Dilema Gadi, Penjual Es Keliling Untuk Ikuti Himbauan Pemerintah dan Cukupi Kebutuhan Keluarga

Iklan Semua Halaman

Dilema Gadi, Penjual Es Keliling Untuk Ikuti Himbauan Pemerintah dan Cukupi Kebutuhan Keluarga

Thursday, April 9, 2020
Gadi, seorang penjual es tung - tung keliling yang merasakan penurunan omset usaha di masa pandemi Covid-19 di Kecamatan Klampok, Kabupaten Banjarnegara. (Foto: Dok. pribadi/Iwan)


Banjarnegara, beritaglobal.net - Pandemi virus Corona atau Covid-19 berdampak besar terhadap perekonomian masyarakat disegala sektor termasuk, termasuk para pekerja harian lepas ataupun pelaku usaha mikro, kecil, menengah. Pasalnya, dampak pandemi Covid-19, telah menggerus sebagian dan bahkan keseluruhan penghasilan mereka dari waktu sebelum pandemi Covid-19, menyebar di Indonesia.

Adalah Gadi (45), warga Klampok, Kabupaten Banjarnegara, yang mencari nafkah sebagai penjual es tung – tung (es puter-red) keliling, salah satu pelaku usaha kecil yang terimbas penyebaran Covid-19. Untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari – hari keluarganya, keuntungan Rp 50 ribu hingga Rp 60 ribu per hari pun, kini berasa sulit ia dapatkan.

“Sebelum pandemi Corona sehari bisa mendapatkan keuntungan dari jualan es tung - tung keliling,  antara Rp 50 ribu sampai Rp 60 ribu mas. Uang segitu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari –hari,” ungkap bapak 3 orang anak ini kepada beritaglobal.net, di salah satu desa di Kecamatan Klampok, Kabupaten Banjarnegara, Kamis (09/04/2020).

Gadi adalah satu dari sekian banyak pedagang keliling yang harus rela kehilangan pelanggan, dan juga harus berjuang dalam memenuhi kebutuhan keluarganya dimasa upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

Menurutnya, pembeli mulai berkurang drastis sejak awal bulan Maret 2020, saat pemberlakuan kebijakan sekolah – sekolah untuk menerapkan pembelajaran mandiri bagi siswa – siswinya. Namun demikian, Gadi tidak patah arang untuk tetap menjalankan roda usahanya, dengan tetap mengikuti himbauan pemerintah tentang menjaga jarak sosial.

“Sepinya pembeli mulai dirasakan dari awal bulan Maret 2020 ketika sekolah diliburkan, namun saya tak gentar dan tetap jualan dikampung – kamapung. Kalau berhenti mau makan apa,” imbuhnya.

Saat ini, dirinya hanya bisa pasrah dan berdoa agar semua ini (pandemi Covid-19) cepat berlalu, karena usahanya sering kali tidak membuahkan hasil dengan tidak adanya aktivitas di sekolah – sekolah, tempat wisata dan adanya pelarangan masuk dengan didirikannya portal – portal di beberapa desa yang menjadi wilayah jualannya dan juga membuatnya menyadari betapa seriusnya penyebaran Covid-19.

“Namun seiring semakin merebaknya wabah virus Corona dia tak ada pilihan selain berhenti jualan, selain sekolah kini tempat wisata juga banyak yang tutup gang masuk kampung juga banyak diportal terlebih sepanduk bertuliskan bank plecit , sales, pengamen, pedangang keliling dilarang masuk. Ini berarti penyebaran Corona sangat berbahaya,” pungkasnya. (Iwan Setiawan)