Harga Rokok Melonjak Masyarakat Beralih Ngelinting Dewe (TingWe) -->

code ads


Harga Rokok Melonjak Masyarakat Beralih Ngelinting Dewe (TingWe)

Monday, July 27, 2020
Racikan rokok tingwe atau rokok lintingan. (Foto: Dok. istimewa/IS)

PURBALINGGA, Beritaglobal.Net - Akibatnya mahalnya harga rokok di zaman sekarang,membuat masyarakat berburu rokok murah meskipun tampa label pun tetap di cari. Bagi perokok hal tersebut tentu ingin nyari irit yang terpenting sama - sama keluar asapnya.

Zaman sudah serba modern,banyak Industri rokok bermunculan dalam persaingan bisnis, legalitas cukai pun tertera dalam bungkusnya,menunjukan kalau rokok tersebut tidak ilegal.

Sehingga menarik masyarakat untuk membelinya,berapapun harga tidak menjadi persoalan, karena seolah sudah menjadi kebutuhan pokok  bagi  kaum laki-laki maupun perempuan.
Akibat mahalnya harga rokok  perbungkusnya, dengan bandrol  Harga Rp 15.000,- hingga Rp 30.000,- keatas, fenomena pecinta rokok kini muncul kembali.

Tingwe (Kliting Dewe) bahasa trendnya dalam  bahasa jawa, jika di artikan adalah membuat rokok racikan sendiri yang terdiri dari tembakau dan cengkeh, lalu kemudian dengan  menggunakan alat manual  untuk melintingnya,yang hanya terbuat dari kayu dan plastik mika tipis, kini semakin di gemari di kalangan masyarakat.

Tingwe kini hadir kembali dan menjadi fenomena  seperti era 70 an.  Budaya melinting rokok sendiri bagi sudah bukan lagi hal tabu, karena di kalangan pemuda sekarang banyak yang  ikut maramaikan tingwe di jagad maya, karena  menurut mereka melambungnya harga rokok  akibat kebijakan cukai sehingga banyak yang beralih ke tingwe

Di sejumlah Wilayah seperti Kabupaten Purbalingga misalnya, tim  beritaglobal.net secara tidak sengaja melihat  tiga pemuda  yang asyik melinting tembakau yang dicampur dengan cengkeh di sebuah angringan , saat ditanya bagaimana menakar campuran keduanya warga yang bernama imeng 20th warga purbalingga menjelaskan sesuai selera.

" Karena rokok mahal saja ,saya pindah ke tingwe, karena ini sebagai solusi dari naiknya harga rokok, apalagi saya pecandu rokok sejak sekolah SMP ," jelas imeng ,sayangnya wajahnya tidak mau di foto, Minggu (26/7/2020) 
Jika melihat fenomena munculnya kembali tingwe tentu hal ini  telah menepis berbagai anggapan yang melekat pada tingwe, karena cara ini dianggap lebih murah,hemat biaya  jika sama-sama intinya  mengisap rokok.

Hadirnya tingwe di era modern seperti sekarang ini, jika di lihat melalui sudut pandang yang real tentu sangat positif,karena membuka  peluang usaha baru, yang biasanya pada mencari rokok yang sudah jadi ,kini para penjual tembakau dan cengkeh eceran,barang tentu di buru pecinta tingwe.

Dikutip  dari komunitaskretek.or.id, disitu juga dijelaskan kalau saat ini
media sosial pun dari berbagai kalangan  ikut meramaikan tingwe seperti di  instagram misalnya,  hanya dengan mengetikkan katakunci #tingwe dan #tembakau langsung  akan banyak akun  yang menawarkan berbagai  tembakau dari banyak daerah dengan berbagai rasa mulai dari rasa apek hingga rasa rokok terkenal.

Bayangkan, kalau biasanya kita membeli rokok sebungkus, katakanlah Rp 20,000 dimana per bungkusnya berisi 12  batang. Jika dibandingkan dengan membeli tembakau yang harga per ons-nya tidak lebih dari Rp 15.000, sudah  bisa membuat lebih dari 50 lintingan rokok.

Tidak hanya tembakau saja yang diburu,seperti cengkeh sebagai bahan campuran,gabus,sigaret dan alat pelindungnya pun sekarang mulai dicari para pecinta tingwe. iwan s