Berawal Dari Bangunan Mangkrak, Warkom Banana Coffee Jadi Tempat Berkumpulnya Anggota Komunitas di Salatiga

Iklan Semua Halaman

Berawal Dari Bangunan Mangkrak, Warkom Banana Coffee Jadi Tempat Berkumpulnya Anggota Komunitas di Salatiga

Wednesday, February 26, 2020
Live music di Warkom Banana Coffee sebagai isian hiburan pengunjung. (Foto: Dok. pribadi/Dwi)

Salatiga, beritaglobal.net - Kota Salatiga lebih dikenal sebagai salah satu kota terindah di Indonesia. Berada di kaki Gunung Merbabu, Salatiga memiliki udara yang sejuk, plus pemandangan alam yang istilah netizen Instagramable.

Daya tarik itulah, yang mendorong banyak kaum muda millenial Kota Salatiga untuk berlomba mengangkat kreativitas mereka di bidang bisnis kuliner tematik.

Adalah Dwi Wahyono, pendiri usaha konveksi dengan label "BananaSplit T.Shirt", tergerak untuk mendirikan cafe berbasis komunitas, "Warung Komunitas (Warkom) Banana Coffee" di Jalan Veteran No. 45, Salatiga, tepatnya di depan kantor KONI Kota Salatiga.

Tidak dipungkiri bahwa akhir-akhir ini, di wilayah Kota Salatiga "dibanjiri" berdirinya cafe - cafe mulai dari wilayah tengah kota hingga pinggiran Salatiga. Bahkan, cafe - cefe itu juga menawarkan sajian khasnya. Namun, ada satu cafe yang mungkin lain dari yang lain, yaitu "Warung Komunitas (Warkom) Banana Coffee". Warkom ini berada di Jalan Veteran 45 Salatiga (depan kantor KONI Kota Salatiga).

"Saya sengaja memberikan bantuan uang transport kepada pengisi acara "live music" maupun makan dan minum gratis untuk semua kru. Karena dengan sajian music tersebut ikut mengundang pengunjung atau konsumen untuk datang di Warkom Banana Coffee. Aliran musik yang mengisi live music bervariasi mulai dari keroncong, campursari, dangdut, pop, pop rock, jazz, bahkan tembang kenangan. Intinya, semua jenis aliran music boleh tampil di Warkom Banana Coffee ini," urai Dwi Wahyono, disela kesibukannya melayani pelanggan yang menikmati suasana gerimis dengan alunan music slow rock.

Sejarah Berdiri Warkom Banana Coffee

Bangunan Warkom Banana Coffee yang enam bulan lalu hanya bangunan tua yang tak terurus, kini disulapnya menjadi area pilihan kongkow dan pertemuan member komunitas - komunitas di Kota Salatiga dan sekitarnya.

"Awalnya mendirikan Warkom pada 12 Oktober 2019 lalu, lokasinya dulu boleh dibilang mangkrak karena dikomplek bangunan gedung tua ini banyak ditumbuhi ilalang. Dari niat yang menggebu, dan dorongan dari beberapa tokoh di Salatiga, akhirnya tempat yang dulu mangkrak saya "sulap" menjadi lokasi yang bersih, asri, ramai dan sudah tentu, menarik untuk dikunjungi," imbuhnya.

Pengunjung Warkom Banana Coffee dari berbagai komunitas di Kota Salatiga. (Foto: Dok. pribadi/Dwi)

Ayah tiga anak ini menambahkan, tagline Warkom Banana Coffee yang memiliki kapasitas hingga 300 pengunjung ini adalah "Dolan ORA Kudu Jajan - Penting Seduluran Selawase" (gratis ngopi, gratis WiFi, gratis nongkrong, dan gratis cas HP).

Selain menu makanan dan minuman yang memiliki cita rasa khas kuliner Salatiga (yang dikenal oleh sebagian besar orang - orang yang berkunjung ke Salatiga menyatakan kuliner nerkualitas dengan harga backpacker), setiap hari Rabu, Jumat dan Sabtu malam selalu digelar "live music" dari berbagai aliran. "Untuk group music yang mengisi acara "live music" di Warkom Banana Coffee ini, kami berikan uang transport yang layak. Juga kami berikan fasilitas makan minum gratis bagi kru yang dibawa group music tersebut," jelas Dwi yang familiar di kalangan aktivis organisasi di Kota Salatiga.

Aktif Berorganisasi

Memasuki usianya yang ke 37 tahun, Dwi Wahyono selain dikenal sebagai seorang pengusaha muda Kota Salatiga di bidang konveksi, juga aktif di berbagai kegiatan organisasi. Pendiri Best Hunting Club (BHC)/'club' berburu yang mempunyai anggota kurang lebih 1.500 orang juga sebagai Wakil Sekretaris Perbakin Salatiga.

Selain aktif di BHC, suami dari Winasisih ini yang tinggal di Jalan Jenderal Sudirman No. 235 Salatiga, juga aktif di PAPPRI sebagai Bendahara, di KONI Salatiga membidangi Sumber Daya. Serta di MPC Pemuda Pancasila (PP) Kota Salatiga dipercaya menjadi Bendahara. (Heru Santoso/Agus Subekti)