Safari Jurnalistik PWI 2019 Jawab Kegelisahan Wartawan Jateng di Era Digital -->

code ads

Safari Jurnalistik PWI 2019 Jawab Kegelisahan Wartawan Jateng di Era Digital

Wednesday, July 24, 2019
Safari Jurnalistik PWI 2019 di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah, Rabu (24/07/2019). (Foto: dok. Humas PWI)

Semarang, beritaglobal.net - Berangkat dari kegalauan dan kegelisahan, di era digital ini apakah wartawan akan bertahan hidup? Lalu bagaimana agar selalu menjaga independensi dan netralitas?

Berbagai pertanyaan seputar dunia jurnalistik di era milenial ini dikulik secara asyik dalam Safari Jurnalistik PWI 2019, yang diselenggarakan di Kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Tengah, Rabu (24/07/2019).

Dalam release diterima beritaglobal.net dari Humas PWI, Ketua PWI Provinsi Jawa Tengah Amir Machmud mengutarakan, gempuran berita - berita yang begitu cepat dan banyak, membuat kehidupan media menjadi serba tidak jelas dan begitu mengelisahkan. Meskipun begitu, Amir mengingatkan jurnalis agar selalu menjaga independensi dan netralitas dalam setiap pemberitaan.

“Wartawan harus menjaga teguh independensi dan netralitas,” ujar Amir dalam diskusi yang dihadiri oleh berbagai awak media, seperti wartawan media online, televisi, radio dan cetak.

Komisi Pendidikan PWI Pusat Hendro Basuki menambahkan, jurnalis juga dituntut membekali diri dengan prinsip - prinsip jurnalistik dalam melaksanakan tugasnya. Kode etik, Undang-undang Pers dan ITE, maupun sistem peradilan anak, mesti selalu dipegang teguh. Jangan sampai jurnalis malah membuat berita yang tidak benar dan meresahkan masyarakat. Mengutip pendapat Publitzer, Hendro menyampaikan rohnya jurnalisme itu di atas kecerdasan. Harus selalu ada hati nurani.

Sementata itu, Ketua Bidang Pendidikan PWI Nurjaman Mochtar mengungkapkan, bertahun-tahun berkecimpung di dunia broadcast bukan berarti bisa jumawa. Dia bercerita ketika menjadi narasumber pada salah satu universitas di Yogyakarta, di mana Nurjaman kalah pamor dengan seorang remaja berpenampilan sederhana yang ternyata memancing perhatian para audiens. Remaja itu ternyata seorang YouTuber yang memiliki banyak subscriber.

Dia mengakui seiring perubahan zaman, platform media pun berubah. Di era digital seperti sekarang, internet dan media sosial menjadi primadona masyarakat dalam mencari informasi. Menyikapi hal itu, Nurjaman membagikan tips agar tetap bertahan di era digital 4.0 dengan memaksimalkan internet dan media sosial dengan konten yang menarik. Sehingga dapat menarik perhatian sekerumunan orang.

Pemateri lainnya, Ahmed Kurnia Suriawidjaja berpendapat, masyarakat tetap butuh media mainstream sebagai media penyaring dari kepungan informasi-informasi media sosial. Menurutnya, masyarakat lelah oleh berita-berita yang datang begitu cepat dan silih berganti, sehingga membutuhkan sebuah media patokan yang terpercaya.

Bagi Ahmed, media mainstream dapat menjadi media jujugan atau yang dapat dipercaya kredibilitasnya. Dia menyarankan agar media mainstream meningkatkan branding dan kualitas pemberitaannya agar mendapat kepercayaan dari masyarakat.

“Jangan khawatir, masyarakat masih butuh media mainstream sebagai media referensi atau patokan yang terpercaya,” tegas Ahmed.

Yuvita, peserta yang juga jurnalis TATV menyatakan senang mengikuti Safari Jurnalistik. Sebab, selain bisa sharing dengan sesama jurnalis, materi yang disampaikan dapat bermanfaat untuk menunjang pekerjaannya sebagai jurnalis. (Kris/HMS)