Ki Ageng Giring, Dalam Cerita Masyarakat Desa Gumelem Sebagai Bagian Dari Cerita Kebesaran Mataram Islam -->

code ads

Ki Ageng Giring, Dalam Cerita Masyarakat Desa Gumelem Sebagai Bagian Dari Cerita Kebesaran Mataram Islam

Wednesday, March 25, 2020
Gapura menuju pemakaman Ki Ageng Giring di Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. (Foto: Dok. pribadi/Iwan)

Banjarnegara, beritaglobal.net – Kerajaan Mataram Islam dibawah kepemimpinan Panembahan Senopati menjadikan wilayah kerajaan tersebar hingga hampir di seluruh pulau Jawa. Salah satu bagian sejarah dari kebesaran kerajaan Mataram adalah Desa Gumelem yang saat ini ada di wilayah Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Desa Gumelem, menurut legenda yang diyakini masyarakat setempat, berasal dari kata ‘Kemelem’, yang berarti hanyut terbawa arus sungai.

“Kemelemnya para pengikut Ki Ageng Giring, yang melakukan perjalanan dari Desa Selomerto setelah berpisah dengan putrinya Dewi Nawangsari ke arah timur, melintasi beberapa daerah yang nantinya diberi nama sesuai dengan kondisi yang dialami oleh Ki Ageng Giring,” seperti dituturkan oleh Sujeri selaku Juru Kunci Petilasan Ki Ageng Giring di Bukit Girilangan, Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, kepada beritaglobal.net, Selasa (24/03/2020).

Menghilangnya Ki Ageng Giring di bukit Girilangan, diketahui oleh para pengikutnya karena mengingat pesan Ki Ageng Giring. “Bila tandu yang kalian pikul semakin berat, letakkan saja, jangan dibawa. Setelah para pengikut Ki Ageng Giring terasa berat, maka para pengikut beliau meletakkan tandu dan bermaksud melihat kondisi Ki Ageng Giring,” jelas Sujeri.

Kisah menghilangnya raga Ki Ageng Giring, mendorong salah satu pengikutnya untuk pergi ke Desa Selamerta, dengan maksud untuk melaporkan kejadian ini ke putri Ki Ageng Giring, Dewi Nawangsari. Namun setibanya di pertapan Dewi Nawangsari di bawah pohon elo di tepi sungai Sapi, pengikut Ki Ageng Giring tidak dapat menemukan Dewi Nawangsari yang juga ikut moksa. Di tempat tersebut hanya tertinggal Bogem (tempat untuk kinang-red), yang akhirnya tempat tersebut diberi nama Bogem.

”Pada saat akan wafat, Ki Ageng Giring telah berpesan kepada para penderek (pengikut-red). Nek mangke dumudi kasedan jati (kematian-red) gawanen layonku maring arah kidul wetan, sucenono layonku neng sumur Kademangan Beji, sarehno layonku neng gunung Girilangan,” ucap Sujeri menirukan pesan Ki Ageng Giring yang telah dia terima cerita tersebut secara turun temurun.
Keberadaan area pemakaman Ki Ageng Giring, hingga kini masih banyak didatangi peziarah dari berbagai wilayah. Disampaikan pula oleh Sujeri, jika para peziarah, akan dimanjakan oleh keberadaan pemandian air panas di bawah bukit.

“Setelah ziarah kemakam Girilangan bisa dimanjakan pemandian air panas yg berjarak lebih kurang 500 meter dari komplek makam,” imbuhnya.

Dilanjutkan oleh Sujeri, bahwa wilayah Desa Gumelem, sebagai hadiah dari Raja Mataram pada abad ke XVI kepada salah satu punggawa kerajaan bernama Uda Kusuma, yang telah setia merawat dan menjaga makam Ki Ageng Giring. Setelahnya, masyarakat di Desa Gumelem dan sekitarnya, masih memegang tradisi Sadranan Agung untuk memperingati dan menghormati jasa – jasa Ki Ageng Giring.

“Sadranan Agung masih terus kami laksanakan, mas. Setiap bulan Ruwah, atau sebelum memasuki bulan Ramadhan, kami menyelenggarakan tradisi Sadranan Agung, yang diisi dengan acara bersih – bersih desa, kenduri untuk keselamatan warga masyarakat dan kelestarian lingkungan alam,” jelasnya.

Ditandaskan Sujeri, bahwa untuk acara Sadranan Agung tahun ini direncanakan akan jatuh pada tanggal 20 April 2020 mendatang.

Dukungan Pemkab Banjarnegara

Sementara itu, Cartun selaku Kepala Desa Gumelem Wetan, menyampaikan bahwa saat ini keberadaan makam Ki Ageng Giring dan pemandian air panas di wilayahnya, memerlukan sentuhan dari pemerintah Kabupaten Banjarnegara ataupun pemerintah pusat melalui Kementrian Pariwisata.
“Dengan adanya kondisi makam dan pemandian air panas yang banyak dikunjungi masyarakat untuk berziarah dan bermunajad, kami berharap ada dukungan dari pemerintah Kabupaten Banjarnegara ataupun bahkan dari Kementrian Pariwisata untuk ‘memoles’ tempat itu menjadi lebih layak untuk dijadikan destinasi wisata alam dan wisata sejarah,” ungkapnya, saat ditemui beritaglobal.net di Kantor Kepala Desa Gumelem Wetan.

Disampaikan oleh Cartun pula, jika selama ini, perawatan area makam dan akses menuju pemandian air panas, adalah hasil dari swadaya masyarakat dan sumbangan sukarela dari para peziarah. Dirinya juga menghimbau kepada masyarakat setempat untuk selalu menjaga kelestarian lingkungan, sarana prasarana yang ada dan juga selalu ramah terhadap semua tamu yang datang untuk berziarah ataupun mandi di pemandian air panas.

“Kami himbau kepada masyarakat di sekitar pemakaman dan pemandian air panas, untuk bersama – sama menjaga kelestarian lingkungan, selalu ramah terhadap setiap tamu yang datang. Karena adanya pemandian air panas, diyakini telah memberikan manfaat kesehatan oleh orang – orang yang datang untuk berikhtiar kesembuhan serta kebugaran,” tandasnya.

Pemandian Air Panas Pingit

Kondisi pemandian air panas Pingit, Desa Gumelem Wetan yang masih alami yang diyakini warga sekitar dan pengunjung, airnya dapat menyembuhkan penyakit. (Foto: Dok. pribadi/Iwan)

Keberadaan pemandian air panas di Pingit, Desa Gumelem Wetan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, tidak dapat dilepaskan dari kisah legenda pengaruh Ki Ageng Giring. Keberadaan pemandian air panas yang oleh sebagian besar pengunjungnya memiliki tuah pengobatan, menjadikan daya tarik tersendiri bagi wisatawan.

“Saya sering ke tempat ini untuk melakukan terapi penyakit yang saya alami, dan juga saat badan merasa pegal dan linu, saya sering ke sini. Alhamdulillah sembuh, karena ini kan juga air yang mengandung belerang, jadi bagus juga untuk pengobatan penyakit kulit,” ujar Kuswadi (43), salah satu pengunjung asal Purbalingga.  (Iwan Setiawan)