Ngaben, Upacara Pengembalian Panca Mahabutha Dalam Tubuh Manusia

Iklan Semua Halaman

Dibutuhkan Kontributor Berita Global Dot Net di Wilayah Indonesia - Ingin Gabung Kontak WA 081226637986

Ngaben, Upacara Pengembalian Panca Mahabutha Dalam Tubuh Manusia

Friday, August 24, 2018
Prosesi Ngaben di Krematorium Ambarawa, dipimpin oleh Romo Wiku Satya Dharna Telaga dari Pura Adya Dharma, Salatiga bersama I Nyoman Suasma sebagai pemangku, membacakan doa dan mantra dengan mempersembahkan banten pejati sebelum peti jenazah dimasukkan ke dalam alat kremasi, Rabu (22/08/2018). (Foto: KDR)
Salatiga, beritaglobal.net – Upacara Ngaben bagi umat Hindu adalah salah satu tahapan untuk mengembalikan Panca Mahabhuta kepada sang pencipta.  Demikian halnya yang dilakukan oleh keluarga I Putu Suputra (43), meski tinggal jauh dari tempat kelahirannya di Pulau Bali, Putu (panggilan akrab I Putu Suputra), tetap menjalankan Ngaben dan melarung abu ke laut, untuk menyempurnakan Panca Mahabhuta almarhum ibunya pada Rabu (22/08/2018) lalu di Pantai Marina Semarang.
Kepada beritaglobal.net, saat dijumpai dirumahnya, Putu menjelaskan prosesi Ngaben untuk almarhum ibunya adalah sebagai bentuk ketaatan terhadap keyakinan yang telah dianut dia dan keluarga besarnya.
“Prosesi ngaben dan pelarungan ke laut adalah untuk mengembalikan Panca Mahabutha ibu saya kepada sang pencipta,” ungkap Putu.
Dijelaskan secara singkat oleh Putu, tentang Panca Mahabutha, “Dalam Hindu dikenal ada lima unsur dalam diri manusia, yaitu tanah, api, air, udara dan sinar, dan untuk mengembalikan lima unsure tersebut kea lam dan sang pencipta maka dilakukan dengan prosesi Ngaben,” jelas Putu.
Melanjutkan penjelasannya tentang proses pengembalian Panca Mahabhuta, Putu menambahkan, “Karena kami tinggal di Jawa Tengah, maka proses pengembalian Panca Mahabhuta dengan Ngaben di Krematorium Ambarawa dan menganyut di laut tepatnya di pantai Marina Semarang, dengan memulai acara dengan hatur pyuning atau memohon ijin dengan sembahyang. Proses ini jauh lebih cepat dan biaya relatif murah,” jelas Putu.
Secara terpisah, beritaglobal.net mendapatkan penjelasan lebih detail tentang Prosesi Ngaben dari salah satu pengurus Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Salatiga, I Nyoman Suasma di kediamannya, Kamis (23/08/2018).
Dijelaskan oleh I Nyoman Suasma (INS), melalui wawancara singkat dengan beritaglobal.net (BG):
BG : Seperti apa sebenarnya upacara Ngaben menurut umat Hindu?    
INS : Upacara Ngaben berasal dari kata “abu” kemudian menjadi ngabuin terus menjadi ngaben, artinya membakar jadi abu, dalam proses mengembalikan Panca Mahabutha ke alamnya masing - masing.
BG : Apa saja Panca Mahabutha dalam jasad / tubuh manusia?
INS : Panca Mahabutha adalah jasad manusia yang terdiri dari bagian yang padat, yaitu daging dan tulang kembali kepada Pertiwi, bagian yang cair, yaitu darah dan lendir kembali kepada Apah, bagian yang panas, yaitu rongga dada dan perut kembali ke Teja, bagian yang berudara, yaitu paru-paru kembali ke Bayu, dan bagian yang halus seperti urat saraf dan rambut, kembali ke Akasa.Pada saat ditinggalkan roh kelima unsur itu harus dikembalikan ke asalnya dengan cara kremasi, dengan upacara Ngaben dengan melarung sisa – sisa abu kremasi ke laut dengan upacara. Makna upacara ini adalah untuk mengembalikan panca maha buta tadi dan menghantar jiwatma menghadap ke sang pencipta.
BG : Persiapan apa saja sebelum dijalankan upacara Ngaben?
INS : Mengacu pada ajaran Hindu, disiapkan sesaji atau banten. Banten utama adalah banten pejati artinya adalah jati diri kita secara tulus ikhlas untuk menghantarkan doa, banten pejati ada beberapa unsure daun, unsur buah, unsure bunga dan unsur api.  Sarana - sarana itu mempunyai fungsi sebagai persembahan atau tanda terima kasih kepada Hyang Widhi,  sebagai alat konsentrasi memuja Hyang Widhi, sebagai simbol Hyang Widhi atau manifestasi-Nya, sebagai alat pensucian, sebagai pengganti mantra.

