Terungkap Fakta Mengejutkan Dalam Sidang Perdana Kasus Penipuan Wartawati Oleh Oknum TNI AD -->

code ads

Terungkap Fakta Mengejutkan Dalam Sidang Perdana Kasus Penipuan Wartawati Oleh Oknum TNI AD

Tuesday, January 29, 2019
Suroso 'Ucok' Kuncoro, S.H., M.H., menunjukkan foto Serka Yudha, saat mendampingi kliennya dalam sidang perdana perkara penipuan oleh oknun TNI AD di halaman Pengadilan Militer II-11 Yogyakarta, Selasa (29/01/2019). (Foto: Dok. istimewa/KHM)

Yogyakarta, beritaglobal.net - Telah diberitakan oleh beritaglobal.net beberapa waktu lalu, terkait dugaan penipuan oleh oknum TNI AD yang bertugas sebagai Babinsa di Koramil Tempuran 22, Kodim 0705 Magelang, bernama Serka Yudha Wahyu Windarto (36), terhadap seorang wartawati sebuah surat kabar di Jawa Tengah berinsial NN, memasuki sidang perdana, Selasa (29/01/2019).

Kepada beritaglobal.net, Kuasa Hukum korban (NN-red) Suroso "Ucok" Kuncoro, S.H., M.H., dari LAW OFFICE FAST & ASSOCIATES, Salatiga, disela sidang perdana yang berlangsung di Pengadilan Militer II - 11 Yogyakarta, Jalan Ringroad Timur, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta, Selasa (29/01/2019), bahwa agenda sidang perdana ini adalah mendengarkan saksi korban.

Baca juga: Merasa Tertipu Oleh Seorang Oknum TNI Mengaku Bujangan, Akhirnya Seorang Wartawati Menggugat

"Agenda sidang perdana hari ini adalah mendengarkan kesaksian korban," ungkap Ucok.

Selain NN, turut dihadirkan ibu kandung korban, serta ayah kandung dari terdakwa, Wagiran yang juga seorang Purnawirawan TNI berdomisili di Dusun Cepit RT 01 RW 01, Desa Banyuwangi, Kecamatan Bandongan, Kabupaten Magelang.

Terdapat fakta menarik dari keterangan korban NN di persidangan, bahwa ia mengungkapkan fakta - fakta baru jika terdakwa layak untuk dihukum seberat - beratnya.

Ucok mengungkapkan, bahwa salah satu fakta baru belum terungkap dalam penyidikan adalah ditengah kasus ini ditangani penyidik Sub Denpom Magelang, terdakwa diduga sengaja mengumpankan sosok korban kepada teman satu pendidikan Intel di Rindam IV yang berdomisli di Magelang.

Sebagian infomasi, saat korban melaporkan terdakwa ke Sub Denpom Magelang Yudha Wahyu Windarto ditugaskan satuannya Kodim 0705 Magelang mengikuti Pendidikan Bintara Intel Tahun 2018 Angkatan  IV, di Rindam IV/Diponegoro, Megelang.

"Mengumpankan disini, kami artikan bahwa terdakwa diduga menyodorkan sosok korban kepada teman terdakwa bersinisial Serda EP dengan bercerita macam - macam yang inti bahwa NN adalah sosok wanita yang mudah diporoti," kata Ucok,, di Yogyakarta, Selasa (29/01/2019).

Serda EP pun menyambangi rumah korban di Salatiga dengan arahan terdakwa. Tak hanya sebatas itu, alasan lain terdakwa memang memiliki niat menipu dengan diperkuat pengakuan Serda EP bahwa Yudha Wahyu Windarto sengaja tidak mengambil keperawanan korban NN selama berpacaran karena ketika nanti ada masalah dalam hubungan keduanya, NN akan divisum sehingga terdakwa lah yang harus bertanggung jawab.

Hal ini, menjadi point utama mengapa kami sebut terdakwa sudah punya niat jahat dan licik serta menjadi sosok pria matreliastis.

"Semua keterangan itu, kami bisa buktikan dengan pengakuan Serda EP sendiri yang menyebut kepada korban NN dalam sebuah percakapan via telpon. Dan kami masih punya rekamannya pembicaraan dengan Serda EP," ujarnya.

Fakta baru lainnya di ungkap NN dalam persidangan, bahwa ia memperlihatkan bukti sebuah rekaman video berdurasi kurang dari 1 jam jika terdakwa memang berniat mengincar korban.

Video ini hasil dari investigasi korban sendiri, yang dari hasik penyelidikannya, terdakwa masih tinggal satu atap bahkan masih berhubungan intim dengan istrinya bernama ES pada tanggal 9 April 2018.

Bukti lain yang diperlihatkan korban dalam persidangan cukup menohok terdakwa, bahwa adanya percakapan WhatsApp antara terdakwa dengan korban. Dimana, isi percakapan WhatsApp Serka Yudha Wahyu Windarto mengakui jika memang adanya kata - kata rencana pernikahan keduanya.

