Menilik Jejak Perjuangan Dakwah KH Misbah Mendirikan Ponpes Al Ittihad Menurut Generasi ke 4 yang Teguh Memegang Tradisi Nasyrul 'Ilmi Waddin

Iklan Semua Halaman

Menilik Jejak Perjuangan Dakwah KH Misbah Mendirikan Ponpes Al Ittihad Menurut Generasi ke 4 yang Teguh Memegang Tradisi Nasyrul 'Ilmi Waddin

Wednesday, February 19, 2020
Sejumlah pengasuh pondok pesantren beramah tamah dalam nuansa kekeluargaan di kediaman Gus Rofiq selaku penerus Ponpes Al Ittihad, Poncol, Bringin, Kabupaten Semarang, disela acara Haul KH. Misbah, Rabu (20/02/2020). (Foto: dok. istimewa/Agus)

Ungaran, beritaglobal.net - Berawal dari sebuah keberanian dan kealiman seorang pemuda dari Desa Gogodalem, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, bernama Misbah, untuk mengamankan daerah sebelah utara Getas, yang oleh warga setempat waktu itu diberi nama Ngerkesan, dan terkenal angker, maka tanah yang letaknya di antara dua aliran sungai yang bertemu dan menjorok, daerah inilah yang disebut Poncol. Dimana kemudian, didirikanlah sebuah pondok pesantren yang masih bertahan hingga kini, dengan nama Al Ittihad.

Sejarah dan garis keturunan almarhum KH. Misbah, disampaikan oleh buyut (keturunan ke – 4) pendiri Ponpes Al Ittihad KH. Ainur Rofiq kepada beritaglobal.net, disela acara Haul KH. Misbah, Rabu (19/02/2020), almarhum K.H. Misbah adalah putra dari K. Raden Mertodito dan ibu yang bernama Nyai Asiyah. Dari garis keturunan K. Raden Mertodito berasal dari Syech Maulana Ishaq (Tuban).

"Kakek buyut saya adalah K. Raden Mertodito putra dari K. Mursodo bin K. Zamsari bin Wongso Taruno bin Bagus Towongso bin Raden Santri bin Raden Niti Negoro (Gogodalem) bin Bupati Korowelang (Kaliwungu) bin Sunan Kuning (Muria) bin Sunan Gedhe (Kadilangu) bin Timenggung Wilotikto (Tuban) bin M. Ainul Yaqin/Sunan Giri (Gresik) bin Syech Maulana Ishaq (Tuban)," ungkap KH. Ainur Rofiq yang akrab disapa Gus Rofiq.

Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren

Pada masa dewasa, KH. Misbah sempat pindah ke Desa Padaan, yang saat ini masuk di Kecamatan Pabelan dan pada tahun 1810 M, lahir putra yang pertama yang diberi nama Umar (Hasan Asy’ari). Tidak lama dari kelahiran putra pertamanya, KH. Misbah kemudian pindah ke Ngawi. “Saat di Ngawi lahir dua putra, yaitu Toyib dan Marzuqi dan seorang putri yang diberi nama Khotijah. Setelah 22 tahun di Ngawi beliau pindah ke Cikalan yang lokasinya berada di sebelah timur Dusun Poncol,” ungkap Gus Rofiq.

Karena dikenal memiliki ilmu syari’at yang baik, ditambahkan oleh Gus Rofiq, kakek buyutnya merasa bertanggung jawab untuk “nasyrul ‘ilmi waddin”.  “Kabar kealiman beliau didengar oleh Mbah Sinder, yang waktu itu sebagai penguasa Getas, di sebelah selatan Dusun Poncol, dan pada tahun ke empat sekembalinya dari Ngawi, beliau diminta oleh Mbah Sinder untuk mengamankan daerah sebelah utara Getas, yaitu wilayah Ngerkesan, yang terkenal angker. letaknya di antara dua aliran sungai yang bertemu dan menjorok, daerah inilah yang disebut Poncol . Ngerkesan dikatakan angker,” imbuhnya.

Dikisahkan sekilas oleh Gus Rofiq, daerah Ngerkesan ini dikatakan angker, disebabkan jika ada orang yang melewati daerah tersebut maka keselamatannya tidak dapat dijamin. Namun berkat izin Allah SWT, KH. Misbah dapat mengamankan daerah tersebut. Sebagai imbalannya daerah tersebut dihadiahkan menjadi hak milik KH. Misbah.

“Bukan pekerjaan yang ringan untuk mengubah hutan belantara menjadi tempat pemukiman dan bercocok tanam seperti sekarang ini. Maka, waktu itu, mbah Misbah dengan dibantu oleh Yadi dan Safron melaksanakan tugas tersebut, walaupun putera - puteri mereka masih kecil - kecil.  Adapun Umar (Hasan Asy’ari) kerjanya hanya bermalas - malasan dan suka kelenceran, hanyalah orang - orang yang punya ketabahan, kesabaran, dan keuletan yang dapat melaksanakan tugas berat tersebut,” kenang Gus Rofiq.

Perkembangan wilayah Dusun Poncol sebagai daerah pemukiman dan banyak warga sekitar yang datang untuk menimba ilmu agama dari KH. Misbah, membuat Umar sadar, dan akhirnya mulai belajar mengaji. Kala itu, Umar kemudian menimba ilmu agama di Termas, dan berpindah ke Mangkang, hingga akhirnya belajar mengaji di daerah Jambu, Ambarawa, dibawah asuhan KH. Zainuddin. Umar kembali ke Poncol, setelah dinikahkan dengan putri dari KH. Zainuddin yang bernama Natijah, dan bersama – sama KH. Misbah, kemudian mengembangkan Ponpes Poncol dengan bermula dari hanya 10 petak kamar untuk para santri.

Haul KH. Misbah

Sebagai bentuk penghormatan dan menjaga marwah Pondok Pesantren Al Ittihad, Poncol, setiap tahun diadakan acara pengajian untuk memperingati perjuangan KH. Misbah dalam mengajarkan ilmu syari’at.

“Rangkaian acara Haul KH. Misbah, kakek buyut saya ini adalah untuk nguri – uri (menjaga) salafiah ngaji kitab kuning, ilmu hadis dan Al Quran, dan kegiatan lain oleh santri di ponpes Al Ittihad ini, seperti aktivitas olah raga bola voli, sepak bola dan kegiatan lain yang rutin dikerjakan oleh santri. Rangkaian acara lainnya adalah pada hari Selasa (18/02/2020) malam, diisi oleh majelis sholawat yang dipimpin oleh Gus Asmi dari Ponpes As Syiqiyah Batu Ceper, Tangerang yang kebetulan juga nduriyah dari Kyai Haji Iskandar, Banyuwangi,” ungkap Gus Rofiq.

Sementara itu, salah satu tamu undangan yang hadir, Usman Hanafi selaku pengasuh Majelis Manakib Brojo Jito, Desa Pakis, Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang, kepada beritaglobal.net, menyampaikan bahwa kegiatan ini adalah untuk mendidik dan mendukung masyarakat dalam mengenang perjalanan para Auliya Illah, dimana diharapkan, kedepannya dapat menjadi masyarakat atau umat yang dapat menjunjung tinggi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan menjunjung tinggi ahlus sunnah wal jama’ah.

“Acara ini didukung oleh pengasuh pondok – pondok pesantren dari seluruh Indonesia, karena nduriyah K.H. Misbah ini sudah banyak tersebar di mana – mana, seperti di Bali, Lombok dan daerah lain di Indonesia,” pungkas Usman. (Agus Subekti)