Industri Rumahan Tetap Bertahan Tanpa Sentuhan Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19 -->

code ads


Industri Rumahan Tetap Bertahan Tanpa Sentuhan Pemerintah di Tengah Pandemi Covid-19

Sunday, April 19, 2020
Sulastri dan Suparmin, pelaku UMKM di Dusun Kalangan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, menunjukkan kerupuk produksi mereka. (Foto: Dok. istimewa/ASB)

Ungaran, beritaglobal.net - Industri kecil dan menengah memiliki peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi secara menyeluruh. Utamanya aspek kesempatan kerja, pemerataan pendapatan, pembangunan ekonomi pedesaan yang dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat bawah.

Untuk itu perlu adanya dorongan dari pemerintah dalam mengembangkan industri rumahan, permodalan dan pelatihan dalam peningkatan kualitas produk dan sistem pemasaran sangat diperlukan sehingga industri rumahan akan bertahan dan berkembang. Hal tersebut belum dirasakan oleh pelaku UMKM di Dusun Kalangan, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang.

Dituturkan oleh pasangan suami istri yang menggeluti usaha pembuatan kerupuk Suparmin dan istrinya Sulastri (45), warga Dusun Kalangan RT 02 RW 05, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan, Kabupaten Semarang, kepada beritaglobal.net, belum lama ini.

"Niat awal membangun usaha ini adalah bermula dari salah satu famili kami di Temanggung, telah mengembangkan usaha pembuatan kerupuk," ungkapnya.

Dirinya beserta Suparmin, suaminya, diminta untuk membantu memproduksi kerupuk yang telah banyak konsumennya.

"Karena dianggap sudah bisa memproduksi kerupuk sendiri, kami disarankan untuk membuka cabang," imbuh Sulastri.

Sementara itu, menambahkan apa yang dijelaskan istrinya, Suparmin menyampaikan, "Usaha yang kami jalani memang belum lama, di awal tahun 2020 usaha yang melibatkan 4 orang tenaga kerja menjadi 6 orang, karena ada saya dan istri," tuturnya.

Adapun kapasitas produksi yang mampu dihasilkan oleh pasangan suami istri ini adalah 700 hingga 1000 bungkus kerupuk dengan wadah kantong plastik berisi sekitar 2 liter.

Terkait dengan omset, Sulastri menyampaikan, "Jelas ada untungnya setelah dikurangi biaya produksi, walaupun belum banyak karena kemampuan produksi tergantung modal," tambahnya.
Selain kendala permodalan, cuaca yang saat ini cepat berubah menjadikannya harus berfikir kreatif dalam menyiapkan adonan yang siap dipotong agar tidak pecah dan lengket.

"Kesulitan pasokan gas elpiji serta tingginya harga bahan baku, ditambah adanya wabah Corona ini menambah kompleks permasalahan yang harus kami hadapi. Sementara itu, kami harus memikirkan nasib 5 orang tenaga kerja disini," tutupnya.

Produsen Wingko Babat

Selain kerupuk, di Dusun Kalangan juga masih ada jenis usaha makanan lain, yaitu Wingko Babat. Tak jauh beda yang dituturkan oleh Sulastri, Sumiati (60) pengusaha Wingko Babat yang sudah ditekuni sejak tahun 1995, menyampaikan kelangkaan dan tingginya harga bahan baku menjadikan tantangan tersendiri di usaha pembuat makanan dan minuman.

Proses pemanggangan wingko babat di dapur Sumiyati di Dusun Kalangan RT 01 RW 05, Desa Sukoharjo, Kecamatan Pabelan. (Foto: Dok. istimewa/ASB)
"Kendala yang sering terjadi, langkanya bahan baku seperti beras ketan, kelapa, dan tingginya harga gula yang dulu Rp 12 ribu per kilogram, saat ini ditambah adanya penyebaran Covid-19, harga gula menjadi Rp18 ribu per kilogram, tentunya sangat mempengaruhi proses produksi," ungkapnya.

Menurut Sumiyati, kalau kira - kira dihitung rugi, dirinya lebih baik tidak produksi, karena dalam menjalani usaha rumahab harus teliti dalam perhitungan biaya produksi.

Pangsa Pasar dan Perijinan

Produk dari hasil usaha rumahan di Dusun Kalangan, meski tanpa sentuhan bantuan pembinaan dari pemerintah setempat, dengan swadaya telah mampu merambah pangsa pasar di sebagian wilayah Kota Salatiga, Kabupaten Boyolali, dan Kabupaten Semarang.

Namun demikian, mereka tidak menutup kemungkinan untuk menerima program pendampingan intensif dari pemerintah maupun swasta untuk lebih mengembangkan kualitas produk, kemasan dan strategi penjualan. Karena menurut mereka, bisa memberikan lapangan pekerjaan pada tetangga kiri kanan akan lebih bermanfaat dan menjadikan kepuasan tersendiri untuk bisa membantu sesama.

Baik Sulastri, Sumiyati dan pelaku industri makanan rumahan di Dusun Kalangan, berharap pemerintah desa dapat memfasilitasi proses perijinan dan mungkin akses permodalan yang berkelanjutan. (Suryanto)