Tuesday, September 18, 2018, 9/18/2018 11:17:00 PM WIB
Last Updated 2018-09-18T16:22:30Z
NEWSSENI & BUDAYA

Wedding Henna, Antara Estetika Dan Budaya

Advertisement
Diah 'Jreng' Fatmawati saat melukis Henna di punggung tangan seorang mempelai perempuan sebelum terselenggara resepsi pernikahan. (Foto: Koleksi DF)

Salatiga, beritaglobal.net - Henna adalah sebuah seni menggambar tubuh (Body Painting). Sebuah seni yang berasal dari jazirah Arab ini, berbahan baku dari getah daun tumbuhan Lawsonia. Seperti kita ketahui, seni yang satu ini, melukis pada tubuh diantaranya tangan dan wajah.

Seperti dilansir dari halaman wikipedia.org, menyebutkan Henna dapat digunakan pada kulit tubuh, rambut dan kuku, sebagai bahan yang lembut yang dapat dikenakan pada bahan sutera, wool dan kulit. Dalam sejarah Henna di halaman wikipedia.org, Henna digunakan di jazirah Arab, sebagian suku Indian, sekitar timur tengah, sebagian asia tenggara, Eropa Timur, dan sebagian benua Afrika.

Nama lain yang digunakan untuk Henna untuk kulit dan rambut adalah Henna Hitam dan Natural Henna. Di era sekarang Henna telah berkembang dari bentuk awalnya berupa pasta menjadi serbuk. Serbuk inilah yang kemudian dicampur dengan cairan berupa air, jus lemon, biang teh, dan bahan lain berdasar pada tradisi di masing - masing daerah. Bahkan sebagian artis menggunakan gula dan bahan lain untuk meningkatkan keawetan Henna bertahan di kulit.

Karena keunikan dan cita rasa seni lukis yang tinggi, mendasari Diah 'Jreng' Fatmawati (27), seorang seniman Henna untuk acara resepsi pernikahan, yang tinggal di Metes Bonorejo RT 03 RW 05, Kelurahan Blotongan, Kecamatan Sidorejo, Kota Salatiga.

Kepada beritaglobal.net, Selasa (18/09/2018), Jreng (panggilan akrab Diah Fatmawati-red), menceritakan singkat ketertarikannya pada profesi unik ini.

"Emang dari kecil seneng gambar mas, trus lama - lama, tertariknya di gambar ukir - ukiran. Dulunya pas masih SMP cita - cita pengen jadi tukang Tattoo. Tapi kan dosa ya, akhirnya baru belajar Henna dari masa sekolah di SMP itu, kira - kira antara tahun 2005/2006. Mulai buka secara komersil sejak tahun 2012," ungkap Jreng membuka kisahnya.

Untuk cakupan konsumen, Jreng terbilang kondang di wilayah Kota/Kabupaten Semarang, Kota/Kabupaten Magelang, Kabupaten Temanggung, Kabupaten Boyolali dan Kota Salatiga.

"Paling daerah Semarang, Magelang, Temanggung, Boyolali, Ambarawa, Ungaran, dan yang pasti Kota Salatiga," ucapnya sambil tersenyum.

Saat ditanya tentang suka duka menjalani profesi pelukis Henna Pengantin, Jreng kemudian menceritakan suka duka dalam menjalani profesinya sebagai pelukis Henna Pengantin.

"Apa yaaa...Yaaa banyak mas, sukanya kita bebas berekspresi yaaaa....nonton pengantin suka dengan hasil karya kita, ikut seneng juga," kata Jreng dengan tertawa kecil.

"Untuk dukanya, lebih ke lokasi yang sering ga terjangkau GPS, trus banyak calon pengantin yang suka nawar - nawar, manajemen waktu juga kalo Henna pas rame - ramenya pengantin, kadang sampe 3 hari ga bisa tidur dan istirahat," ungkapnya dengan riang.

Jreng berharap bahwa peminat Henna semakin banyak, dan karya - karyanya semakin bisa diterima lebih banyak kalangan.

"Harapan yaaa...Semoga peminat Henna tambah banyak siih....Harapan buat aku sendiri yaaa semoga karyaku bisa diterima tambah banyak orang," cetusnya riang.

Ketika ditanya terkait harga untuk hasil karyanya, Jreng hanya terkekeh dan berucap, "Untuk harga cukup terjangkau kok, untuk dalam kota saya kasih harga Rp 200 ribu, dan untuk luar kota Rp 300 ribu," ujarnya. (Agus S/Yusi)