Berikut Prediksi Waktu Berhentinya Pandemi Covid-19, Berdasar Ilmu Falak -->

code ads

Berikut Prediksi Waktu Berhentinya Pandemi Covid-19, Berdasar Ilmu Falak

Saturday, April 11, 2020
M. Rifa Jamaludin Nasir, S.H.I., M.S.I., Dosen Ilmu Falak, Fakultas Syari'ah IAIN Salatiga, yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Ilmu Falak Indonesia (PUSIFA). (Foto: Dok. pribadi/Rifa)

Salatiga, beritaglobal.net - Pandemi Corona Virus Disease (Covid-19), telah menyita perhatian dunia sejak akhir tahun 2019 hingga kuartal pertama tahun 2020. Bagaimana tidak, ratusan ribu orang telah terjangkit Covid-19 dengan cepat, yang dapat menyebabkan kematian.

Dengan cepatnya penyebaran Covid-19 Indonesia, telah membuat masyarakat umum hingga ahli kesehatan memberikan beragam pernyataan mengenai Covid-19, dari awal mula pandemi hingga bagaimana memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Bukan hanya para ahli kesehatan dan gizi yang memberikan pernyataan - pernyataan terkait Covid-19, belakangan, beberapa ahli kitab pun turut mengulas Covid-19, dari prediksi akan adanya pandemi yang telah tertuang dalam beberapa kitab kuno berabad lalu.

Salah satu cendekiawan muslim yang menyatakan bahwa prediksi pandemi Covid-19, telah dituliskan dalam kitab berabad lalu adalah M. Rifa Jamaludin Nasir, S.H.I., M.S.I., Dosen Ilmu Falak, Fakultas Syari'ah IAIN Salatiga, yang juga menjabat sebagai Direktur Pusat Studi Ilmu Falak Indonesia (PUSIFA).

Dalam release diterima beritaglobal.net, Sabtu (11/04/2020), M Rifa menjelaskan, jika ditinjau dari khazanah keilmuan falak kuno, seperti tertuang dalam kitab Abu Masyar. Dalam kitab tersebut, tertuang bahwa jika awal bulan Muharram (Tahun Baru Hijriah) terjadi pada hari Ahad, maka diprediksi akan terjadinya wabah pada tahun tersebut.

"Selain itu pada sumber khazanah klasik ilmu perbintangan lainnya, wabah yang muncul pada bulan Rabiul Awal akan menyusahkan para pemimpin," jelasnya.

Jika prediksi ini berlanjut dan sesuai dengan prediksi ilmu falak, maka hilangnya wabahnya pun dapat dihitung atau diprediksi dengan Ilmu falak, ungkap dosen muda yang lahir di Jawa Barat, 32 tahun silam.

"Jika merujuk hasil hitungan ilmu falak maka wabah ini diprediksi akan hilang antara awal bulan Juni atau Juli, atau juga sekitar pertengahan bulan Juni 2020, waktunya pas shubuh di Buruj Sarathan yang mana berbarengan dengan munculnya bintang penanda musim panas, dengan sebutan lain bintang Tsurayya atau Bintang Kartika atau sebagai Bintang Tujuh Bersaudari, yang mana gugusan bintang - bintang yang paling kaya dengan kandungan logam," tambahnya.

Lebih lanjut putra KH. Adang Rosyiddin pendiri dan pengasuh Ponpes Tauhidul Afkar, Kampung Cibadak Pesantren, Desa Sukanagalih, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat mengungkapkan, mengenai pertanda tersebut diatas seperti hadist dijelaskan pula oleh Nabi SAW dalam sabda - sabda nya:

إِذَا ارْتَفَعَ النَّجْمُ رُفِعَتِ الْعَاهَةُ عَنْ أَهْلِ كُلِّ بَلَدٍ
“Jika Bintang (Najm) naik, maka diangkatlah penyakit/virus dari penduduk seluruh negeri” (HR. at-Thabrani)

إِذَا طَلَعَ النَّجْمُ صَبَاحًا رُفِعَتِ الْعَاهَةُ عَنْ أَهْلِ كُلِّ بَلَدٍ
“Jika Bintang (Najm) terbit pada pagi hari, maka diangkatlah penyakit/virus dari penduduk seluruh negeri” (HR. Abu Daud)

مَا طَلَعَ النَّجْمُ قَطُّ وَفِي الْأَرْضِ مِنَ العَاهَةِ شَيْئٌ إِلَّا رُفِعَ
“Tidaklah terbit Bintang (Najm), sementara di bumi tengah dilanda penyakit/virus, melainkan (penyakit/virus) itu diangkat” (HR. Ahmad).

