Opini Redaksi: Kepemimpinan Sambernyawa Adalah Pemimpin Merakyat

Iklan Semua Halaman

Dibutuhkan Kontributor Berita Global Dot Net di Wilayah Indonesia - Ingin Gabung Kontak WA 081226637986

Opini Redaksi: Kepemimpinan Sambernyawa Adalah Pemimpin Merakyat

Tuesday, September 25, 2018
Istana Mangkunegara dari depan. (Dok. net)

Beritaglobal.net, Ungaran – Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara I alias Raden Mas Said, tokoh yang pejuang yang dikenal sebagai arsitek militer serta memiliki karakter kepemimpinan yang kuat ini, meletakkan dasar fondasi prinsip kepemimipinan di era penjajahan Belanda sekitar tahun 1749-1757 Masehi. Dengan semboyan Tiji Tibeh dan Tri Dharma. Tiji Tibeh bisa diurai mati siji, mati kabeh dan mukti siji, mukti kabeh (mati satu, mati semua dan sejahtera satu, sejahtera semua).  Sedangkan Tri Dharma (tiga kebaktian) adalah memuat prinsip bernegara yang mengatur hubungan antara pemimpin, rakyat, dan tanah airnya. Penjabaran Tri Dharma adalah (1) Mulat sariro hangrasa wani (berani instrospeksi diri), (2) rumangsa melu handarbeni (wajib merasa memiliki), (3) wajib melu anggondheli (wajib ikut mempertahankan).
Dengan dasar falsafah Tiji Tibeh dan Tri Dharma inilah, kekuatan tempur para pejuang dibawah kepemimpinan KGPAA Mangkunegara I, sangat ditakuti lawan, dan disegani oleh rakyat.  Sehingga Gubernur Pesisir Jawa Bagian Timur Laut kala itu, Baron van Hohendorff, memberinya sebutan Pangeran Sambernyawa. Bila kita menilik sejarah pendirian bangsa Indonesia, kita patut berbangga dengan apa yang telah dilakukan oleh para pendahulu kita, falsafah Tiji Tibeh dan Tri Dharma sudah mendahului jauh sebelum bangsa Eropa merancang konsep bernegara dengan semboyan right or wrong is my country sekitar awal abad ke – 19, Pangeran Sambernyawa atau KGPAA Mankunegara I telah merumuskannya dengan sempurna dalam Tri Dharma.
Tri Dharma mengandung spirit jati diri manusia yang cinta ketinggian martabat, kemerdekaan, kebangsaan, kebersamaan, tanggung jawab dan solidaritas yang tinggi. Mulat sarira hangroso wani, adalah kewajiban memahami diri sendiri dalam introspeksi agar dapat mengatasi segala rintangan yang menghambat perbaikan diri. Dengan introspeksi inilah akan timbul kesadaran kesetiakawanan, dalam bernegara, karena dalam prinsip ini, memuat “hak dan kewajiban” warga negera sebagai dasar kokoh berdirinya sebuah bangsa. Melu handarbeni, merupakan pengejawantahan dari kesadaran bahwa Negara bukanlah milik raja semata (sekarang Presiden ataupun pemimpin daerah-Red), namun milik semua rakyat. Penyadaran inilah yang dapat dipandang sebagai “kontrak sosial” antara raja dan rakyat sebagai peletak dasar budaya demokrasi. Prinsip ketiga dalam Tri Dharma adalah wajib melu anggondheli yang mengajarkan kewajiban untuk mempertahankan Negara bagi raja atau pemimpin dan rakyat secara bersama – sama, menurut sejarawan Sartono Kartodirdjo, prinsip inilah sebagai prinsip lahirnya Nasionalisme di Nusantara.
Memimpin adalah merakyat
Dalam menyimak “pelajaran” dari keteladanan Pangeran Sambernyawa, kita bisa melihat fakta dan realita sekarang ini, jarak antara pemimpin dengan rakyatnya begitu lebar, relasi elite dengan kaum alit (rakyat kecil), seolah terjadi hanya pada ritual lima tahunan yang amat formalistic dan kalkulatif. Karena dalam laku hidup keseharian para elite dan pemimpin kita memperlihatkan sikap anomali; individualis, memperkaya diri, bahkan tak segan menilep uang – uang yang sejatinya diperuntukkan untuk rakyat.
