Berawal Dari Terdampak Krisis Ekonomi 1998, Saringun Kini Raih Omset Puluhan Juta Per Bulan Dari Budidaya Ikan Hias -->

code ads


Berawal Dari Terdampak Krisis Ekonomi 1998, Saringun Kini Raih Omset Puluhan Juta Per Bulan Dari Budidaya Ikan Hias

Saturday, June 6, 2020
Saringun (40), pembudidaya ikan maskoki dari Dusun Plemahan RT 04 RW 02, Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. (Foto: dok. istimewa/Iwan)

Purbalingga, beritaglobal.net - Berawal niatnya merubah nasib dengan merantau ke Ibukota Jakarta di pertengahan tahun 1990 lalu, Saringun muda dari Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga, menjadi tahu tentang seluk beluk ikan hias dari sebuah toko ikan hias di bilangan Jakarta Barat.

Saringun, kala itu hanya sebagai pesuruh di toko tersebut, yang tugas pokoknya adalah sebagai tukang bersih - bersih aquarium display di toko ikan hias boss nya.

"Waktu itu, saya hanya berniat merubah peruntungan, karena waktu itu seperti tidak ada perubahan nasib dengan hanya tinggal di desa," ungkap Saringun yang kini telah berusia 40 tahun, saat ditemui beritaglobal.net di kediamannya di Dusun Plemahan RT 04 RW 02, Desa Majasari, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga.

Siapa sangka, niat mulia Saringun berubah saat krisis ekonomi global melanda di medio tahun 1997 hingga tahun 1998. Kondisi ekonomi yang tidak menentu, dan meletusnya kerusuhan 1998 yang kala itu berujung pada tumbangnya rezim Orde Baru, memaksa Saringun muda menerima kenyataan harus kembali ke kampung halaman tanpa mendapatkan apa yang dicitakannya.

"Ya waktu itu, saya sudah sempat belajar bagaimana memelihara ikan hias. Dari tugas sehari - hari saya di toko ikan hias juragan saya, waktu itu," ungkapnya dengan tatapan mata menerawang dan mencoba mengingat kembali kenangan pahit yang pernah dialaminya.

Dalam kondisi bingung, saat menghadapi kenyataan kehilangan pekerjaannya, dirinya berusaha memutar otak untuk bisa lepas dari keterpurukan. Hingga dirinya memutuskan untuk mencoba memelihara ikan hias dari bekal pengalamannya saat masih bekerja.

"Saya waktu habis pulang dari Jakarta, masih bingung mau apa? Selang beberapa waktu, saya putuskan untuk mencoba peruntungan mengembangkan ikan hias sendiri," katanya.

"Tapi ya itu, mentalitas sebagai enterpreanure memang harus diuji dengan berbagai masalah. Diawal usaha saya, bisa memijahkan ikan dengan baik. Tapi jejaring pasar saya belum punya, antara kebutuhan hidup dan pengembangan usaha, tidak seimbang, alias besar pasak dari pada tiang," kisahnya.

Usaha pertamanya belum berjalan dengan baik, dimana Saringun menemui kesulitan memasarkan ikan hias hasil budidayanya. Kondisi ini, memaksanya kembali bekerja di Jakarta di kisaran awal tahun 2000 hingga 2007.

Dirinya tidak mau lepas dari dunia ikan hias, dengan kembali menghubungi mantan boss nya dahulu, yang diketahuinya masih menjalankan usaha toko ikan hias.

"Saya di awal tahub 2000, mencoba menghubungi mantan boss saya, beliau masih mau terima saya bekerja. Namun kali ini, saya diberi kepercayaan mengembangkan ikan hias jenis ikan Koki," paparnya.

Suami dari Mugi Primiatin yang dinikahinya 12 tahun lalu dan ayah dari Luthfiana Cahya Wulandari (10) dan M. Titis Adiasta (3), ini mempelajari betul seluk beluk membudidayakan ikan Mas Koki yang dalam bahasa latin disebut Carrasius Auratus dengan ciri khas tubuhnya membulat.

"Saya pelajari pembudidayaan ikan maskoki dan wilayah pangsa pasar serta segmen pasarnya. Dan ditahun 2007, saya meminta ijin boss saya untuk mencoba mengembangkan ikan maskoki di desa saya ini. Saat itu, boss saya mendukung apa yang akan saya lerjakan, dengan membantu jejaring pasar yang dimilikinya," ujar Saringun.