Bintang yang di maksud diatas menurut para mufassir dan ulama adalah bintang Tsurayya.

Meski demikian M. Rifa Jamaludin Nasir, S.H.I., M.S.I., tidak ingin memastikan. Sebab prediksi tersebut bisa benar dan juga bisa salah. "Prediksi tersebut bisa benar dan juga bisa salah, karena termasuk sesuatu yang bersifat mungkin (possible-red), bukan wajib atau mustahil. Dalam arti kebenarannya bersifat relatif. Sedangkan, kebenaran mutlak ada pada  Allah SWT," tuturnya.

Namun yang terpenting, masih kata M Riffa, dalam mencegah penyebaran wabah Covid 19, tentunya kita sebagai masyarakat agar selalu mematuhi  aturan yang dibuat pemerintah. Karena hal tersebut juga bisa membantu mencegah penyebaran virus Corona atau Covid-19.

"Selain itu kita juga harus memperhatikan asupan gizi dan istirahat yang cukup serta selalu menjaga kebersihan dan olahraga,"ungkapnya.

"Selain itu kita juga harus selalu mengingat Allah SWT dan  Berdoa kepada Nya memohon perlindungan dan memohon agar wabah Covid 19 segera berakhir," pungkas M Riffa.

Tentang Ilmu Falak

Ilmu Falak adalah ilmu yang mempelajari lintasan benda-benda langit-khususnya bumi, bulan, dan matahari-pada orbitnya masing-masing dengan tujuan untuk diketahui posisi benda langit antara satu dengan lainnya, agar dapat diketahui waktu-waktu di permukaan bumi.

Definisi Ilmu Falak

Di dalam al-Quran, kata falak yang bermakna garis edar/orbit disebut dua kali yaitu:

· وَهُوَ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّہَارَ وَٱلشَّمۡسَ وَٱلۡقَمَرَ‌ۖ كُلٌّ۬ فِى فَلَكٍ۬ يَسۡبَحُونَ (٣٣(
Artinya : Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya. (al-Anbiyâ’: 33)

· لَا ٱلشَّمۡسُ يَنۢبَغِى لَهَآ أَن تُدۡرِكَ ٱلۡقَمَرَ وَلَا ٱلَّيۡلُ سَابِقُ ٱلنَّہَارِ‌ۚ وَكُلٌّ۬ فِى فَلَكٍ۬ يَسۡبَحُونَ (٤٠(
Artinya: Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (Yâ-Sîn: 40)

Menurut Ibnu Khaldun (808 H), ilmu falak adalah ilmu yang membahas tentang pergerakan bintang-bintang (planet-planet) yang tetap, bergerak, dan gumpalan-gumpalan awan yang beterbangan.

Menurut al-Khawarizmi, ilmu perbintangan dalam bahasa Arab dinamakan al-Tanjîm, sedangkan dalam bahasa Yunani dinamakan astronomi, yang mana “astro” artinya bintang, dan “nomia” artinya ilmu. Sedangkan ilmu hai’ah, adalah ilmu tentang susunan orbit dan bentuknya, serta bentuk bumi.

Terminologi ‘Ilmu’l Falak (astronomi) sebenarnya baru muncul pada akhir abad 19 M. Dahulu lebih popular dengan nama ‘Ilmu’l Hai’ah. Nama itu menunjuk pada suatu aspek ilmiah yang didasarkan atas observasi, hampir sama seperti astronomi modern. (Meskipun ‘Ilmu’l Falak modern dapat dikatakan lebih ‘bersih dan suci’ dari ‘Ilmu’l Hai’ah pada zaman dahulu).

Lawan dari ‘Ilmu’l Hai’ah adalah ‘Ilm Ahkâm al-Nujûm atau ’Ilmu’l Ahkâm. Pada masa kini, digunakan kata al-Tanjîm untuk menyebut aspek tidak ilmiah itu.

