Semangat Gotong Royong, Menjadi Penyangga Pertahanan Kelompok Ternak Lele Mandiri di Desa Ngrapah – Banyubiru

Iklan Semua Halaman

Semangat Gotong Royong, Menjadi Penyangga Pertahanan Kelompok Ternak Lele Mandiri di Desa Ngrapah – Banyubiru

Saturday, February 15, 2020

Kolam - kolam peternak ikan lele milik Pokdakan Lele Mandiri di Dusun Gemenggeng, Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. (Foto: dok. istimewa/ASB)

Ungaran, beritaglobal.net – Potensi air melimpah, kontur tanah yang rata dan akses menuju pasar yang mudah, mendorong beberapa pemuda di Dusun Gemenggeng, Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang, untuk membudidayakan ikan air tawar khususnya Lele di sekitar rumahnya. Adalah Agus Jumeri (39), pengurus Kelompok Pembudidayaan Ikan (Pokdakan) air tawar jenis lele, mengembangkan budidaya ikan lele untuk pembenihan, di desanya.

Ketekunan Agus, dalam membudidayakan ikan Lele, telah dilakoninya sejak tahun 2002 silam, dan saat ini dirinya beserta belasan peternak lele, telah dibina langsung oleh Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya dan Pemerintah Kabupaten Semarang melalui Dinas Pertanian, Perikanan dan Pangan, telah mampu menghasilkan bibit ikan lele sebanyak lebih kurang 150.000 ekor hingga 200.000 ekor per dua bulan. Meski demikian, hasil tersebut belum mampu memenuhi permintaan akan benih ikan lele bagi peternak di wilayah Kabupaten Semarang dan Kota Salatiga.

Agus Jumeri saat menunjukkan kolam pembenihan ikan lele di sekretariat Pokdakan Lele Mandiri, Dusun Gemenggeng, Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang. (Foto: dok. istimewa/ASB)

“Saya memulai pengembangan ikan lele sejak tahun 2002, fokus pada budidaya pembibitan lele,” ungkap Agus, saat ditemui beritaglobal.net di Sekretariat Pokdakan Lele Mandiri di Dusun Gemenggeng RT 02 RW 11, Desa Ngrapah, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang.

Dirinya menceritakan bahwa mengembangkan budidaya ikan lele khususnya pembibitan itu susah – susah mudah, perlu ketekunan, ketelitian dan rasa empati yang tinggi pada hewan ternak yang dipelihara.  Menurutnya, rasa empati ini menjadi salah satu faktor penentu sukses dan tidaknya seorang peternak ikan lele dalam mengembangkan usahanya.

“Proses beternak ikan lele itu susah – susah mudah, susahnya 2 kali, mudahnya 1 kali. Kita harus tekun, teliti dan miliki empati pada hewan yang kita pelihara. Rasa empati inilah yang menjadikan salah satu faktor penentu, sukses dan tidaknya usaha budidaya ikan lele kami,” jelasnya.

Tahapan Pemijahan

Adapun tahapan pemijahan ikan lele, dijelaskannya ada beberapa tahapan, dimana setiap tahapan tersebut, seorang peternak harus jeli memilih indukan yang bagus, menyiapkan media dan memberikan pakan awal pada anakan – anakan lele saat telah menetas hingga pada usia siap untuk dipasarkan.

“Pada tahap awal adalah persiapan genetika telur, dengan cara memilih indukan yang bagus, dan memberi indukan nutrisi yang baik selama persiapan pemijahan hingga dihasilkan telur – telur lele yang berkualitas. Untuk memilih indukan yang bagus, sudah bisa di lihat dari gerakan lincah, tidak terkena hama penyakit,” jelasnya.

Untuk induk pejantan, Agus menjelaskan bahwa pejantan ikan lele yang baik sebagai indukan memiliki ciri – ciri tubuhnya ramping memanjang, alat kelaminnya menonjol keluar, warna tubuh terlihat coklat kemerahan dan gerakannya lincah. Sementara itu untuk memilih indukan betina yang berkualitas dapat dilihat dari ciri fisik ikan lele, dari bagian perutnya membesar mengarah ke anus, saat diurut akan keluar telur berwarna hijau tua, alat kelamin berwarna kemerahan dan terlihat membengkak, warna tubuh seperti halnya pejantan, berwarna merah kecoklatan, namun gerakannya sedikit lamban.