"Bossku waktu itu, memahami betul bahwa pangsa pasar sangatlah penting. Saya juga suka mensuplai ikan saya ini ke boss saya di Jakarta," imbuhnya.

Ikan maskoki, dipilihnya karena dari apa yang pernah dilakukannya sewaktu memelihara ikan hias di tempat dia bekerja, jenis ikan hias ini yang paling mudah pengembangannya dengan harga yang masih terjangkau serta disenangi oleh anak - anak.

"Dari modal sekitar Rp 1 juta, di awal saya memijahkan dengan kolam sederhana, saat ini omset penjualan ikan maskoki ini sudah bisa menjual lebih kurang 30 ribuan ekor ikan maskoki perbulannya," sebut Saringun yang enggan menyebut omset usahanya.

Namun demikian, Saringun memberikan penjelasan singkat bila ada orang yang berminat untuk membudidayakan ikan maskoki, untuk sekedar hobi ataupun untuk alternatif usaha sampingan.

Modal Awal Budidaya

"Begini, dengan modal bibit siap telor 2 ekor dengan kisaran harga per ekor Rp 200 ribu. Dipelihara selama 3 bulan bisa dapat berkembang menjadi sekitar 2 ribu ekor ikan maskoki," ujarnya.

"Modal pakan selama 3 bulan, sekitar Rp 800 ribu, dari situ, kita bisa mendapatkan potensi pendapatan sekitar Rp 3 juta an," imbuhnya.

Bila ada masyarakat di Kabupaten Purbalingga berminat untuk mencoba usaha budidaya ikan maskoki, Pokdakan Minasari Hias, kami siap untuk memberikan pendampingan, kata Saringun.

Dirinya telah merasakan betul hasil dari pengembangan pembudidayaan ikan air tawar yang masih bisa bertahan di saat krisis ekonomi bahkan disaat pandemi saat ini.

Bersama anggota Pokdakan Minasari Hias Desa Majasari, saat ini bukan hanya membudidayakan ikan maskoki, menurutnya ikan Cupang, dan jenis ikan hias lainnya tidak luput dari pengembangan mina (tumpangsari pertanian perikanan-red), ikan hias Desa Majasari.

Dukungan Penuh Pemdes Majasari

Apa yang telah dijalankan dan dikembangkan oleh Saringun dan anggota Pokdakan Minasari Hias, mendapat dukungan sepenuhnya dari Pemerintah Desa Majasari dan Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Purbalingga.

Basir Setiono (47) Kades Majasari, Kecamatan Bukateja, Kabupaten Purbalingga. (Foto: Dok. istimewa/Iwan)

Hal ini diungkapkan oleh Kepala Desa Majasari Basir Setiono (47), saat dikonfirmasi beritaglobal.net secara terpisah, belum lama ini. Menurut Basir, selain sektor pertanian, pembudidayaan ikan hias Pokdakan Minasari Hias, menjadi perhatian khusus oleh Pemdes Majasari.

"Bila melihat dari cakupan Pokdakan Minasari Hias, kami selaku Pemdes, sangat mendukung, karena itu adalah sumber daya yang kami miliki di Desa Majasari," ungkap Basir.

"Semua upaya warga untuk meningkatkan taraf hidupnya dari pengembangan potensi desa, kami dukung. Kami selaku pemdes, juga mempunyai target tertentu kepada Pokdakan Minasari Hias, untuk mengembangkan budidaya ikan hias dari pembenihan, pembesaran dan segi pemasarannya," tambah Basir.

Pokdakan Minasari Hias, dalam penilaian Basir, sudah cukup dikatakan sebagai sektor usaha potensial. Ini dilihat dari kemampuan anggota Pokdakan untuk dapat memproduksi ikan hias hingga ke proses pemasarannya.

"Kendala - kendala terkait permodalan, dan ketersediaan lahan, pemdes sepenuhnya mendukung dan membantu mengatasi permasalahan yang dialami oleh anggota Pokdakan maupun kelompok usaha yang lain. Karena, ini terbukti mampu mengentaskan taraf ekonomi masyarakat secara bertahap dan mandiri," paparnya.

"Target Pemdes, dengan dukungan dari dinas terkait, BUMDes, dan semua elemen masyarakat, kami menargetkan Desa Majasari memiliki pasar ikan hias yang dapat menjadi acuan pengembangan budidaya ikan hias di Kabupaten Purbalingga khususnya dan Provinsi Jawa Tengah, pada umumnya," tandas Basir Setiono. (Iwan Setiawan)