Al-Farabi (339 H) memasukkan ‘Ilmu’l Falakatau ‘Ilmu’l Hai’ah dalam warisan budaya falak kuno ke dalam sebuah tema yang lebih besar yaitu ‘Ilm al-Nujûm (ilmu bintang). Dari sinilah kemudian ilmu tersebut dibagi menjadi dua macam. Pertama, ‘Ilm Ahkâm al-Nujum atau yang dapat disebut sebagai al-Tanjim. Kedua, ‘Ilm al-Nujum al-Ta’limi. Dalam kebudayaan Arab Islam, ilmu falak dimasukkan ke dalam al-‘Ulum al-Riyadhiyyah.

Ilmu Falak tergolong ilmu yang paling tua dalam lintasan sejarah peradaban manusia. Ilmu Falak memiliki banyak istilah di antaranya adalah ilmu hisab karena ilmu ini menggunakan perhitungan ( الحساب=perhitungan) dan ilmu ru’yah.

Ilmu Falak disebut juga ilmu rashd, karena ilmu ini memerlukan pengamatan ( الرصد = pengamatan). Ilmu Falak disebut juga ilmu miqat, karena ilmu ini mempelajari tentang batas-batas waktu ( الميقات =batas-batas waktu). Ilmu Falak disebut juga ilmu haiah, karena ilmu ini mempelajari keadaan benda-benda langit ( الهيئة = keadaan).

Dalam perkembangannya, Islam banyak melahirkan sarjana-sarjana Falak yang berpengaruh di dunia, antara lain Al-Buzjani (w. 388 H), Ibnu Yunus (w. 399 H), Ibn al-Haitsam (w. 430 H), Al-Biruni (w. 440 H), Abu Ali al-Hasan al-Marrakusyi (w. ± 680 H), Ibn al-Majdi (w. 850 H), dan tokoh-tokoh lainnya. tepatnya masa pemerintahan Jakfar al-Mansur, yang berjasa meletakkan ilmu falak pada posisi istimewa setelah ilmu tauhid, fikih, dan kedokteran. Ketika itu ilmu falak tidak hanya dipelajari dan dipandang dalam perspektif keperluan praktis ibadah saja, namun lebih dikembangkan sebagai pondasi dasar terhadap perkembangan ilmu-ilmu lain, seperti ilmu pelayaran, pertanian, kemiliteran, dan lain-lain. Tidak tanggung-tanggung, khalifah Al-Mansur membelanjakan dana negara yang besar dalam rangka mengembangkan kajian ilmu falak. Tak pelak, Ilmu falak berkembang dan mencapai kecemerlangannya pada peradaban Islam.‎

Banyak ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan peredaran benda-benda angkasa untuk dasar ilmu Falak, antara lain:

[1.] QS. Al An’am ayat 96:
فَالِقُ الإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ‎
Artinya: “Dia menyingsingkan pagi dan menjadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah yang maha perkasa lagi maha mengetahui”. [QS. Al-An’am [06] : 96]

[2.] QS. Yunus ayat 05:‎

هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ
Artinya: “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak, Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang - orang yang mengetahui”. [QS. Yunus [10] : 05].

Bintang Tsurayya

Bintang - bintang Pleiades atau yang disebut juga gugus tujuh putri dimana gugus ini terdiri dari beribu - ribu bintang. Warna biru di sekeliling bintang - bintang tersebut adalah gas yang berkumpul dan melayang - layang di antariksa.

Bintang - bintang Pleiades atau dalam bahasa Arab disebut Tsurayya, yang artinya kumpulan bintang - bintang ini terdapat di rasi bintang Taurus yang sangat indah. Bahkan keindahan bintang - bintang tersebut membuat semua orang di bumi yang melihatnya terkesima dan takjub. Bintang Tsurayya jaraknya mencapai 400 tahun cahaya. Bintang Pleiades ini merupakan bintang - bintang “muda” yang sedang ada pada puncak kegemerlapannya. Cahayanya sangat cerah, tak beda halnya dengan matahari.

Hal ini seperti yang ditunjukkan dalam firman Allah SWT:

“Sungguh, Kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari setiap (gangguan) setan yang terkutuk,” (QS. al-Hijr [15]: 16-17). (Agus Subekti/Red)