Indigofera Zollingeriana, Solusi Praktis Pasokan Pakan Konsentrat Hijauan Untuk Peternak Modern

Iklan Semua Halaman

Indigofera Zollingeriana, Solusi Praktis Pasokan Pakan Konsentrat Hijauan Untuk Peternak Modern

Friday, January 31, 2020
Riyadi, peternak kambing dan pembudidaya tanaman Indigofera Zollingeriana, menunjukkan tanaman hasil budidaya untuk bahan konsentrat hijauan ternak di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. (Foto: dok. pribadi/ASB)

Ungaran, beritaglobal.net - Pasokan pakan dan nutrisi adalah hal mutlak bagi para peternak, karena dapat mempengaruhi produktivitas dan reproduksi ternak, menjaga kesehatan ternak, mempengaruhi kualitas produk ternak, menentukan kesehatan serta keamanan produk ternak. Untuk itulah, kepastian ketersediaan nutrisi dan pakan harus dipastikan sumbernya, kesinambungan ketersediaan bahan pakan, kualitas bahan pakan yang terjaga baik, Nutrinomika bahan sangatlah penting, untuk menarik minat peternak lainnya.

Menyadari bahwa pentingnya pasokan pakan dan nutrisi untuk ternak, Riyadi (45) warga Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, mencoba mengembangkan sumber pakan alternatif untuk ternak kambingnya. Selain rumput Odhot, Riyadi juga menanam dan mengembangbiakkan tanaman Indigofera atau yang lebih dikenal dengan tanaman Tarum.

"Saya sudah lebih kurang satu tahun terakhir, mengembangkan tanaman Indigofera, selain rumput odhot untuk suplai hijauan ternak sapi dan kambing," ungkapnya kepada beritaglobal.net, belum lama ini.

Bermula dari 3 ekor kambing yang dia pelihara di awal tahun 2019, kini Riyadi memelihara sudah hampir 200 ekor kambing, dari kapasitas kandang miliknya yang dapat menampung 600 ekor kambing.

Ternak kambing domba milik Riyadi, di Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. (Foto: dok. istimewa/Agus)
"Saya mulai memelihara kambing di awal tahun 2019, awalnya 3 ekor, 1 jantan dan 2 betina, target kami bisa ribuan ekor," jelas Riyadi.

Riyadi yang juga sebagai Kepala Desa Kadirejo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, menargetkan bahwa dalam 3 tahun ke depan, desanya dapat mensuplai kambing domba 2.000 hingga  3.000 ekor per tahun. Dari asumsi, 1 ekor induk dapat beranak 3 kali dalam kurun waktu 2 tahun.

Dirinya, menyebut bahwa untuk pangsa pasar kambing di Jawa Tengah masih sangat terbuka luas. "Pemasaran masih mudah, karena saat masa Idul Adha, pasokan kambing sangat kurang," imbuhnya.

Kendala kekurangan pasokan rumput untuk pakan, dirinya merencanakan bahwa di Desanya dapat mensuplai rumput sendiri, apabila ada kelebihan stok, Pemerintah Desa akan menampung rumput dari para petani. Selain itu, perubahan iklim yang ekstrem seringkali membuat hewan ternak rentan terserang penyakit, namun dirinya menyebut bahwa adanya obat - obatan untuk mempercepat penyembuhan kambing yang sakit.

Saat ini, dirinya secara pribadi memberikan contoh kepada masyarakat di desanya, bahwa generasi muda yang terjun ke dunia pertanian dan peternakan, dapat menciptakan lapangan pekerjaannya sendiri, dan bahkan menyerap tenag kerja setempat.

"Pertanian dan peternakan adalah potensi rekan - rekan pemuda untuk mencipatakan lapangan kerjanya sendiri. Saya sudah memulai kerja sama dengan IPB, Undip, UNS untuk strategi beternak yang baik. Untuk pemasaran, kami menggandeng mitra dari penjual sate," terang Riyadi.

Keunggulan dan Keuntungan Indigofera Zollingeriana

Keunggulan Indigofera Zollingeriana yang dikembangkannya bersama dengan Dr. Ir. Luki Abdullah, M.Sc.Agr., seorang dosen peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), dijelaskan oleh Riyadi bahwa selain bermanfaat untuk alternatif konsentrat pakan hijauan, tanaman ini juga bisa mencegah tanah longsongsor dan menyelamatkan lahan kritis.