Percakapan WhatsApp tersebut terjadi pada saat oknum TNI itu diperiksa oleh Unit Intel Kodim 0705 Magelang. "Jadi, di hari setelah terdakwa diperiksa Unit Intel Kodim 0705 Magelang, Yudha ini langsung WA ke klien kami. Isi WA terdakwa intinya membujuk klien kami agar bersedia ada perdamaian pasca viralnya pemberitaan dirinya dengan klien kami ini di sejumlah media massa kala itu. Jadi, terdakwa Yudha menyebut sendiri memang adanya rencana pernikahan," papar Ucok.

Bujukan perdamaian ini, patut diduga agar terdakwa mendapatkan keringanan hukuman saat putusan persidangan atas semua penipuan yang dilakukannya.

"Fakta lain, disodorkan korban berupa screenshot isi percakapan ibu kandung korban kepada Serka Yudha Wahyu Windarto. Dimana, isi percakapan itu menyebutkan kekecewaan dan rasa malu seorang ibu atas tingkah laku penipuan dilakukan kepada anak kandungnya," ungkap Ucok.

Ucok menyebut bahwa dari perilaku terdakwa, korban menderita kerugian material mencapai Rp 90 juta, serta harus menanggung malu dari gagalnya rencana pernikahan yang sudah dipersiapkan oleh keluarga besar korban.

"Klien kami mengaku telah mengalami kerugian materi sebesar kurang lebih Rp 90 juta. Selain itu, klien kami dan  keluarga besarnya harus menanggung malu, lantaran agenda pernikahan yang harusnya digelar bulan Agustus 2018 lalu sudah dalam persiapan, akhirnya gagal," kata Ucok.

Dalam berita sebelumnya disebutkan bahwa diduga perbuatan terdakwa tersebut adalah sebuah persekongkolan jahat bersama istri dan orang tua terdakwa untuk menipu korban.

Untuk itu, ungkap Ucok, "Kami sebagai kuasa hukum korban, berencana melaporkan istri serta orang tua Serka Yudha Wahyu Windarto ke Sat Reskrim Polres Magelang," imbuh Ucok.

Ucok berharap bahwa peristiwa ini menjadi pelajaran untuk personel TNI aktif lainnya untuk tidak meniru perbuatan terdakwa yang merugikan orang lain.

"Kami juga meminta, agar kasus ini menjadi pembelajaran bagi rekan - rekan TNI lainnya, agar tidak coba - coba bermain - main, apalagi mempertaruhkan seragamnya untuk merugikan orang lain," imbunnya.

Ucok menekankan bahwa, pihaknya akan terus mengawal kasus ini bersama pihak - pihak terkait diantaranya organisasi Jurnalis Perempuan Jateng (JUPE).

"Kami pun mengucapkan terimakasih kepada Pangdam IV / Diponegoro hingga Panglima TNI dan memohon agar kasus benar - benar menjadi perhatian serius. Karena sosok TNI yang harusnya mengayomi justru berani melakukan penipuan terhadap warga sipil dan menghukum terdakwa seberat - beratnya, selain tentunya mengembalikkan semua uang milik klien kami," tegasnya.

Tanggapan Ketua JUPE

Sementara Ketua Jaringan Jurnalis Perempuan Jateng (JUPE) Rita Hidayati menambahkan, pihaknya mewakili organisasi terbesar menaungi hak - hak perempuan di Jateng sangat menyesalkan kejadian yang menimpa korban yang juga merupakan anggota JUPE.

Dia berharap aparat tidak tebang pilih dalam menangani kasus ini. Pihaknya telah beberapa kali beraudiensi dengan Kodam IV/Diponegoro melalui Kapendam. “Kami selaku media dan berkecimpung dalam perhatian perempuan korban kekerasan, berharap aparat berlaku adil terhadap kasus yang menimpa rekan kami. Atas tindakan pelaku kami menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum,” tukasnya.

Dia berharap, kasus tersebut tidak akan mempengaruhi independensi penegak hukum dalam menjalankan tugas penegakan hukum. Menurutnya, kasus tersebut sudah menjadikan korban mengalami kekerasan psikis sehingga cukup memberikan pengaruh pada saat menjalankan tugas kewartawanan.

“Harapan kami dari Jupe, segera ada kepastian hukum dan jaminan keadilan penegakan hukum atas kasus ini. Ini menjadi momentum bagi aparat TNI terkait komitmen bahwa tidak akan ada tebang pilih dalam melaksanakan penanganan kasus menyangkut anggotanya,” imbuhnya.

Ia memastikan, JUPE Jateng akan terus mengawal proses hukum ini hingga menjadi suatu keputusan yang memiliki kekuatan hukum tetap (inkrahct). (Khamim)