Berkaca pada tauladan sang Pangeran Sambernyawa, yang selalu dekat dengan rakyat, bisa dilihat dari bagaimana Pangeran Sambernyawa tidak pernah memperlakukan prajuritnya sebagai bawahan apalagi budak, tetapi sebagai sahabat dalam perjuangan. Hal ini, ia buktikan dengan kesetiaan terhadap rakyatnya dengan hidup di sebuah hutan di pedalaman selama bertahun – tahun. Karena Pangeran Sambernyawa sadar betul bahwa rakyat adalah asset untuk meraih kemenangan, begitu juga dalam membangun bangsanya, karena itu, Pangeran sambernyawa menempatkan rakyat sebagai tujuan dari perjuangannya.  Hingga suatu ketika, pasukannya hamper saja terlena dan lupa diri dalam luapan euphoria kemenangan, Pangeran Sambernyawa segera menyadarkan mereka dengan berseru, “Kemenangan ini bukan kemenangan kalian, juga bukan kemenanganku. Kemenangan ini adalah milik rakyat, karena rakyat ada untuk kita,” seru sang Pangeran kepada para bala tentaranya.
Kesadaran untuk selalu instrospeksi diri inilah yang membuat kekuatan Mangkunegara bertambah kuat, karena sang Pangeran mengajarkan bahwa kemenangan/kesuksesan yang diraih bukan lantaran darah satu orang, bukan pula kerja satu orang, tetapi hasil kerja kolektif.
Dalam sebuah fragmen sejarah, diceritakan bahwa konon Pangeran Sambernyawa singgah di gubuk perkampungan kecil untuk beristirahat dalam peperangan melawan bala tentara Belanda. Dalam persinggahannya inilah Pangeran Sambernyawa mendapatkan strategi perang untuk mengalahkan pasukan Belanda yang sudah mengepungnya beserta sisa – sisa pasukannya. Inspirasi tersebut datang dari ketika Pangeran Sambernyawa menyantap bubur jenang katul dari seorang Mbok Rondo (Janda Tua) di sebuah gubug. Awalnya Pangeran Sambernyawa langsung mengambil bubur dari bagian tengah, namun karena bubur masih panas, membuat lidah sang Pangeran terasa kaku. Hal ini segera diingatkan oleh Mbok Rondo, bahwa cara menyantap bubur jenang kathul yang masih panas adalah dengan menyisirnya dari pinggir kemudian baru ke tengah.
“Pangeran, kalau makan jenang kathul itu jangan langsung di tengah, tapi dari pinggirnya dulu, terus muter, jadi pas sampai tengah kan sudah dingin,” kata Mbok Rondo.
Mendengar ucapan Mbok Rondo tersebut, Pangeran Sambernyawa tertegun sejenak dan merenung, sementara pasukan Belanda mulai mencium keberadaannya dan mengepung setiap sudut kampong tempat Pangeran Sambernyawa dan pasukannya singgah.  Inspirasi dari cara memakan bubur panas inilah yang akhirnya membuat sang Pangeran memenangkan pertempuran dengan cara menyisir pasukan Belanda dengan cara melingkar seperti saat makan jenang kathul yang masih panas, dan berhasil memangkan pertempuran.
Dari ilustrasi tersebut, nampak jelas bahwa sebagai seorang pemimpin, Pangeran Sambernyowo tidak segan untuk menerima masukan dari rakyatnya. Seperti dicontohkan bahwa dirinya tidak melihat siapa yang mengucapkan untuk memberikan masukan dalam upaya membela kepentingan bangsa, seperti halnya saran Mbok Rondo dalam cara memakan jenang kathul panas, dijadikannya inspirasi dalam mengalahkan pasukan Belanda.
Pelajaran penting bagi seorang pemimpin, memang harus mau mendengar masukan dari rakyatnya sendiri, tentu dengan berbagai cara, bisa melalui staf, pemberitaan media, berdialog, atau bahkan turun langsung di tengah masyarakat. Namun sudah barang tentu, bahwa semua itu bukan hanya pencitraan semata, agar disebut dekat dengan rakyat.  (Agus Subekti)


Sumber : berbagai sumber