Saturday, October 13, 2018, 10/13/2018 11:19:00 AM WIB
Last Updated 2018-10-13T04:19:53Z
NEWSTOKOH KITA

Suka Duka Relawan WASH PMI Kota Salatiga Selama Membantu Korban Bencana Gempa Bumi di Lombok

Advertisement
Nur Handayani, salah satu tim WASH PMI Kota Salatiga saat bertugas di Malaysia tahun lalu. (Foto: Dok. Pribadi)


Salatiga, Beritaglobal.net - Tertulis dalam wall facebook Handyani Nung, salah satu relawan Water Sanitation and Hygiene (WASH) dari PMI Kota Salatiga, tentang suka dukanya bersama tim WASH PMI Kota Salatiga, selama hampir kurang lebih 30 hari di daerah bencana gempa bumi sejak 10 September hingga 10 Oktober 2018, Lombok, Nusa Tenggara Timur, Kamis (11/10/2018).

Dalam kisahnya, Handayani Nung menuturkan kisah semasa dirinya masih di Lombok, di tengah malam, di dalam tenda diantara deru ombak laut, camp relawan berada.

Disampaikan kembali oleh Handayani Nung kepada beritaglobal.net, Sabtu (13/10/2018) pagi, dirinya menyadari bahwa tidak semua orang tertarik untuk menjadi relawan. Mungkin banyak hal yang dipertanyakan. Apa sih untungnya jadi relawan?

"Tidak semua orang tertarik jadi relawan, mas. Pertanyaan yang sering muncul adalah, apa sih untungnya jadi relawan?" terangnya.

Namun, bukan Nung (panggilan akrab Nur Handayani), yang telah berikrar untuk mengabdikan dirinya sebagai salah satu relawan PMI Kota Salatiga, khususnya dari tim WASH.

"Kalau menurut saya pribadi, relawan itu banyak untungnya dan ada satu hal yang mungkin saja tidak akan di dapatkan di tempat lain. Pengalaman dan keluarga adalah hal yang istimewa yang bisa saya dapatkan ketika menjadi seorang relawan," kata Nung.

Sejak bergabung menjadi relawan PMI di tahun 2004 silam, Nung telah mendapatkan banyak pahit getir pengalaman lapangan.

"Sejak tahun 2004 saya bergabung menjadi relawan PMI (Palang Merah Indonesia), banyak sekali hal-hal yang saya dapatkan. Mulai dari ilmu yang bermanfaat, pengalaman pelatihan, penugasan, hingga keluarga baru," imbuhnya dengan nada bersemangat.

"Hingga detik ini pun, saat saya (masih) di Pulau Lombok dalam tugas TDB (Tanggap Darurat Bencana), banyak sekali pengalaman berharga yang saya dapatkan di lapangan. Dari cerita mengharukan hingga yang menyenangkan," jelasnya.

Baginya, musibah bukan menjadikan dirinya susah, namun dibalik musibah, selalu ada hikmah yang dapat memberinya pembelajaran berharga dalam kehidupan.

"Saat bertemu dengan anak - anak hingga orang dewasa, saat bisa membuat mereka tertawa atau bahkan hanya sekedar tersenyum di saat terkena musibah, itu adalah hal yang sangat luar biasa. Rumah roboh, perkakas rumah tangga hancur, tak ada jamban, hingga kesulitan mendapatkan air bersih. Banyak sekali pelajaran hidup yang saya dapatkan di sini. Salah satunya adalah 'Selalu ada hikmah dibalik musibah, selalu ada jalan di balik kesulitan'," tutur Nung dalam menggambarkan apa yang telah ia alami selama menjadi relawan.

Tidak banyak harapan dari para relawan, selain melihat para korban bencana kembali bangkit, tersenyum dan kembali melanjutkan roda kehidupan diantara puing tersisa.

"Tak banyak yang kami harapkan di sini. Kami hanya ingin melihat saudara - saudara kami di sini (Lombok-red) kembali bangkit, kembali tersenyum, dan memulai kehidupan yang lebih baik lagi. Cukup ucapan "terimakasih" yang dapat memuaskan hati kami. Ucapan "terimakasih" saat mereka mendapatkan air bersih dari kami. Ucapan "terimakasih" saat mereka kembali memiliki jamban. Ucapan "terimakasih" saat mendapatkan ilmu tentang kebersihan. Dan ucapan "terimakasih" saat air bersih kembali mengalir di tempat tinggal mereka," harap Nung sambil sedikit berkaca.

Ketulusan hati dalam menjalankan tugas sebagai relawan WASH PMI Kota Salatiga sebagai bagian dari sekian ratus relawan PMI se Indonesia, Nung, hanya berharap, Lombok Kembali Bangkit.

"Ya....itulah yang hanya bisa kami berikan, karena kami adalah tim "WASH" (Water Sanitation & Hygiene). Tak banyak, namun kami berkarya dengan hati dan iklas setulus hati. Harapan kami, Lombok segera bangkit kembali," tegasnya.

Kilas Balik Nur Handayani (Nung)

Nung sebelumnya merupakan anggota PMR sejak di SMP, SMA dan pada akhirnya ketika kuliah aktif sebagai Korps Sukarela di PMI Kota Salatiga. Selain sebagai aktifis pecinta alam dan peduli lingkungan, Nung juga aktif di Lembaga kemahasiswaan saat kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana Kota Salatiga.

Kartu tanda anggota sebagai fasilitator eWASH saat Nur Handayani di Malaysia

Selain hal tersebut, Nung juga masuk di lembaga training pengembangan Sumber Daya Manusia : HTC (Humanity Training & Consulting) Salatiga, sebuah lembaga yang bergerak dibidang training pengembangan SDM (Soft skill & motivation training), Outbound dan kegiatan gathering. Dari pengalaman tersebut yang membentuk dirinya sebagai pribadi dengan kemampuan dibidang Trauma Healing & Promosi Kesehatan, dengan ditunjang kemampuannya di PMI, sebagai bagian tim WASH (Water, Sanitation & Higiene Promotion), maka penugasan di Lombok yang banyak bergelut dengan bidangnya akan menjadikan pengalaman yang menarik dan semakin mengasah keilmuan spesialisasi yang dimilikinya.

Hal tersebut merupakan salah satu keuntungan menjadi relawan PMI, karena tiap pribadi diharapkan memiliki spesialisasi masing - masing dan harus mahir. Hal tersebut dimiliki oleh Nung dan dibuktikan dengan sertifikat Nasional dari Lembaga Sertifikasi Nasional di bidang WASH dan pernah juga sampai ditugaskan sebagai fasilitator pelatihan WASH di Malaysia pada tahun lalu. (Agus Subekti/Red)