Ngabuburead Saung Kelir, Sarasehan Bersama Penulis "Alasanku Menulis"

Iklan Semua Halaman

Ngabuburead Saung Kelir, Sarasehan Bersama Penulis "Alasanku Menulis"

Friday, May 17, 2019
Sabar Subadri, pelukis dan penulis pemilik Galery Seni Saung Kelir, dalam acara Ngabuburead, Jumat (17/05/2019). (Foto: dok. istimewa/FMA)

Salatiga, beritaglobal.net - Belasan penulis Salatiga berkumpul di Saung Kelir, Jalan Merak No. 56, Kelurahan Mangunsari, Kecamatan Sidomukti, Kota Salatiga. Penulis penulis lintas generasi ini saling sharing pengalaman sebagai penulis dalam sarasehan antar penulis, Jumat (17/05/2019).

Sarasehan bertemakan "Alasanku Menulis" ini digagas oleh Sabar Subadri, penulis sekaligus pendiri Saung Kelir. Menurut Sabar Subadri penulis di Salatiga itu banyak namun belum terekspos oleh publik.

"Penulis di Salatiga itu ternyata banyak tapi belum terekspos. Harapan saya dengan sarasehan ini penulis - penulis di Salatiga bisa memunculkan, dirinya dan mendapat perhatian berbagai pihak. Sehingga penulis bisa memberi kontribusi yang besar untuk Salatiga sebagai smart city dan juga bisa memperoleh penghidupan sebagai penulis," tukas Sabar.

"Salatiga juga harus bisa menjadi Yogya baru, karena selama ini semua penerbit berasal dari Yogya, makanya Salatiga harus ada banyak penerbit sehingga Smart City bukan cuma slogan. Tapi juga menjadi Salatiga dengan SDM yang smart," imbuhnya.

Keseruan suasana dirasakan oleh semua peserta saat saling berbagi pengalaman sebagai penulis dan seluk - beluk kepenulisan.

"Sebuah naskah kalau ditolak oleh satu penerbit jangan putus asa karena naskah itu masih bisa diperbaiki dan dikirim ke penerbit lain. Intinya jangan pernah menyerah meski naskah kita di tolak penerbit," papar Mudjibah Utami sebagai salah satu peserta dalam acara ini.

Lain halnya dengan Anthony, dosen FTI UKSW yang juga seorang fotografer yang saat ini sedang menggagas gerakan Salatiga Butuh Museum ini bertutur tentang menulis dari sudut pandang fotografer.

"Dari sudut pandang fotografer, satu gambar hanya butuh satu caption saja. Dari situlah literasi visual seseorang bisa diukur dari cara dia membaca sebuah foto. Karena foto itu sebenarnya menyimpan banyak cerita. Kalau untuk saat ini saya memang banyak menulis  karena memang harus ada sesuatu yang ditulis untuk membangun awareness (kesadaran) pembaca terutama di sosmed tentang gedung - gedung bersejarah di Salatiga. Hal ini untuk mewujudkan misi saya membangun satu gerakan Salatiga Butuh Museum," ujar Anthony.

Diantara peserta ada juga seorang penulis disable asal Bandungan yang banyak bertutur mengenai nasib disable yang susah mendapat pekerjaan sehingga menulis merupakan self healing tersendiri buatnya.

"Menulis adalah self healing karena tulisan itu seperti diary. Tulisan saya berawal dari rasa frustasi karena setelah lulus sarjana tidak bisa diterima di perusahaan. Mencari kerja susah. Lalu saya ketemu kompasiana dan saya ingin tulisan saya di baca banyak orang. Setelah gabung di kompasiana akhirnya  saya banyak menerbitkan buku antology," papar Galuh, peserta dari Bandungan. (Fera/Vitri)