Kreasi ‘Nail Art’ Siswi SMKN 1 Salatiga, Hilangkan ‘Mati Gaya’ Ditengah Masa Karantina Karena Covid-19 -->

code ads

Kreasi ‘Nail Art’ Siswi SMKN 1 Salatiga, Hilangkan ‘Mati Gaya’ Ditengah Masa Karantina Karena Covid-19

Tuesday, March 24, 2020
Kreasi pembuatan Nail Art oleh siswi SMKN 1 Salatiga disela masa karantina untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19. (Foto: Dok. pribadi/Na)

Salatiga, beritaglobal.net – Menjalani masa ‘karantina di rumah’, tidak membuat sejumlah siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Salatiga, ‘mati gaya’. Kekhawatiran akan marakanya penyebaran Covid-19 atau Coronavirus Diseas, justru menumbuhkan kreativitas sejumlah siswi tersebut untuk berkreasi lewat ‘nail art’.

Nail art atau seni menghias kuku adalah salah satu keterampilan tangan yang berfungsi untuk mempercantik kuku. Seperti yang ditunjukan para siswi dari SMK 1 Salatiga yang mencoba berkreasi dalam pembuatan kuku palsu.

Menariknya lagi hasil karya para siswi ini ternyata tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan sekolah tapi juga membantu perekenomian keluarga.

Karena memang, puluhan 'nail art' yang telah dihias sedemikian rupa dengan tingkat kesulitan yang tinggi ada harganya.

Salah satu siswa SMKN 1 Salagiga Melia Setia Dora (18) menuturkan, ia dan teman - temannya dari jurusan Tata Kecantikan menjalani masa libur Corono dengan mengerjakan 'nail art' bernilai ekonomis untuk mengisi mata pelajaran (mapel) Produk Kreatif dan Kewirausahaan.

"Kami memang tidak diberi tugas dalam bentuk soal-soal. Justru dengan tugas kerajinan ini, membuat kami tidak jenuh selama diwajibkan berada di rumah guna menghindari penyebaran Covid-19," ungkap Dora, ditemui di kediamannya di Jalan Taman Pahlawan No 30 RT 16 RW 03, Salatiga, Selasa (24/03/2020).

Anak kedua dari dua bersaudara pasangan Yuni Puji Astuti dan Setiyono ini mengaku dalam proses pembuatan 'neil art' tidak banyak kesulitan.  Selain tetap mendapatkan arahan langsung guru pembimbing melalui media online macam WhatsApp atau telpon, guru bersangkutan juga sesekali mengunjungi rumah - rumah para siswa guna mengecek langsung.

Dalam proses pembuatan 'nail art', ditambahkan Rossa Hasna Shafira (16) siswi SMKN 1 Salatiga asal Dusun Krajan 1 RT 01 RW 02 Tegaron, Banyubiru, Kabupaten Semarang memang perlu ketekunan.

"Kunci dari 'nail art' ini adalah ketekunan dan kesabaran. Selain semua bahan dasarnya berukuran kecil, keterampilan saat menghias tak kalah rumit," ujar Rossa.

Ada pun, bahan yang digunakan dalam menghias kuku plastik sintetis, kutek, berlian atau hiasan, glitter, kikir, kuas serta lem khusus kuku palsu untuk memasang. Sebanyak 10 kuku palsu yang dibuat untuk 10 jari, satu siswi bisa membuatnya dengan kisaran 30 menit.

"Jadi, dalam sehari bisa membuat 80 biji kuku palsu. Tahu-tahu sudah sore saja waktunya," terangnya.

Dari semua kuku palsu yang dibuat lengkap dengan hiasannya, para siswi ini menjualnya masih sebatas secara on-line. Harga yang dipasarkan pun, cukup terjangkau yakni berkisar Rp 20 - 50 ribu.

"Yang biasa hingga hiasan. Harga juga dilihat dari tingkat kesulitan dalam membuat," tambah Yunita Salma Puja Dewi  (16) bertempat tinggal di Dewi Sartika 5 RT 05 RW 04, Mijen Gedanganak, Ungaran Timur, Kabupaten Semarang.

Mereka yang membeli pun, bukan kalangan biasa. Tercatat, mulai kalangan mahasiswa hingga calon pengantin.

"Biasanya yang membeli atau memesan dari kalangan yang akan menggelar nikahan hingga wisuda," timpal Lidiasty Keke Novitara (17) yang menempuh sekolah dari Dusun Getas RT 05 RW 01 Kauman Lor, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang. 

Arahan Menteri

Seorang guru pembimbing jurusan Tata Kecantikan SMK 1 Salatiga Neny Sulistiyanto mengungkapkan, sesuai anjuran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Anwar Makarim serta Gubenur Jateng Ganjar Pranowo siswa yang belajar di rumah diberi tugas tidak harus dalam bentuk soal - soal.

"Guru memberikan tugas secara on-line. Namun tugas yang diberikan tidak harus dalam bentuk soal. Melainkan dalam bentuk tugas membuat siswa enjoy," papar Neny Sulistiyanto.

Di SMKN 1 Salatiga sendiri, memang mempunyai jurusan Tata Kecantikan masuk Mapel Produk Kreatif dan Kewirausahaan.

Sehingga para guru diminta memberikan tugas yang bisa dikerjakan siswa secara berkelompok yaitu berupa pembuatan nail art atau seni menghias kuku.

"Dan lewat 'nail art' ini dibuat selama masa libur karantina Corona. Dalam berkelompok pun kami terapkan untuk tetap menjaga jarak aman antaa siswi satu dengan yang lain. Serta, jumlahnya pun, tak banyak satu kelompok 4-5 orang siswi," pungkas dia.

Perihal pengawasan kepada anak didik di rumah, para guru menggunakan media sosial dan WhatsApp sebagai sarana komunikasi intensif selama 24 jam.

Pemantauan dilakukan setiap hari.  apa saja yang menjadi kesulitan siswa, guru sigap membantu.

Hal senada disampaikan Kepala sekolah SMKN 1 Sriyanto. Ditemui di ruang kerjanya, Sriyanto mengakui pekerjaan atau tugas yang diberikan sekolah pun sifatnya menghibur dan tidak membuat anak tertekan dengan situasi yang menegang seperti saat ini.

Bisa berkarya walaupun dalam situasi yang membosankan dan tidak menegangkan, menjadi kunci pengajar di SMKN 1 Salatiga meningkatkan kualitas pendidikan anak didik. 

"Anak - anak sambil menghibur diri dapat meningkatkan kreativitas. Sekaligus memberi nilai ekonomis yang dapat membantu orang tua atau minimal mengantongi uang saku sendiri," tandasnya. (Na/Red)