“Tanaman Indigofera Zollingeriana ini selain bagus untuk pakan, juga dapat memproduksi biomasa tinggi, mudah dibudidayakan, mudah diperbanyak, kualitas hijauan tinggi, toleran terhadap kekeringannya bagus, dapat pula menahan erosi, hal ini kan bagus dikembangkan untuk di lahan – lahan kritis, sehingga bagus untuk mengembalikan kesuburan tanah, dan yang lebih penting, tanaman ini aman untuk ternak,” jelas Riyadi.

Dijelaskan lagi olehnya,  bahwa proporsi biaya pakan terhadap total biaya produksi semakin meningkat, pada era tahun 1980, untuk ruminansia (hewan pemakan rumput), proporsi biaya pakan mencapai 65% dari biaya total produksi. Sedangkan beberapa tahun terakhir, sudah meningkat lagi menjadi 70%, dan kondisi ini lebih rendah dibanding dengan peternakan unggas dan perikanan. Bila peternak unggas dan ikan, belakangan ini harus menanggung biaya pakan sebesar 75 – 80% dari total biaya produksi mereka.

“Peningkatan proporsi biaya pakan ini disebabkan oleh trend peningkatan penggunaan konsentrat pada ruminansia, komponen bahan baku masih import, serta persaingan penggunaan bahan baku, dan teknologi bioreinery,” ungkap Riyadi.

Melihat perkembangan konsentrat pakan ternak yang semakin pesat, Riyadi akhirnya memilih untuk mengembangkan tanaman Indigofera Zollingeriana. “Cara tanam dan perawatannya mudah, proses panen cepat, kurang lebih 40 hari, sudah bisa kita panen dan gunakan untuk ternak. Saya mengembangkan tanaman ini karena hitungannya jelas, dibanding dengan bahan konsentrat hijau lainnya, Indigofera lebih murah,” imbuh Riyadi menjelaskan keunggulan Indigofera dibanding tanaman lain.

Selain dari kandungan protein dan serat, tanaman Indigofera ini mengandung asam amino esensial yang cukup tinggi yaitu 62% dari kebutuhan asam amino yang dibutuhkan ternak. Khusus untuk kambing, prosentase kecernaan bahan kering mencapai 78 – 82%, dan kecernaan untuk bahan organiknya mencapai 77 – 80%.

“Kandungan nutrisi tanaman Indigofera ini, cukup tinggi, dari asam amino essensialnya, protein, abu, serat serta zat – zat nutrisi lainnya yang dibutuhkan hewan ternak. Selain untuk ruminansia, tanaman ini bagus juga untuk penggemukan sapi dan sapi perah, penggemukan dan kambing perah, bagi peternak kelinci juga bisa membantu mempermudah pakan hijauan. Konsentrat untuk ayam petelur, serta peternakan ikan gurame dan ikan nila,” terang Riyadi.

Penjelasan Riyadi, didukung pula penelitian yang dilakukan oleh Institut Pertanian Bogor, yang telah bekerja sama dengan Riyadi, dari hasil penelitian terhadap konsentrat berbahan tanaman Indigofera, para peternak ruminansia dapat menghemat biaya pakan antara 22 – 38 % dari biaya produksi. Sementara itu, untuk penghematan biaya pakan peternak ayam potong mencapai 7%, dan ayam petelur berkisar 11% dari biaya produksi.

Dalam proses pengembangan tanaman Indigofera, dirinya juga telah membuka ruang untuk petenak lain, bersama untuk berkembang, dengan membangun tempat untuk diskusi tentang pengembangan dunia peternakan, dalam wadah Forum Group Diskusi Peternakan Mandiri.  “Saya telah sediakan tempat, untuk rekan – rekan peternak bersama – sama berdiskusi di tempat saya, sudah ada wahana langsung, mulai dari kebun bibit, kandang, proses pembuatan pakan fermentasi, dan pengolahan pupuk,” terang Riyadi.

Lokasi peternakan kambing Riyadi, mudah dijangkau, bila dari pusat Kota Salatiga, bisa ditempuh dari jalan Raya Beringin – Salatiga, dengan jarak tempuh kurang lebih 10 kilometer dan lokasinya tepat ditepi jalan raya Semowo – Macanan, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. (Agus Subekti)