Filosofi Baju Adat Semarangan, Makna Tersirat dari Wabup Semarang Ngesti Nugraha

Iklan Semua Halaman

Filosofi Baju Adat Semarangan, Makna Tersirat dari Wabup Semarang Ngesti Nugraha

Wednesday, March 4, 2020
H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H., bersama Forkompinda Kabupaten Semarang dalam acara rapat paripurna DPRD dengan mengenakan pakaian khas Semarangan. (Foto: Dok. Setwan DPRD Kab. Semarang)

Ungaran, beritaglobal.net - Sebagai orang jawa, sudah seyogiayanya kita semua memegang teguh warisan budaya leluhur, meski di era millenial. Seperti ungkapan nabi Muhammad SAW, ajari anak - anak kalian sesuai masanya. Selain pepatah jawa Ajining diri ana ing lathi, ajining saliro ana ing busana (bahasa jawa-red), yang berarti harga diri seseorang ada di lidah atau perkataannya, dan selera seseorang dapat dilihat dari busana/pakaian yang dikenakannya.

Hal itulah yang menjadi salah satu dasar pilihan Wakil Bupati Semarang H. Ngesti Nugraha, S.H., M.H., sering mengenakan pakaian adat Semarangan di beberapa acara resmi Pemerintah Kabupaten Semarang, saat ditemui beritaglobal.net, di rumah dinas Wakil Bupati Semarang belum lama ini.

"Ternyata, busana khas Semarangan memiliki banyak arti, dan ini mencirikan keluhuran budi pekerti sesepuh kita kala itu," ungkapnya.

Mulai dari ikat kepala, dijelaskan Ngesti, memiliki makna untuk membatasi pemikiran kita. Agar pemikiran kita tidak melebar kemana - mana. Menurutnya, apa yang ada di kepala itu, seringkali penuh dengan nafsu, untuk itulah perlu dibatasi atau di iketi (diikat).

"Ikat kepala ini memiliki arti, untuk membatasi pemikiran - pemikiran negatif yang ada di kepala kita. Karena menurut leluhur kita, akal ini seringkali penuh dengan keinginan - keinginan duniawi, untuk itulah perlu dibatasi dengan simbol ikat kepala," jelasnya.

"Iket harus diikatkan kencang, yang berarti juga hidup itu harus punya prinsip untuk mengerti dan memahami tujuan hidup dan kehidupan atau sangkan paraning dumadi," lanjutnya.

Merambah pada baju beskap, Ngesti yang seringkali datang dalam acara - acara budaya masyarakat Kabupaten Semarang, memberikan penjelasan maknanya.

"Setiap baju orang jawa pasti ada beniknya (kancing baju-red), dimana tiap perilaku orang jawa itu harus diniknik. Dihitung cermat, apapun yang akan diperbuat harus diperhitungkan, baik buruknya untuk masyarakat. Jangan sampai merugikan, menjaga antara kepentingan pribadi dan kepentingan umum. Untuk itu, kita sebagai pemimpin harus bijak dan cermat dalam mengambil keputusan," jelas Ngesti Nugraha.

Selanjutnya, Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Semarang menjelaskan sabuk atau ubed yang berarti hidup itu harus ubed (bekerja harus bersungguh - sungguh), jangan sampai apa yang dilakukan jangan sampai tidak ada hasilnya.

"Di dalam beskap yang dipakai selain sabuk/ubed, ada epek. Setelah ubed, semua itu harus diepek - epek, digoleki (dicari-red), dengan pengetahuan yang berguna. Setelah itu ada timang, karena ilmu itu harus gamblang, tidak akan ada rasa samang (khawatir)," jelasnya.

Menyusul penjelasan tentang jarik, menurut Ngesti Nugraha, aja serik atau jangan gampang iri terhadap orang lain. Agar saat kita menghadapi masalah untuk berhati - hati, tidak grusa - grusu dan emosional.

"Selanjutnya kami menggunakan sandal bandhol jepit, bukan selop. Kenapa? Dalam filosfi orang jawa, sandal ini disebut Canela yang dijabarkan canthelno jroning nala (peganglah kuat dalam hatimu-red). Dalam menyembah kepada Tuhan, hendaklah dari lahir dan batin, sujud di kakiNya. Sumeleh atau pasrah atas semua kuasaNya," jelas pria yang dikenal ramah disemua kalangan dan dikenal enthengan (senang berderma).

Dibagian akhir penjelasannya, setiap lelaki jawa memiliki keris. Keris dan warangkanya bisa berarti kita sebagai manusia harus menyatu dengan Tuhan Yang Maha Esa.

"La kenapa keris sering ditaruh dibelakang punggung, karena sesepuh kita dahulu, meyakini, kita harus bisa ngungkurake atau menghindari godaan setan, agar kita selalu berbuat dalam kebaikan sesuai dengan aturan Allah SWT," jelasnya.

Terlepas dari apa yang dijelaskan Wakil Bupati Semarang yang telah direkomendasikan oleh DPP PDI Perjuangan sebagai bakal calon Bupati Semarang 2020 - 2025, busana menggambarkan selera dan perilaku orang yang mengenakannya. Seraya mengepalakan jari - jari tangannya menandakan semangat untuk bekerja keras, teguh dalam perjuangan untuk membangun Kabupaten Semarang.

"Terlepas dari semua makna tersirat dari busana adat Semarangan yang sering kami kenakan. Kita beri contoh kepada masyarakat Kabupaten Semarang, untuk mencintai budaya luhur Nusantara, senamg bekerja keras dan tidak lupa untuk selalu berpegang teguh pada semua aturan Allah SWT. Agar Kabupaten Semarang kedepan semakin baik lagi, maju, sejahtera dan gemah ripah loh jinawi," pungkasnya. (Agus Subekti)