andong, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan  Sidomukti, Salatiga Jumat (27/07/2018) malam, Supri atau yang kerap di sapa Kijogo Pesisir salah satu anggota Pamerkarsa Joko Tingkir ini mengatakan, pusaka peninggalan leluhur yang satu ini beragam dan memiliki corak, bentuk, hingga umur yang berbeda - beda. Kini ia dan beberapa anggota lainya berupaya untuk melestarikan pusaka keris agar tidak punah keberadaanya dan sejarahnya.

Supri (Ki Jogo Pesisir) sedang menunjukkan koleksi keris miliknya di Galeri Keris Pasar Andong, Kota Salatiga

"Keberadaan dan tujuan di bentuknya Pamerkasa Joko Tingkirn ini yakni untuk menguri-uri budaya Jawa khususnya tentang keris. Pasalnya keris yang menjadi warisan budaya asli Nusantara kini mulai hilang ditelan zaman," terang Supri.

Lebih lanjut Supri menyampaikan, "Dengan dibentuknya Pamerkasa Joko Tingkir ini adalah untuk melestarikan keris sebagai bagian nguri - nguri budaya Jawa dan jangan sampai keris yang menjadi milik Nusantara diakui negara lain," tegasnya. (Agus S/Red)