Potensi Rempah Untuk Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga, Budi Prasetyawan : Berikan Informasi Secara Terus Menerus ke Masyarakat Tentang Potensi Desa, Beri Contoh Mereka Bagaimana Cara Mengungkap dan Mengembangkan Potensi Desa

Iklan Semua Halaman

Potensi Rempah Untuk Tingkatkan Kesejahteraan Keluarga, Budi Prasetyawan : Berikan Informasi Secara Terus Menerus ke Masyarakat Tentang Potensi Desa, Beri Contoh Mereka Bagaimana Cara Mengungkap dan Mengembangkan Potensi Desa

Saturday, February 15, 2020
Workshop tentang pengolahan rempah khususnya jenis rimpang seperti Kunyit, Jahe, Temulawak, Kencur dan Lempuyang di Desa Penawangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. (Foto: dok. pribadi/Budi)

Ungaran, beritaglobal.net – Sebagai seorang pengusaha di sektor Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Budi Prasetyawan, warga Dusun Toyogiri RT 01 RW 03, Desa Delik, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, merasa prihatin dengan belum maksimalnya pembudidayaan tanaman rempah, khususnya jenis tanaman rimpang seperti Kunyit, Jahe, Temulawak, Kencur, Lengkuas dan Lempuyang.
Dimana jenis – jenis tanaman rimpang atau yang dalam bahasa latinnya disebut rhizome, menurut Budi, tanaman rimpang selain mempunyai manfaat sebagai bahan obat tradisional karena mempunyai kandungan minyak atsiri dan alkaloid, tanaman rimpang atau yang di Jawa Tengah lebih familiar dengan sebutan empon – empon, juga bisa dimanfaatkan sebagai bahan baku makanan dan minuman.

Budi Prasetyawan sebagai pendamping Desa Penawangan dan juga sebagai pemilik AIG Bunda Nisa, saat menjelaskan produk hasil olahan rempah - rempah kepada peserta workshop. (Foto: dok. pribadi/Budi)
Budi yang terlahir di Purworejo, 43 tahun silam, kini telah dikaruniai 4 orang putra/putri, memulai usaha di bidang otomotif, dirinya melihat data sensus pertanian, saat ini usia petani 75% nya sudah berusia lanjut (diatas 50 tahun), dan upaya untuk mendidik petani – petani muda masih sangat minim, khususnya di tingkat desa. “Petani – petani kita saat ini usianya sudah diatas 50 tahun, dan yang dibawah 50 tahun dari hasil sensus pertanian beberapa tahun lalu tinggal 25 persen dari jumlah total petani di seluruh Indonesia. Untuk itu, saya tergerak untuk mencoba menghasilkan produk yang berkualitas berbasis usaha rumah tangga, seperti halnya yang telah saya coba adalah rempah, seperti kunyit, jahe dan temulawak,” ungkap Budi kepada beritaglobal.net, Kamis (13/02/2020).

Budi Prasetyawan yang juga sebagai tenaga pendamping Desa Delik, Tuntang, Watuagung, Tlogo, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang, berpendapat bahwa perlu adanya penyampaian informasi yang secara terus menerus oleh Pemerintah Desa, tentang potensi desa yang bisa dijadikan sumber penghasilan penduduknya. “Saya lebih berpendapat, bahwa pemerintah desa itu jangan bosan untuk memberikan sebuah informasi kepada masyarakatnya. Perangkat desa ini jangan bosan untuk menyampaikan informasi potensi desa yang bisa dikembangkan, bila ini tidak ada aksi nyata, ada benarnya, bila pemuda di desa tidak tertarik untuk menjadi petani,” jelas Budi.

Untuk mengembangkan UMKM di desa, Budi memiliki sisi pandang tersendiri, bahwa di masyarakat umum itu masih memerlukan contoh nyata untuk menjalankan usaha kecil menengah. Harus ada yang menginisiasi, mendampingi dan memberikan solusi – solusi tentang bagaimana mengelola usaha dengan baik, mengembangkan jejaring pasar, mengemas produk sehingga lebih menarik minat beli konsumen.

Produk olahan rempah - rempah Budi Prasetyawan dengan kemasan modern dari bahan baku lokal di Desa Penawangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. (Foto: dok. pribadi/Budi)
“Saya contohkan tentang pemanfaatan dan pengembangan rempah – rempah ini. Dasar berfikir saya sederhana, bangsa kita dulu dijajah oleh bangsa asing karena rempah – rempahnya, kan? Trus, disitu pasti ada potensi yang luar biasa, tinggal bagaimana kita mengolahnya. Pada tahun 2016 lalu, akhirnya saya mulai mencoba membuat produk olahan dari Kunir (Kunyit-red) untuk saya jadikan bahan makanan instant seperti bubuk kunyit, sirup kunyit, bahkan yang siap minum baik yang diminum hangat ataupun dingin yang lebih segar,” terang Budi Prasetyawan.