BG : Apa makna dari tiap – tiap isi Banten Pejati dalam upacara Ngaben dan Nganyut?

INS : Alas bedogan/srembeng/wakul/katung; terbuat dari janur/slepan yang bentuknya bulat dan sedikit panjang serta ada batas pinggirnya. Alas Bedogan ini lambang pertiwi unsur yang dapat dilihat dengan jelas. Bedogan/ srembeng/wakul/katung/srobong daksina; terbuat dari janur/slepan yang dibuta melinkar dan tinggi, seukuran dengan alas wakul. Bedogan bagian tengah ini adalah lambang Akasa yang tanpa tepi. Srembeng daksina juga merupakan lambang dari hukum Rta (Hukum Abadi Tuhan), Tampak; dibuat dari dua potongan janur lalu dijahit sehinga membentuk tanda tambah. Tampat adalah lambang keseimbangan baik makrokosmos maupun mikrokosmos. Beras; lambang dari hasil bumi yang menjadi sumber penghidupan manusia di dunia ini. Hyang Tri Murti (Brahma, Visnu, Siva), Porosan; terbuat dari daun sirih, kapur dan pinang diikat sedemikian rupa sehingga menjadi satu,porosan adalah lambang pemujaan, Benang Tukelan; adalah simbol dari naga Anantabhoga dan naga Basuki dan naga Taksakadalam proses pemutaran Mandara Giri di Kserarnava untuk mendapatkan Tirtha Amertha dan juga simbolis dari penghubung antara Jivatman yang tidak akan berakhir sampai terjadinya Pralina. Sebelum Pralina Atman yang berasal dari Paramatman akan terus menerus mengalami penjelmaan yang berulang-ulang sebelum mencapai Moksa. Dan semuanya akan kembali pada Hyang Widhi kalau sudah Pralina. Uang Kepeng; adalah lambang dari Deva Brahma yang merupakan inti kekuatan untuk menciptakan hidup dan sumber kehidupan. Telor Itikdibungkus dengan ketupat telor, adalah lambang awal kehidupan/ getar-getar kehidupan, lambang Bhuana Alit yang menghuni bumi ini, karena pada telor terdiri dari tiga lapisan, yaitu Kuning Telor/Sari lambang Antah karana sarira, Putih Telor lambang Suksma Sarira, dan Kulit telor adalah lambang Sthula sarira. Pisang, Tebu dan Kojong; adalah simbol manusia yang menghuni bumi sebagai bagian dari ala mini. Idialnya manusia penghuni bumi ini hidup dengan Tri kaya Parisudhanya. Gegantusan; yang terbuat dari kacan-kacangan dan bumbu-bumbuan, adalah lambang sad rasa dan lambang kemakmuran. Papeselan yang terbuat dari lima jenis dedaunan yang diikat menjadi satu adalah lambangPanca Devata; daun duku lambang Isvara, daun manggis lambang Brahma, daun durian lambang Mahadeva, daun salak lambang Visnu, daun nangka atau timbul lamban Siva. Papeselan juga merupakan lambang kerjasama (Tri Hita Karana). Buah Kemiri; adalah sibol Purusa / Kejiwaan / Laki-laki.  Buah kluwek/Pangi; lambang pradhana / kebendaan / perempuan. Kelapa; simbol Pawitra (air keabadian/amertha) atau lambang alam semesta yang terdiri dari tujuh lapisan (sapta loka dan sapta patala) karena ternyata kelapa memiliki tujuh lapisan ke dalam dan tujuh lapisan ke luar. Air sebagai lambang Mahatala, Isi lembutnya lambang Talatala, isinya lambang tala, lapisan pada isinya lambang Antala, lapisan isi yang keras lambang sutala, lapisan tipis paling dalam lambang Nitala, batoknya lambang Patala. Sedangkan lambang Sapta Loka pada kelapa yaitu: Bulu batok kelapa sebagai lambang Bhur loka, Serat saluran sebagailambang Bhuvah loka, Serat serabut basah lambang svah loka, Serabut basah lambanag Maha loka, serabut kering lambang Jnana loka, kulit serat kering lambang Tapa loka, Kulit kering sebagai lamanag Satya loka Kelapa dikupas dibersihkan hingga kelihatan batoknya dengan maksud karena Bhuana Agung sthana Hyang Widhi tentunya harus bersih dari unsur-unsur gejolak indria yang mengikat dan serabut kelapa adalah lambang pe ngikat indria. Sesari; sebagai labang saripati dari karma atau pekerjaan (Dana Paramitha), Sampyan Payasan; terbuat dari janur dibuat menyerupai segi tiga, lambang dari Tri Kona; Utpeti, Sthiti dan Pralina. Sampyan pusung; terbuat dari janur dibentuk sehingga menyerupai pusungan rambut, sesunggunya tujuan akhir manusia adalah Brahman dan pusungan itu simbol pengerucutan dari indria-indria