“Indukan yang bagus dapat mulai di pisahkan untuk pemijahan, paling baik saat berusia 2 tahun hingga usia induk 5 tahun. Untuk pejantan dipilih dari ikan lele yang aktif, alat kelaminnya terlihat menonjol serta berwarna merah kecoklatan dan tidak terlalu gemuk. Sementara itu untuk induk betina, biasanya kita lihat dari kondisi wadah telurnya yang besar dan memanjang hingga ke bagian anus,” papar Agus seraya menunjukkan bibit ikan lele di kolam pembenihan miliknya.

Ditambahkannya, pembenihan ikan lele tidak memerlukan waktu lama. Dirinya hanya menyiapkan indukan dengan pakan yang bermutu hingga matang gonad, dan melakukan perkawinan alami. Dimana setelah bertelur, indukan dipisahkan lagi, dan dalam 1 malam telur – telur ikan lele sudah menetas, dalam tempo maksimal 2 bulan, bibit – bibit ikan lele sudah siap untuk dipasarkan kepada peternak yang mengembangkan pembesaran ikan lele.

“Pemijahan kami secara alami, kami sediakan kolam khusus untuk indukan yang bagus dan dengan diberi pakan bermutu, hingga kondisi matang gonad, setelah bertelur, indukan kami pindah. Hanya perlu 1 malam untuk telur - telur ikan lele menetas. Selebihnya hingga usia anakan ikan lele mencapai 7 hari, diberi makan cacing sutera dan setelah itu baru diberi makan pellet hingga usia 2 bulan. Pada usia 2 bulan tersebut bibit lele siap untuk dipasarkan,” ungkapnya.

Saat ditanyakan kisaran harga bibit lele per ekor di Pokdakan Lele Mandiri, dirinya menyebut, jika harga per ekor bibit lele diberi harga antara Rp 50,- hingga Rp 150,- per ekor. 

Agus menyebutkan jika area pemasaran bibit lele dari Pokdakan Lele Mandiri Dusun Gemenggeng, Desa Ngrapah, masih di seputar wilayah Kabupaten Semarang, khususnya di wilayah Ambarawa, Banyubiru, Klero, Bringin dan Kauman Lor, serta sedikit merambah ke beberapa wilayah di Kota Salatiga.

Gotong Royong Untuk Bertahan Dalam Usaha Pembibitan Ikan Lele

Disebutkan oleh Agus Jumeri, bahwa faktor cuaca masih menjadi salah satu penentu tumbuh kembang bibit – bibit lele, namun dengan adanya kreatifitas dan ketelitian peternak, semua masalah pembenihan dapat diatasi. Selain faktor cuaca, untuk urusan teknis seperti ketersediaan pakan, permodalan dan pangsa pasar, dijelaskan oleh Agus, jika pola gotong royong untuk menopang satu sama lain antar sesame peternak lele di Desanya, menjadikan peternakan ikan lele hingga saat ini masih bisa bertahan dan berkembang dengan baik.

“Kendala cuaca menjadi faktor penting dalam memijahkan lele, namun kreativitias dan inovasi serta ketelitian dari peternak itu yang paling utama. Kami terapkan pola gotong royong, dimana jika ada rekan peternak yang kekurangan bahan pakan, kami bantu dulu dengan memotong hasil panennya. Bila ada yang membutuhkan indukan, kami pinjami, dan juga untuk peternak yang mengalami kesulitan penjualan, kami sudah siapkan jejaring pasar yang dapat menampung hasil ternak dari rekan – rekan di Desa Ngrapah ini,” jelas Agus.

“Intinya adalah gotong royong, saling bahu membahu untuk kami bertahan dan lebih maju lagi hingga saat ini,” pungkasnya. (Agus Subekti)