KTT G-20, Amerika Menilai Masih Ada Distorsi Untuk Capai Phrosperity -->

code ads


KTT G-20, Amerika Menilai Masih Ada Distorsi Untuk Capai Phrosperity

Sunday, June 30, 2019
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani didampingi Menteri Luar Negeri Retno Marsudi saat memberikan keterangan pers di Hotel New Otani, Osaka, Jepang, Jumat (28/06/2019). (Foto: dok. istimewa/Laily)

Osaka, beritaglobal.net - Forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-20 dimulai pada Jumat (28/06/2019), dihadiri oleh seluruh negara-negara anggota G20 dan 17 negara tamu, serta organisasi internasional. Pada pertemuan ini, seluruh kepala negara yang hadir diberikan kesempatan untuk berbicara.

Dikutip dari Siaran Pers Sekretariat Kabinet RI, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengatakan pernyataan - pernyataan para pimpinan dalam KTT G-20 menjadi perhatian. Terutama pernyataan yang disampaikan Presiden Trump, Presiden Xi Jinping dan beberapa pimpinan lain tentang situasi ekonomi yang dihadapi dunia saat ini.

“Dari pernyataan para pimpinan, terutama semua memperhatikan apa yang disampaikan Presiden Trump, Presiden Xi Jinping, dan beberapa pimpinan-pimpinan mengenai situasi yang sedang dihadapi saat ini,” ujar Menkeu kepada para wartawan di Hotel New Otani, Osaka, Jepang, Jumat (28/06/2019).

Menkeu menyebutkan, nampaknya masih ada jarak yang cukup signifikan dari para pimpinan, terutama antara Presiden Trump dan pimpinan yang lain.

Menkeu Sri Mulyani kemudian meneruskan pernyataan yang disampaikan oleh Presiden Trump, bahwa mereka (Trump/Amerika) menginginkan isu trade yang adil dan adanya reproksikaliti, saling sama adil. Trump juga menekankan pentingnya memungkinkan level playing field dan mengeliminasi tindakan policy yang dianggap tidak adil.

“Dalam hal ini, Trump bahkan menggunakan kata Predatory Nation yang bisa memanfaatkan perekonomian Amerika. Ini menggambarkan bahwa di dalam konsep Presiden Trump, masih ada negara - negara yang dianggap melalukan praktik - praktik yang dianggap merugikan Amerika Serikat,” jelas Menkeu.

Oleh karena itu, Presiden Trump mengajak supaya kita semua harus menghilangkan berbagai macam distorsi untuk mencapai phrosperity atau yang disebut kesejahteraan bersama.

Disisi lain, Presiden Xi Jinping menganggap situasi ini adalah hasil dari kebijakan yg dibuat oleh seseorang oleh suatu negara. Sehingga keinginan untuk menciptakan win - win solution adalah merupakan fungsi dari keinginan kita untuk memperbaiki atau menciptakan solusi itu sendiri atau tidak.

Menkeu menyatakan bahwa akan ada pertemuan antara Presiden Trump dan Presiden Xi Jinping. Ia mengungkap dari sisi RRT meyakini kalau win - win solution bisa dilakukan jika kedua negara memiliki niat yang baik untuk mencapai solusi tersebut.

“Masing - masing tentu masih menggunakan retorika, yang jelas dari sisi RRT mengatakan kalau kita ingin mencapai win - win solution itu pasti bisa dilakukan asal kedua - duanya memiliki niat yang baik untuk mencapai solusi tersebut,” ungkap Menkeu.

Sementara itu, Presiden Trump menganggap masih ada tindakan tindakan yang perlu di koreksi. (ASB/HMS)