Dua buah banten dihadapkan kepada sang pencipta sebagai sarana penghantar doa sebelum upacara pelarungan abu jenazah

BG : Apakah arti bebek dan batang beringin?

INS : Kita yakini bahwa jiwatma yang hantarkan akan menuju kepada Tuhan, contoh kita gunakan bebek adalah untuk menunjukkan jalan kepada Jiwatma dalam menunjukkan jalan ke sang pencipta.  Bebek bisa membedakan yang buruk dan yang baik, saat dia mencari makanan di dalam lumpur, bebek bisa membedakan mana lumpur dan mana makanan. Rangkaian daun beringin adalah sebagai symbol untuk alat peneduh jiwatma dalam perjalanan menuju sang pencipta.

BG : Apakah makna kelapa gading dalam proses nganyut atau melarung abu ke laut?

INS : Kelapa cengkir/kelapa muda, diyakini air kelapa itu suci, tidak ada manusia yang memasukkan air ke dalam buah kelapa, khususnya kelapa muda yang airnya masih penuh dan air diisi dari Tuhan sehingga kita yakini sebagai air yang suci. Kemudian kelapa dibentuk simetris dan dilubangi dengan bentuk segitiga/kasturi, melambangkan hubungan manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan alam semeseta dan hubungan manusia dengan manusia.

Proses memasukkan abu jenazah ke dalam tempurung kelapa cengkir/kelapa muda yang telah dibuang airnya dengan pelubangan berbentuk kasturi atau segitiga yang bermakna hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam/lingkungan. (Foto: WRS)

BG : Siapa pemimpin upacara Ngaben dan Nganyut?

INS : Ada pandita atau pedande yang dipimpin oleh Romo Wiku Satya Dharna Telaga dari Pura Adya Dharma, Salatiga dan ada mangku sebagai pendamping Pedande, yang kebetulan waktu itu saya sendiri.

BG : Siapa yang seharusnya memasukkan abu ke dalam air/laut?

INS : Relatif, bila ahli waris berani , dilakukan oleh ahli waris, namun terkadang ada ahli waris yang masih belum tega, sehingga di serahkan proses penaburan abu ke air/laut oleh Pedande.

BG : Sejak kapan di Salatiga terselenggara prosesi Ngaben?

INS : Di kota Salatiga sejak tahun 1967 sudah dilaksanakan prosesi Ngaben, sehingga telah banyak prosesi Ngaben. Kita pilih laut adalah samudera, yang menjadi simbol bagian dari kesejahteraan, jadi kita hanyutkan ke laut untuk mengharapkan kesejahteraan abadi kepada roh/jiwatma.  Selain laut, bisa saja dilakukan di sungai yang aliran airnya bermuara ke laut.

BG : Adakah upacara lain untuk menghormati orang yang telah meninggal setelah upacara Ngaben?


INS : Ngaben sebagai prosesi terakhir, dalam proses kehidupan sehingga dalam Hindu sudah tidak ada lagi prosesi acara untuk memperingati hari kematian setelah upacara Ngaben dan larung abu. (ASB/Red)