Isi Seminar Peningkatan Rasa Solidaritas Pelajar/Mahasiswa, Kapten Romdhoni : 'Pancasila Sebuah Pandangan Hidup dari Budaya Rakyat Indonesia' -->

code ads

Isi Seminar Peningkatan Rasa Solidaritas Pelajar/Mahasiswa, Kapten Romdhoni : 'Pancasila Sebuah Pandangan Hidup dari Budaya Rakyat Indonesia'

Thursday, March 14, 2019
Pasiter Kodim 0714/Salatiga Kapten Inf Romdhoni memberikan paparan tentang Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai - Nilai Pancasila, pada seminar Badan Kesbangpol Kota Salatiga dengan tema Generasi Berkarakter di Era Globalisasi, di Ruang Kaloka Gedung Setda Lt. 4, Pemkot Salatiga, Kamis (14/03/2019). (Foto: Dok. Pendim 0714/Salatiga)
Salatiga, beritaglobal.net - Dalam rangka lebih menanamkan karakter tentang kehidupan berbangsa dan bernegara berdasar pada ideologi Pancasila kepada Pelajar/Mahasiswa di Salatiga, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Salatiga, adakan Seminar Peningkatan Rasa Solidaritas Bagi Pelajar/Mahasiswa se Kota Salatiga tahun 2019, di ruang Kaloka lt. 4 Gedung Setda Pemkot Salatiga, Kamis (14/03/2019).

Seminar sehari yang diikuti oleh ratusan pelajar/mahasiswa se Kota Salatiga, menghadirkan 3 orang narasumber, diantaranya adalah Kepala Badan Kesbangpol Kota Salatiga Agung Nugroho, S.Sos., M.Si., dengan menyampaikan materi tentang Generasi Berkarakter di era Globalisasi, Pasiter Kodim 0714/Salatiga Kapten Inf Romdhoni dengan materi tentang Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai - Nilai Pancasila, dan menjadi pemateri pamungkas adalah Dr. Drajat Kartono, M.Si., selaku Akademi Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta dengan materi Peluang dan Tantangan Indonesia di Era Revolusi industri 4.0.

Peserta seminar dari pelajar tingkat SMA dan mahasiswa se Kota Salatiga. (Foto: Dok. Pendim 0714/Salatiga).
Saat memaparkan materinya, Agung Nugroho menyampaikan, "Syarat mutlak menjadikan Indonesia sebagai negara maju di dunia ialah harus mampu menaklukan tantangan yang ada di era globalisasi antara lain adalah tantangan politik, ekonomi, budaya, pendidikan dan lingkungan. Oleh karena itulah dalam menghadapi globalisasi diperlukan sikap kritis, yang dapat diartikan sebagai tantangan untuk dapat memberi manfaat bagi kehidupan masyarakat," ungkap Agung.

Selanjutnya Agung memaparkan tentang Globalisasi, dan karakter yang harus dimiliki generasi muda untuk menghadapi tantangan dimasa mendatang yang berfungsi menjadi modal yang sangat penting untuk bersaing dan bekerjasama secara terhormat di antara bangsa lain. "Karakterlah yang membuat bangsa Jepang cepat bangkit sesudah kekalahan dalam Perang Dunia Kedua dan mereka kembali berjaya di dunia internasional. Pembangunan karakter Korea Selatan sekarang jauh lebih maju dari Indonesia walaupun pada tahun 1920-an kedua negara secara ekonomi dan teknologi hampir sama," tandas Agung.

Sementara itu, Kapten Inf Romdhoni saat memberikan pemaparan tentang Revitalisasi dan Aktualisasi Nilai - Nilai Pancasila, menguraikan bahwa Pancasila sebagai dasar negara menjadi landasan setiap aspek penyelenggaraan negara termasuk segala peraturan perundangan dalam pemerintahan dan aspek - aspek kenegaraan lainnya.

"Pancasila sebagai ideologi negara dijadikan sebagai ideologi dasar pandangan bagi sistem kenegaraan untuk seluruh rakyat Indonesia. Sebuah pandangan hidup yang berasal dari budaya yang dijunjung tinggi oleh seluruh lapisan masyarakat. Merupakan sistem nilai yang dipilih dan dianut oleh bangsa Indonesia karena kebaikan, kebenaran, keindahan dan manfaatnya bagi bangsa Indonesia, sehingga dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari - hari. Kristalisasi dari nilai - nilai yang dimiliki suatu bangsa itu sendiri yang diyakini kebenarannya dan menimbulkan tekad untuk mewujudkannya. Dijadikan pedoman hidup bangsa atau of life adalah semua aktivitas kehidupan bangsa Indonesia sehari - hari harus sesuai dengan sila - sila Pancasila," urai Kapten Inf Romdhoni seperti disampaikan Pendim 0714/Salatiga Pelda Wahyudha Yudha Widharta kepada beritaglobal.net, Kamis (14/03/2019).

Selebihnya, Pelda Yudha menambahkan isi paparan Kapten Inf Romdhoni tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bhinneka Tunggal Ika, tujuan NKRI adalah seperti yang tertulis dalam Pembukaan UUD 1945 alinea ke - 4 yaitu Keadilan Sosial yang mengandung makna melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Ditegaskan oleh Kapten Inf Romdhoni, "Kesadaran berbangsa dan bernegara adalah kesadaran sebagai bangsa Indonesia, cita - cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia, hak dan kewajiban sebagai warga negara, hakikat NKRI, harkat martabat dan derajat bangsa Indonesia, peraturan UU yang berlaku, Bhinneka Tunggal Ika dan budaya Indonesia, sejarah perjuangan bangsa, simbol - simbol negara, keyakinan pada Pancasila sebagai ideologi dasar dan falsafah negara. Pancasila sebagai pandangan hidup dasar dan ideologi negara, lagu kebangsaan Indonesia Raya, Hari besar agama dan nasional, nilai kepahlawanan dan UUD 1945," tandas Pelda Yudha saat menyampaikan paparan Kapten Inf Romdhoni.

Revolusi Industri 4.0 

Adapun materi yang di sampaikan oleh Dr. Drajat Kartono, M.Si., tentang ''Peluang dan Tantangan Indonesia di Era Revolusi Industri 4.0''.  Apa itu Revolusi Industri 4.0, adalah revolusi teknologi mengaburkan batas antara bidang fisik, digital dan biologi. Revolusi industri 4.0, mengacu pada bagaimana teknologi seperti kecerdasan buatan atau artifisial inteligence, kendaraan otonom dan internet saling memengaruhi kehidupan manusia.

"Dampak revolusi Industri 4.0 pada bidang Ekonomi, yaitu Spat-capitalism sebagian pendorong munculnya pasar digital. Virtualisasi segala bentuk realita dalam transaksi ekonomi," terang Dr. Drajat kepada peserta seminar.

Perbedaan antara Revolusi Industri 3.0 yang berisi pada pemecahan masalah kompleks, berkoordinasi dengan yang lain, manajemen sumber daya manusia, berpikir kritis, negoisasi, kontrol kualitas, orientasi layanan, penghakiman dan pengambilan keputusan, mendengarkan aktif serta kreativitas, telah beralih menjadi Revolusi Industri 4.0, yaitu pemecahan masalah kompleks, berpikir kritis, kreativitas manajemen sumber daya manusia, berkoordinasi dengan yang lain, kecerdasan emosional, penghakiman dan pengambilan keputusan, orientasi layanan, negosiasi, fleksibilitas Kognitif. (Agus S)