Pemilih Lansia dan Pemilih Difabel Kesulitan Buka Surat Suara -->

code ads


Pemilih Lansia dan Pemilih Difabel Kesulitan Buka Surat Suara

Thursday, April 4, 2019
Salah satu pemilih lansia tampak kebingungan saat melakukan proses pencoblosan di bilik suara, saat dilaksanakan simulasi pencoblosan di TPS 01 Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. (Foto: dok. Humas Pemkot Salatiga)

Salatiga, beritaglobal.net - Ukuran kertas surat suara yang dirasa terlalu besar dan tidak ada petunjuk bagi pemilih tuna netra, menjadi kesulitan tersendiri bagi pemilih lanjut usia dan pemilih difabel untuk membuka dan melipat kembali kertas surat suara Pemilu 2019. Selain itu, mereka juga kesulitan mencari daftar nama peserta pemilu yang akan dicoblos.

Kendala yang dialami oleh pemilih berkebutuhan khusus tersebut ditemukan saat digelar simulasi pemungutan dan penghitungan suara oleh KPUD Kota Salatiga di TPS 01 Randuacir, Kecamatan Argomulyo Salatiga, Kamis (03/04/2019).

Selain masalah di proses pemungutan suara, potensi masalah juga ditemukan pada data pengguna hak pilih tidak sesuai dengan data pemilih yang telah menggunakan hak pilih.

Sebagaimana disaksikan dalam simulasi pemungutan suara yang berlangsung mulai pukul 07.00 hingga pukul 13.00, pemilih difabel dan pemilih lanjut usia mengalami kesulitan membuka lipatan kertas surat suara yang ukurannya terlalu lebar. Karena kendala tersebut, para pemilih lanjut usia dan difabel harus didampingi oleh petugas KPPS dan keluarganya saat berada di bilik suara. Bahkan, mereka juga kebingungan saat berusaha mencari daftar nama peserta Pemilu.

“Saya kesulitan saat membuka lipatan dan melipat kembali surat suara, karena ukurannya terlalu besar,” tukas salah seorang pemilih difabel, Anastasia Cahya Rahmatika.

Seorang pemilih difabel mencoba memasukkan kertas suara ke dalam kotak suara saat simulasi pemilihan umum, di TPS 01 Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. 
Sedangkan, temuan masalah pada awal proses penghitungan suara, yakni jumlah data pengguna hak pilih yang tidak sesuai dengan data pemilih yang sudah menggunakan hak pilih, dikarenakan adanya kekeliruan saat pendataan jenis kelamin pemilih oleh petugas KPPS. Beberapa temuan masalah dalam simulasi pemungutan dan penghitungan suara tersebut, oleh KPU akan segera ditindaklanjuti dengan mencari jalan keluar, sebagai pembelajaran dan formula meminimalisir munculnya masalah yang mengganggu kelancaran proses Pemilu Presiden, DPD, DPR RI, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota pada 17 April mendatang. Diharapkan, simulasi ini jiuga bisa membantu memberikan informasi kepada masyarakat tentang mekanisme Pemilu, khususnya bagi pemilih pemula, pemilih difabel dan pemilih lanjut usia.

Disebutkan Ketua KPUD Salatiga, Syaemuri Albab, bahwa simulasi riil pemungutan dan penghitungan suara pada Pemilu 2019 merupakan kegiatan serentak di seluruh Indonesia yang dirancang oleh KPU RI. Melalui simulasi di salah satu TPS di Kota Salatiga ini dimaksudkan untuk sosialisasi kepada masyarakat adanya proses pemungutan dan penghitungan suara dengan berbagai varian di dalam proses tersebut, sekaligus mengukur durasi waktu dari awal hingga akhir penghitungan suara.

“Inventarisasi masalah yang ditemukan di simulasi ini akan kita carikan jalan keluar. Kalau ada pemilih yang kesulitan melakukan pemungutan suara, KPPS bisa membantu jika dibutuhkan oleh pemilih. Memberikan bantuan dalam melipat kertas surat suara dan memberikan bantuan mencoblos masih bisa kami perkenankan selama mengikuti regulasi, termasuk menandatangani surat pernyataan,” terang Syaemuri

Turut menyaksikan jalannya simulasi, Asisten Pemerintahan dan Kesra Kota Salatiga, Dra. Gati Setiti, M.Hum., Kepala Badan Kesbangpol Agung Nugroho, S.Sos., Kapolres Salatiga AKBP Gatot Hendro Hartono beserta Jajaran, Anggota Kodim 0714 dan Bawaslu Kota Salatiga. (Fera Marita)