Pengrajin Serabut Kelapa Ini, Aplikasikan Inovasi Media Tanam Ramah Lingkungan Dari Limbah Produksi Coco Bristle dan Cocopeat

code ads


Pengrajin Serabut Kelapa Ini, Aplikasikan Inovasi Media Tanam Ramah Lingkungan Dari Limbah Produksi Coco Bristle dan Cocopeat

Friday, July 3, 2020
Beraneka bentuk pot tanaman hias dari limbah produksi coco bristle dan cocopeat karya TN Muzakir, warga Dusun Pingit Kramat, Desa Pingit, Kecamatan Banjarnegara. (Foto: Dok. istimewa/IS)

BANJARNEGARA, Beritaglobal.Net - Ibarat kata pepatah, dimana ada kemauan, disitu ada jalan. Pedoman pepatah inilah yang mendorong TN Muzakir (48), warga Dusun Pingit Kramat, Desa Pingit, Kecamatan Banjarnegara, mengeksplorasi serabut kelapa yang sering kali dibuang, menjadi sebuah berkah tersendiri untuk keluarganya.

Saat dikonfirmasi beritaglobal.net, Kamis (02/07/2020), dikediamannya, TN Muzakir atau yang lebih akrab disapa Pak TN oleh warga sekitar, mengembangkan serabut kepala menjadi kerajinan tangan yang menawan dan tentunya menjadikan penghasilan bagi dirinya dan masyarakat sekitar.

"Saya mengolah serabut kelapa menjadi 3 produk, coco bristle, cocofiber dan cocopeat," ungkapnya ramah.

Memanfaatkan potensi wilayah Kabupaten Banjarnegara yang memiliki sumber daya alam berupa ketersediaan buah kelapa yang melimpah, Pak TN memulai berinovasi mengolah serabut kelapa menjadi produk berdaya guna di tahun 2012.

"Saya dulu merantau ke Irian Jaya (Papua-red) jadi tukang kayu lebih kurang 5 tahun, dan saat kembali ke kampung halaman, saya melihat banyak potensi alam yang belum dimaksimalkan. Padahal, dinegara luar, media tanam dari serabut kelapa sudah menjadi primadona," ucapnya.

Dijelaskannya, coco bristle adalah sari terbaik kulit kelapa digunakan untuk pembuatan sapu lantai. Sedang cocopeat adalah sarana media tanam tumbuhan, sementara cocofiber adalah implementasi lain dari coco bristle yang digunakan untuk kerajinan pot tanaman.

"Kalau untuk coco bristle, saya bisa menjual kesalah satu pengrajin sapu di daerah Cilacap. Setiap bulan, bisa setor antara 5 ribu sampai 7 ribu bahan sapu.  Kalau untuk cocopeat, saya biasa jual ke daerah Kabupaten Wonosobo, Kabupaten Banjarnegara dan sekitarnya  per karung ukuran 25 Kg, saya jual seharga Rp 15 ribu. Cocopeat, saya bisa pasok perbulannya bisa mencapai sekitar 300 an karung. Dan untuk cocofiber ini masih produk baru saya, hanya jual dengan online saja dan Alhamdulillah, respon terhadap cocofiber bikinan saya dan warga sekitar sangat luar biasa bahkan kemaren dapat pesanan ke Kalimantan 200 pak," terangnya.

Usaha yang dijalaninya ini, awalnya tidak ada orang yang melirik, karena limbah atau sampah serabut kelapa hanya dijadikan bahan kayu bakar.

"Saat membakar serabut kelapa inilah, saya berfikir, bagaimana caranya untuk mengolahnya menjadi sebuah obyek penghasil uang dan membuka lapangan pekerjaan untuk warga di kampung saya, selain untuk sapu dan bahan meubel," kisah TN Muzakir.

Dari pemikiran inilah, akhirnya dirinya memberanikan untuk melakukan uji coba membuat pot.

"Awalnya hanya buat 5 buah pot, trus dijual di Facebook oleh anak saya dan laku. Dari situlah saya putuskan untuk memproduksi terus sampai sekarang. Setelah pasar terbuka, masyarakat Pingit saya ajari untuk membuatnya," ungkap bapak dari tiga anak ini.

Dukungan Pemdes Pingit

Anak polah bopo kepradah (anak berulah, ayah menanggung akibatnya-pepatah jawa), dirasakan oleh Kepala Desa Pingit Joko Nurah Yono (49). Dirinya merespon positif apa yang dikerjakan warganya.

"Saya sangat gembira sekali, pak TN bisa mengurangi angka pengangguran di Desa Pingit dan sekitarnya dengan inovasinya membuat sapu, media tanam, dan bisa memanfaatkan limbahnya untuk pembuatan pot," ungkapnya saat dikonfirmasi beritaglobal.net secara terpisah.

Sebagai pamong, dirinya berharap, usaha yang dijalani oleh TN Muzakir dapat semakin maju, selain usaha di bidang meubelernya dan juga usaha pengolahan kulit kelapa.

"Kami selaku Pemerintah Desa Pingit, akan membantu dari BUMDes, kami akan menjadikan pot bapak TN menjadi salah satu ciri khas (icon-red) di Desa Pingit," ujar Joko.

Ungkapan senada juga dilontarkan oleh warga setempat, Samsul Hidayat (30) yang juga bekerja di rumah produksi TN Muzakir.

"Setelah pak TN membuat inovasi pembuatan pot, saya dan keluarga ikut membuatnya di rumah dan Alhamdulillah, saya beserta keluarga bisa membikin pot perhari antara 15 sampai 20 buah. Harga pot per buahnya Rp 4 ribu, setidaknya untuk menambah kebutuhan rumah tangga, bisa membantu, dan saya tidak perlu lagi merantau ke Jakarta," pungkasnya. (Iwan S)