Dari pengalaman yang telah dijalani Budi selama menjalani uasahanya, mengemas produk bukan sekedar wadah untuk sebuah produk, tapi di kemasan inilah yang bisa dijadikan sebagai sarana mengenalkan brand lokal untuk produk hasil dari desa itu. “Minimal kenalkan dan gunakan untuk masyarakat di desa itu, sebagai contoh beras, buat kemasan beras dengan nama lokal, dan pasarkan lokal dulu. Evaluasi semua masukan dari konsumen, hal ini penting untuk peningkatan kualitas produk lokal ke masa mendatang,” jelas Budi.

Dengan produk olahan rempah di bawah brand AIG Bunda Nisa, Budi sempat meraih penghargaan sebagai juara ke 3 di tingkat Provinsi Jateng untuk Kategori Minuman IKM Pangan Award pada tahun 2018 lalu. Budi berharap lebih ada sinergitas anatara pemerintah desa dengan masyarakat, UMKM lokal, karena semua yang dilirik oleh investor besar itu, semua berasal dari Desa.

“Saya rasakan pengembangan potensi desa itu harus sejalan dulu visi antara pemerintah desa, masyarakat, pelaku usaha dan adanya dukungan dari pengusaha besar untuk mengembangkan produk lokal. Berikan contoh, informasi yang berkesinambungan, agar masyarakat bisa berfikir untuk mengembangkan potensi Sumber Daya Alam di sekitarnya. Saya pikir, cita – cita swasembada pangan itu hanya omong kosong tanpa ada cara pandang baru, trigger untuk pemuda – pemuda di desa,” harapnya.

Story Telling Sebuah Produk Tingkatkan Nilai Jual

Ibarat membangun sebuah rumah tangga, kita harus bersinergi dulu, sehingga nantinya akan terwujud pola pemberdayaan yang semestinya. Namun dari semua sinergi tersebut, yang terpenting adalah, bagaiman pelaku IKM (Industri Kecil Menengah), mau memulai usahanyanya (start up). Saat ini memasarkan sebuah produk bukan hanya kualitas produknya, terlebih penting adalah bagaimana produk tersebut dipasarkan dengan sebuah rangkaian cerita (story telling).

“Ada sebuah story telling tentang produk yang dapat menjual produk tersebut melebihi kualitas produk itu sendiri. Coba bayangkan, saat orang mengetahui olahan kunir ini, mulai dari bagaimana cara menananmnya, membudidayakan, mengolah sebelum menjadi sebuah produk dan kemudian diolah menjadi produk yang siap dikonsumsi. Disini ada nilai edukasi, pendampingan, dan praktek nyata dari sebuah pengembangan IKM dari tingkat paling bawah. Kalau hanya teori, apalah arti semuanya, orang tidak akan tertarik untuk memulai mengembangkan apa potensi yang ada di sekitarnya,” jelas Budi.

Dengan terlupakannya keunggulan produk rempah – rempah nusantara, khususnya jenis rimpang, maka jangan salahkan generasi sekarang yang sudah tidak mengenal apa itu kunyit, apa itu jahe. “Saya pernah memberikan sebuah workshop di sekolah, dimana yang mengikuti workshop adalah ibu – ibu dari siswa yang sekolah disitu. Mereka membuat jamu tradisional, dan setelah jadi, produk olahan mereka diminum bersama anak – anaknya di kelas. Keren kan! Jangankan anak kota, terkadang anak – anak di desa saja sudah tidak tau kunyit itu seperti apa, jahe yang bagaimana?” ungkapnya dengan nada tanya.

Budi mengingatkan sebuah fakta sejarah, bahwa bangsa Eropa, pertama kali datang ke Nusantara adalah mencari sumber rempah – rempah, hingga akhirnya mereka (khususnya bangsa Belanda) dapat menjajah Nusantara hingga 350 tahun lamanya.  “Kita semua masih ingat penjajahan bangsa Belanda, dulu bangsa – bangsa Eropa sampai ke Asia mencari apa? Mereka mencari sumber rempah – rempah, kok sekarang kita mau melupakannya. Program tanaman obat keluarga (TOGA), sudah tidak pernah tersentuh, padahal disitu ada nilai lebih yang didapat dari halaman kecil yang kita punya,” pungkasnya. (Agus Subekti)