Tepis Anggapan Petani Sebagai Profesi Rendah, Anggi Bitho Ceritakan Kisah Suksesnya Kembangkan Hidroponik -->

code ads

Tepis Anggapan Petani Sebagai Profesi Rendah, Anggi Bitho Ceritakan Kisah Suksesnya Kembangkan Hidroponik

Tuesday, August 18, 2020
Anggi Bitho, petani modern asal Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, saat panen selada air dari kebun hidroponik miliknya. (Foto: Dok. koleksi pribadi/AB) 

KARANGANYAR, Beritaglobal.Net - Bekerja di perusahaan swasta nasional dengan jenjang karier yang bagus, tidak membuat Anggi Bitho (31) berpuas diri. Baginya, penyaluran hobi dari bekal ilmu teknologi pertanian di Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Surakarta, mendorongnya keluar dari perusahaan perkebunan di Pekanbaru, Riau pada tahun 2018 silam.

Semasa kecil, diceritakan Anggi bahwa aktivitas pertanian sudah menjadi kesehariannya di Ngringo, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar. Dimana orang tua Anggi adalah petani tanaman hias jenis Anthurium.

"Dari kecil memang suka bercocok tanam, alias berangkat dari hobi, kemudian lanjut sekolah S1 Teknologi Hasil Pertanian UNS," jelas Anggi.

"Setelah resign dari perusahaan perkebunan di Pekanbaru di tahun 2018 silam, kemudian pada tanggal 18 Agustus 2018, kebun hidroponik saya resmikan," imbuhnya.

Selain dari hobi dan latar belakang pendidikan, dirinya ingin membuktikan ke khalayak ramai bahwa bertani itu keren, bertani itu asik. Dan bertani itu bisa hasilkan banyak income.

"Banyak orang beranggapan pertanian itu kerja capek - capek, panas - panas, hasil tidak sesuai. Dan bertani itu kotor - kotor. Dengan sentuhan teknologi hidroponik, anggapan masyarakat tentang dunia tani bisa saya bantah dengan bukti - bukti yang ada hingga saat ini," ungkapnya.

Hasil suksesnya bukan tanpa kendala, pada masa - masa awal dirinya memulai bertani dengan sistem hidroponik, terdapat sejumlah permasalahan dari berlimpahnya hasil panen yang belum memiliki pangsa pasar hingga permasalahan modal kerja dan nutrisi yang tepat untuk tanaman.

"Setiap usaha pasti ada kendala. Tapi kendala tidak menyurutkan semangat bertani. Semisal kendala overload komoditi. Namun kendala itu bisa diatasi dengan kita berbagi sayur kepada orang yang lebih membutuhkan. Dengan berbagi malah semakin meluaskan pintu rejeki. Jadi duka menjadi suka berbagi," paparnya.

Permasalahan Modal

"Banyak yang beranggapan hidroponik itu mahal. Karena banyak biaya yang dikeluarkan di awal pembuatan sistem instalasi. Namun dengan adanya inovasi dan kreativitas kita bisa membuat instalasi yang lebih sederhana, tapi tetap bisa menghasilkan komoditi yang bagus," ujar Anggi yang juga menjabat sebagai Ketua Komunitas Hidroponik Soloraya (Kohisora).

Selebihnya, Anggi harus berfikir keras untuk menyesuaikan nutrisi yang tepat pada rangkaian sistem hidroponiknya.

"Kendala berikutnya bagi saya selaku formulator nutrisi sekaligus praktisi ialah dalam uji coba. Kita melakukan riset hingga 2 tahun untuk menentukan formula nutrisi. Dan hasilnya hingga kini formula nutrisi kita pakai sendiri dalam kebun inti dan kebun - kebun mitra binaan," imbuh Anggi.

Keuntungan Bertani Hidroponik

Dirinya menyebut beberapa keuntungan bertani dengan sistem hidroponik diluar kendala yang harus dihadapi. "Dengan hidroponik kita bisa menyulap tempat kumuh, tempat tak tertata berubah menjadi tempat dengan daya guna lebih tinggi. Dan bisa ditata dengan sangat rapi. Menambah nilai estetika. Sehat dikonsumsi bagi keluarga. Jika dijual belikan menghasilkan income," jelasnya.

Dengan menguasai hidroponik kita bisa menularkan ilmu hidroponik ke orang lain sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat. Saat ini banyak orang belum mengenal dan paham akan budidaya ini.

"Hidroponik itu mudah jika kita langsung terjun di dalamnya. Tapi hidroponik akan menjadi sulit apabila terlalu banyak berencana tapi tidak segera take action (mengambil langkah-red)," urai Anggi.

Pangsa Pasar

Dengan mengembangkan pola kemitraan, Anggi bersama dengan komunitas hidroponik Soloraya, menyasar pasar resto dengan jaringan reseller, resto dan konsumen rumah tangga.

"Pasar kita bangun jaringan reseller. Resto, dan end user. Kita tidak supplai ke supermarket. Karena, menurut kami supermarket akan kalah dengan model online," ujarnya.

Saat ditanyakan adakah program pendampingan untuk petani hidroponik pemula, Anggi menyampaikan bahwa mitra binaan komunitasnya secara otomatis akan mendapatkan pendampingan pertanian sistem hidroponik.

"Untuk mitra binaan kita ada. Jadi memang kita bina dari nol hingga hasilkan produk sesuai standar kita," urainya.

Adapun untuk model paket pelatihan, Anggi membuka kelas setiap bulannya.

"Untuk kami tiap bulan ada pelatihan gratis guna lebih mengenalkan ilmu hidroponik. Supaya semua bisa berhidroponik," jelasnya.

"Untuk paket instalasi tergntung skala. Skala hobi dirinya mematok harga mulai Rp 80 ribu hingga Rp 3 juta. Untuk skala produksi dimulai dari paket seharga Rp 4 juta ke atas. Terdiri dari media tanam, pupuk dan pendampingan hingga panen pertama," pungkasnya.

Anggi beserta komunitasnya, masih berfokus pada pengembangan Hidroponik di Soloraya. Namun demikian dirinya membuka juga peluang untuk pengembangan di luar wilayah Soloraya. (Agus/Indra)