Kekeringan Melanda, Ribuan Petani Desa Semowo Keluhkan Buruknya Jaringan Irigasi

Iklan Semua Halaman

Kekeringan Melanda, Ribuan Petani Desa Semowo Keluhkan Buruknya Jaringan Irigasi

Thursday, August 8, 2019
Sutrimo dan tanaman cabai miliknya yang nyaris kering dan tidak berbuah karena kekurangan air di area sawah Desa Semowo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. (Foto: istimewa/YTA)

Ungaran, beritaglobal.net - Musim kemarau panjang menjadikan sebagian lahan pertanian di kawasan Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, alami kekeringan. Salah satu kawasan yang mengalami kekeringan lahan pertanian terparah dialami para petani di Desa Semowo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Ratusan hektar lahan sawah petani di Desa Semowo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, dilanda kekeringan.

Saat dikonfirmasi beritaglobal.net di kediamannya, Jumat (09/08/2019), salah satu tokoh masyarakat Hendro Wahyono menyampaikan bahwa sejak masa tanam ke dua bulan Februari 2019 hingga kini, sebanyak 1.325 petani alami gagal panen.

"Masa tanam pertama di Desa Semowo, biasa dimulai pada bulan Oktober hingga Januari," ungkap Hendro.

Kekeringan tahun ini adalah kedua kalinya sejak melanda di tahun 2013 lalu. "Tahun ini sama halnya di tahun 2013 lalu, namun kali ini lebih parah. Cakupan lahan pertanian yang alami kekeringan di Desa Semowo mencapai luas 387,2 hektar untuk sawah dan lahan kering mencapai luas 239 hektar," imbuhnya.

Ditambahkan oleh Hendro, upaya yang telah dilakukan para petani adalah, kerja bakti untuk mencari air dan bersih - bersih sungai dari aliran sungai di sepanjang umbul Senjoyo.

Proses menelusur aliran irigasi oleh petani Desa Semowo di sepanjang aliran irigasi Bendung Cepoko.
"Kendala, jarak sumber air dengan area persawahan terlalu jauh. Kondisi jaringan irigasi yang masih berupa tanah atau belum dibangun secara memadahi, menyebabkan penurunan debit air serta membutuhkan waktu hampir 12 jam untuk air sampai ke wilayah kami dari area Kedung Cepoko di Desa Ujung - Ujung," tandas Hendro.

Dampak Kekeringan 

Senada dengan Hendro, beberapa petani yang ditemui beritaglobal.net di area sawah menyatakan bahwa dengan adanya kekeringan ini, mereka banyak merugi. Tanaman padi yang gagal panen, hingga alternatif tanaman non padi yang tidak dapat dipetik hasilnya.

Sutrimo, salah satu petani cabai dari lebih kurang 1.325 petani di Desa Semowo, menunjukkan kondisi tanaman cabai miliknya yang nyaris mengering dan tidak berbuah.

"Ini contohnya, tanaman cabai kami tidak ada yang keluar buahnya. Kami sudah keluar modal besar," ujar Sutrimo.

Menyambung apa yang diungkapkan oleh Sutrimo, Suwadi (70), warga RT 01 RW 01 Desa Semowo, mengharapkan pemerintah memperhatikan saluran irigasi yang masih buruk. "Bila memungkinkan jaringan irigasi di tambah melalui Desa Karanggondang, agar air bisa sampai ke tempat kami," imbuh Suwadi.

Pintu air dari embung terdekat adalah di Bendung Cepoko di Desa Ujung - Ujung. Selain jalur irigasi diperbaiki dan ditambah, Suwadi mengharapkan perbukitan Prangkokan, dapat ditanami dengan tanaman yang menyerap air.

Beda hal yang dialami oleh para petani, Sutarni (45), RT 01 RW 01 Dusun Krajan, Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, seorang pengrajin Kepang (anyaman bambu) untuk menjemur gabah setelah musim panen, merasakan penurunan pesanan Kepang yang menurun drastis.

"Karena hampir dua musim tidak ada yang panen padi, pesanan Kepang ke tempat saya menurun drastis," ujarnya.

Sutarni, pengrajin Kepang di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang.
Sutarni dan suaminya, di tahun lalu, mampu menjual 8 - 10 lembar Kepang di Pasar Desa Semowo. "Kami biasa jual Kepang di Pasar Semowo, untuk Kepang ukuran 2 meter X 4 meter, biasa kami jual di kisaran harga Rp 135 ribu, namun saat ini kami hanya bisa layani pesanan 1 lembar per bulannya, pungkas Sutarmi. (Yusi T)