Media Sosial Facebook Jadi Awal Malapetaka Bagi Mawar, Janji Dinikahi Berakhir Tersakiti -->

code ads

Media Sosial Facebook Jadi Awal Malapetaka Bagi Mawar, Janji Dinikahi Berakhir Tersakiti

Tuesday, January 22, 2019
Mawar bersama putranya hasil hubungan cintanya dengan RY, didampingi ayahnya saat mengadukan perbuatan RY ke unit Reskrim Polsek Getasan, Polres Semarang, Selasa (22/01/2019). (Foto: Dok. istimewa/ET)

Magelang, beritaglobal.net - Dalam memulai menjalin hubungan yang dimulai dari jejaring sosial sudah selayaknya menjadi pertimbangan banyak pihak untuk lebih dulu melihat realita kehidupan dan karakter orang yang dikenal melalui jejaring sosial tersebut.

Hal ini agar tidak terjadi nasib malang seperti yang dialami gadis asal Secang, Kabupaten Magelang, sebut saja namanya Mawar (18), pasalnya, dari perkenalan dengan RY (18), seorang pemuda asal Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis, Kabupaten Magelang melalui jejaring sosial Facebook, dirinya kemudian hamil hingga melahirkan seorang putera tanpa ada ikatan resmi (pernikahan).

"Saya kenal mas RY sekitar Juni 2017 lalu lewat Facebook, tidak lama dari perkenalan itu dia mengajak saya main dengan menjemput saya di jalan Desa Krincing. Saya diajak naik ke arah tempat wisata dan masuk ke salah satu kamar hotel,"  ungkap Mawar pada beritaglobal.net, Selasa (22/01/2019), saat mengadukan perbuatan RY ke kantor Polisi.

Diungkapkannya dalam aduannya bahwa dirinya baru mengetahui bahwa dia waktu itu diajak RY ke kawasan Wisata Kopeng, setelah ia dan anaknya tinggal di rumah RY selama lebih kurang 10 bulan.

"Saya baru tahu kalau waktu itu saya diajak menginap dan dipaksa berhubungan badan di sebuah hotel di Kawasan Wisata Kopeng, setelah saya tinggal di rumah mas RY selama kurang lebih 10 bulan setalah anak saya lahir," imbuh Mawar dengan muka sedih.

Saat beritaglobal.net mencoba mengkonfirmasikan hal ini kepada RY, dirinya sedang bekerja keluar kota. Hal ini diungkapkan oleh ayah RY, SR (50) di kediaman ketua RT, tempat asal RY. SR pun mengakui adanya peristiwa bahwa anaknya telah menghamili Mawar, dan karena ketidak cocokan Mawar dan anaknya, serta sikap Mawar selama tinggal di rumahnya membuat dia dan istrinya sakit hati dengan menyebut kondisi ekonomi keluarganya yang kurang mampu tapi banyak tingkah.

Ayah RY (sweater warna biru) saat memberikan informasi permasalahan anaknya dan Mawar, didampingi Ketua RT setempat, di kediaman ketua RT, Selasa (22/01/2019). (Foto: Dok. istimewa/ASB)
"Anak saya sekarang kerja di luar kota, memang betul kalau 3 hari setelah melahirkan anaknya, Mawar kami ajak tinggal di rumah kami selama kurang lebih 10 bulan, hingga hari Minggu kemarin kami antar Mawar pulang ke rumah orang tuanya. Hal ini karena Mawar dan RY sudah tidak cocok lagi, serta sering menyakiti hati kami selaku orang tua RY. Hal yang paling membuat jengkel adalah ungkapan Mawar kepada istri saya bahwa kami orang ndak punya, tapi banyak tingkah," kata SR dengan nada geram di kediaman Ketua RT setempat.

"Karena ucapan itu akhirnya, anak saya yang besar WR, istri saya dan seorang famili kami mengembalikan Mawar pulang ke rumah orang tuanya, pada Minggu (20/01/2019) kemari. Dan memang diungkapkan bahwa sudah tidak ada kecocokan juga antara anak saya dan Mawar," kata SR geram.

Salah satu tetangga SR, berinisial TM saat ada di kediaman ketua RT tersebut menambahkan bahwa saat proses penyelesaian permasalahan ini dengan orang tua Mawar, dirinya turut serta saat orang tua Mawar menerima uang sebesar 7,5 juta rupiah sebagai bantuan proses persalinan dari total nilai Rp 15 juta, dengan disepakati ditanggung berdua antara orang tua Mawar dan RY. Kemudian uang Rp 1 juta sebagai tanda asok tukon (pengikat-red) untuk Mawar.

"Saya waktu proses perundingan penyelesaian masalah RY dan Mawar juga ikut, malah juga menyaksikan saat orang tua Mawar menerima uang Rp 7,5 juta sebagai bantuan proses kelahiran anak Mawar, yang waktu itu dipikul bersama kedua orang tua masing - masing, dan uang asok tukon sebesar Rp 1 juta sebagai tanda pengikat," ungkap TM.

SR menimpali ungkapan TM, "Tidak benar kalau anak saya tidak tanggung jawab, karena waktu itu, anak saya dan Mawar akan dinikahkan resmi, namun karena belum cukup umur, belum diperkenankan oleh KUA setempat, dan orang tua Mawar telah menyiapkan pernikahan secara siri," timpal SR.

Sementara itu, pihak kepolisian Sektor Getasan Polres Semarang yang menerima aduan ini, akan melimpahkan permasalahan ini ke unit PPA Polres Semarang.

"Ya nanti kita koordinasikan kepada pimpinan untuk penanganan lebih lanjut biasanya akan dilimpahkan ke unit PPA, karena korban waktu terjadi peristiwa ini masih kategori bawah umur," ungkap petugas piket di unit reskrim Polsek Getasan yang enggan disebut namanya saat menerima aduan Mawar. (Eko Triyono)